Waspada, Child Grooming Bisa Berawal dari Game Online hingga Chat Pribadi

Wait 5 sec.

Waspada, Child Grooming Bisa Berawal dari Game Online hingga Chat Pribadi. Foto: Odua Images/ShutterstockKasus child grooming semakin perlu diwaspadai orang tua, terutama di era digital ketika anak makin mudah berinteraksi dengan banyak orang lewat media sosial, game online, hingga ruang chat pribadi.Masalahnya, pendekatan yang dilakukan pelaku sering kali terlihat biasa saja di awal. Anak bisa merasa sedang diperhatikan, ditemani, atau dianggap spesial, padahal itu bisa menjadi bagian dari proses manipulasi yang berbahaya.Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, menyebut bahwa child grooming memiliki beberapa bentuk yang perlu dipahami orang tua.3 Jenis Child Grooming yang Perlu DiwaspadaiDokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, dalam acara webinar IDAI, Selasa (31/3). Foto: dok. Tangkapan LayarMenurut dr. Ariani, secara umum child grooming dibagi menjadi tiga kategori.1. Online GroomingJenis pertama adalah online grooming, yang kerap terjadi melalui media sosial, game online, atau chat pribadi. Kasus ini sering tidak terlaporkan karena berlangsung diam-diam dan sulit terdeteksi sejak awal.“Pelaku menggunakan identitas palsu seringnya atau menyamar dengan foto dengan identitas orang lain dengan selebriti seperti itu,” kata dr. Ariani dalam webinar bersama IDAI, Selasa (31/3).2. Offline GroomingJenis kedua adalah offline grooming, yang justru sering melibatkan orang-orang terdekat anak. Pelaku bisa berasal dari lingkungan yang selama ini dianggap aman.Ilustrasi child grooming. Foto: Shutter Stock“Tetangga, keluarga, guru pelatih, orang-orang terdekat,” imbuhnya.Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa ancaman tidak selalu datang dari orang asing.3. Hybrid GroomingJenis ketiga adalah hybrid grooming, yaitu ketika pendekatan awal dilakukan secara online, lalu berlanjut ke pertemuan langsung secara offline.Misalnya, anak awalnya berkenalan lewat game atau media sosial, lalu diajak untuk bertemu secara langsung. Meski bentuknya berbeda, ketiganya sama-sama berbahaya dan dapat menimbulkan dampak serius pada anak.Bagaimana Modus Child Grooming di Media Sosial dan Internet?Ilustrasi main media sosial. Foto: Frame Stock Footage/ShutterstockSalah satu modus yang perlu diwaspadai orang tua adalah ketika anak tampak hanya sedang bermain game online, tetapi ternyata ada interaksi yang lebih jauh di baliknya.Dr. Ariani mencontohkan, orang tua bisa saja awalnya melihat anak hanya sedang bermain game seperti Roblox atau platform serupa. Namun, di dalam permainan itu, bisa ada fitur chat yang menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mendekati anak.“Ternyata ada yang memberikan perhatian lebih, jadi tempat curhat. Jadi meskipun game online ternyata di situ ada chatnya. Akhirnya mengajak anak itu ke chat pribadi atau platform yang tertutup,” tutur dr. Ariani.Ilustrasi orang tua dan anak main gadget. Foto: NaMong Productions92/Shutterstock“Jadi di room yang khusus yang tidak ada yang lain, kecuali mereka berdua. Ngasih hadiah berupa pulsa atau item game sebagai ikatan emosional. Berlanjut dengan tahapan-tahapan yang berikutnya,” sambungnya.Oleh karena itu, orang tua perlu mengajarkan anak untuk selalu melaporkan jika menerima hadiah dari seseorang, baik secara langsung maupun online.Orang tua perlu mengajarkan anak sejak dini tentang bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan mana yang tidak boleh disentuh. Selain itu, yang tak kalah penting untuk mengenalkan pada anak perbedaan antara rahasia dan privasi, agar mereka memahami bahwa tidak semua hal harus disimpan sendiri.