Ilustrasi dari kecerdasan artifisial (Dokumen Pribadi, 2026)Ada banyak tanda yang menunjukkan bahwa kearifan lokal perlahan mulai terkikis. Salah satu yang paling terasa adalah kesantunan—sesuatu yang dahulu begitu dijaga, diwariskan, dan menjadi identitas masyarakat Timur. Hari ini, perubahan itu tidak selalu tampak dalam bentuk yang besar dan mencolok, tetapi justru hadir dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.Teknologi dan arus informasi global memainkan peran penting dalam perubahan ini. Dunia yang kini tanpa sekat mempertemukan berbagai budaya dalam satu ruang yang sama, termasuk dalam ruang digital yang setiap hari kita huni. Namun, di balik kemudahan itu, ada konsekuensi: nilai-nilai lokal, termasuk tata krama dalam berbahasa, perlahan mengalami pergeseran, bahkan pelunturan.Fenomena ini dapat dengan mudah kita temukan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam komunikasi antara peserta didik dan guru di ruang virtual. Dalam grup percakapan, misalnya, tidak jarang kita menjumpai jawaban-jawaban singkat seperti, “oke Pak”, “oke Bu”, atau “oke sir”. Sekilas, tidak ada yang salah. Respons itu cepat, praktis, dan terasa wajar dalam budaya komunikasi digital.Namun, jika dicermati lebih dalam, ada sesuatu yang hilang di sana. Etiket yang dahulu menjadi jembatan antara yang muda dan yang lebih tua, antara murid dan guru, seakan tidak lagi diberlakukan. Relasi yang dulunya ditandai dengan penghormatan melalui bahasa, kini cenderung diratakan dalam gaya komunikasi yang seragam.Pertanyaannya, siapa yang menghapus etiket berbahasa ini? Tidak ada satu pihak pun yang bisa ditunjuk secara langsung. Zaman bergerak, kebiasaan berubah, dan tanpa disadari, nilai-nilai yang dulu dijaga dengan kesadaran kolektif perlahan memudar.Westernisasi GlobalJika ditelusuri lebih jauh, fenomena ini tidak lepas dari pengaruh apa yang bisa disebut sebagai westernisasi global. Yang saya maksud dengan westernisasi global bukan sekadar penyebaran budaya Barat dalam arti permukaan—seperti musik, film, atau gaya berpakaian. Lebih dari itu, westernisasi global menunjuk pada proses yang lebih halus namun mendalam: ketika cara berpikir, cara berelasi, dan sistem nilai yang lahir dari dunia Barat perlahan menjadi standar umum dalam kehidupan global.Proses ini sering kali berjalan tanpa disadari. Ia tidak datang sebagai paksaan, melainkan sebagai sesuatu yang terasa “normal”, “praktis”, dan “universal”. Dalam dunia yang semakin terhubung, nilai-nilai Barat—terutama yang menekankan kesetaraan, kecepatan, efisiensi, dan komunikasi langsung—menjadi bahasa bersama lintas budaya.Di satu sisi, nilai ini membawa banyak kebaikan. Misalnya, gagasan bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang setara adalah fondasi penting dalam hak asasi manusia. Namun, di sisi lain, ketika nilai ini diterapkan tanpa konteks budaya, ia dapat mengikis sistem nilai lokal yang sebenarnya memiliki kekayaan tersendiri.Berbeda dengan budaya Timur yang sangat memperhatikan hierarki, usia, dan relasi sosial dalam bahasa, budaya Barat cenderung menempatkan semua orang dalam posisi yang setara. Dalam bahasa Inggris, misalnya, kata “you” digunakan untuk semua orang—baik kepada orang tua, guru, teman sebaya, maupun yang lebih muda. Tidak ada perbedaan bentuk sapaan yang mencerminkan tingkat penghormatan secara linguistik.Kekhasan Budaya yang LunturDalam banyak budaya di Indonesia, termasuk Jawa, dikenal tingkatan bahasa yang sangat kaya—seperti penggunaan kata "kowe", "sampeyan" dan "panjenengan" untuk menerjemahkan "you" dalam Tata Krama sebagai bentuk penghormatan. Bahasa tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin nilai, penghormatan, dan kesadaran akan posisi diri dalam relasi sosial.Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut tidak selalu terpelihara dengan baik, terutama di ruang digital. Di beberapa daerah, tradisi ini mungkin masih dijaga, tetapi di banyak tempat lain, ia mulai longgar bahkan ditinggalkan.Mulai dari Cara KecilDari pengalaman pribadi sebagai seorang pendidik, saya menemukan fenomena ini secara langsung. Dalam satu momen, saya mendapati begitu mudahnya peserta didik merespons chatting-an pengumuman dari guru dengan “oke, Pak” atau “oke, Bu”. Dari situ, saya mencoba memberi teguran yang sederhana, bukan untuk menjauhkan relasi, tetapi justru untuk merawatnya. Begini saya menulis:Selamat malam anak-anak yang baik. Ada hal kecil yang perlu kita cermati bersama agar tidak menjadi kebiasaan. Dari budaya literasi seharusnya lahir juga budaya menulis yang baik. Kita perlu membiasakan hal-hal sederhana, sambil tetap memperhatikan nilai yang ada di baliknya, terlebih sebagai orang Indonesia yang menjunjung tinggi kesantunan. Dalam forum seperti grup chat ini, kita tetap perlu menjaga etika berbahasa. Ketika ada pengumuman, undangan, pembagian link bacaan, tugas, atau penyampaian dari guru maupun orang yang lebih tua, mohon untuk tidak menjawab dengan “oke”, “oke sir”, “oke bapak/ibu”, atau sejenisnya. Biasakanlah menjawab dengan ungkapan yang lebih santun, seperti “Baik, Bu”, “Baik, Pak”, atau “Siap, Bu/Pak”. Hal ini penting karena mencerminkan dua hal: pertama, sikap hormat kepada guru; dan kedua, penghargaan terhadap budaya kita, khususnya budaya ketimuran yang menjunjung tinggi kesopanan dalam berbahasa, termasuk dalam tulisan yang memiliki jejak digital.Respons mereka perlahan berubah. Dan di situlah harapan kecil itu muncul. Di titik ini, penting untuk membedakan antara etika dan etiket. Etika berbicara tentang nilai-nilai moral yang menjadi dasar suatu tindakan—ia bersifat lebih mendalam dan filosofis. Sementara itu, etiket adalah perwujudan konkret dari etika dalam kebiasaan sehari-hari. Etiket adalah wajah yang tampak dari nilai-nilai yang kita yakini.Karena itu, ketika etiket berubah atau bahkan hilang, sesungguhnya yang sedang tergerus bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga nilai yang melandasinya.Maka, tantangan kita hari ini bukan sekadar mengoreksi cara anak-anak menjawab pesan, tetapi menghadirkan kembali ruang-ruang pembelajaran yang memungkinkan mereka memahami makna di balik kesantunan itu. Bukan dengan cara yang kaku atau memaksa, tetapi dengan pendekatan yang tetap menjaga relasi yang hangat, personal, dan manusiawi antara yang lebih tua dan yang lebih muda.Sebab pada akhirnya, kesantunan bukan hanya soal kata-kata, tetapi tentang bagaimana kita memandang dan menghargai sesama.Dan mungkin, perubahan besar memang harus dimulai dari hal-hal kecil—termasuk dari cara kita membalas sebuah pesan dari seseorang yang lebih senior. (SP, 2026)