Gambar dibuat dengan bantuan AIAkhir-akhir ini, dunia media sosial kita dipenuhi oleh sebuah fenomena yang cukup menyentuh hati. Tidak hanya mengenai isi kontennya yang menunjukkan tindakan yang mengabaikan etika, tetapi juga pada komentar-komentar yang mengikuti. Kita menyaksikan video remaja yang berkumpul hingga larut malam di lingkungan warga, disertai dengan kebisingan dan serangkaian kata-kata kasar, atau konvoi malam takbiran yang lebih mirip dengan kerusuhan ketimbang perayaan spiritual. Yang mencengangkan, alih-alih menghadapi hukuman sosial, perilaku semacam ini malah dipertahankan dengan gigih oleh ribuan pengguna internet dengan argumen yang meragukan logika.Salah satu argumen yang sering muncul adalah pengakuan gangguan publik dengan sebutan "satpam gratis" atau "ngeronda". Ini jelas merupakan sebuah kesalahan pandangan. Peran seorang petugas keamanan adalah untuk memberikan ketenangan, bukan menciptakan kebisingan yang mengganggu hak istirahat masyarakat. Ketika kegaduhan itu dibenarkan dengan alasan "melindungi lingkungan", kita sedang melihat hilangnya rasa empati. Mereka lupa bahwa di balik dinding-dinding tempat tinggal yang mereka lewati, ada bayi yang baru saja terlelap, pekerja malam yang memerlukan istirahat, atau orang tua yang berjuang dengan sakitnya.Lebih jauh, serangan pribadi atau kritik ad hominem menjadi alat utama bagi mereka yang membela perilaku tersebut. Ungkapan seperti "nolep" (no life), "kurang bersosialisasi", atau "iri karena tahu dirinya tidak pernah berkumpul" digunakan untuk menenggelamkan kritik yang disampaikan dengan baik. Ini mencerminkan adanya masalah identitas. Para pendukung ini sebenarnya tidak mengenal orang yang ada dalam video itu, tetapi mereka merasa terdorong untuk membela karena memiliki gaya hidup yang mirip. Dengan membela pelanggar norma ini, mereka sesungguhnya sedang membela diri terkait tindakan buruk yang mereka lakukan di kehidupan nyata. Mereka khawatir bahwa jika norma-norma etika ditegakkan, kenyamanan mereka untuk bertindak sembarangan akan terancam.Fenomena konvoi di malam pamungkas Ramadan menambahkan panjang daftar ironi ini. Pada dasarnya, berakhirnya bulan suci seharusnya menjadi waktu untuk merenung dan merasakan kesedihan karena ditinggalkan bulan yang penuh berkah. Namun, kenyataannya di jalanan justru muncul euforia yang tidak pada tempatnya. Pakaian kasual, suara bising dari knalpot, dan pesta kembang api yang ditembakkan sembarangan menjadi pemandangan yang biasa. Argumen "karena masih muda" atau "tradisi tahunan" seakan menjadi izin untuk melanggar ketertiban publik. Mengatakan bahwa polisi sudah ada bukanlah indikasi bahwa perilaku tersebut benar; kehadiran petugas justru menunjukkan bahwa aktivitas itu berpotensi menimbulkan kerusuhan.Yang paling berbahaya adalah penggunaan bukti anekdot dalam argumen, seperti pernyataan, "Tetangga gue punya bayi aman-aman aja gak ada masalah tuh. " Mereka berusaha menyimpulkan keadaan jutaan individu berdasarkan satu contoh yang mendukung pandangan mereka. Ini merupakan bentuk egoisme yang parah yang disamarkan dengan rasa solidaritas kelompok yang palsu. Mereka terperangkap dalam ruang gema, di mana mereka hanya mau mendengarkan validasi dari sesama "pelaku" dan menolak untuk mengakui bahwa kebebasan seseorang bisa terbatasi oleh hak orang lain.Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa jumlah like atau dukungan di kolom komentar tidak pernah dapat dijadikan patokan sebuah kebenaran. Perilaku yang mengganggu ketertiban masyarakat tetaplah suatu kesalahan, tidak peduli sekuat apa pun teriakan para pendukungnya di media sosial. Diperlukan keberanian untuk tetap rasional dan sopan di tengah kecenderungan agresif netizen yang semakin menjauh dari nilai-nilai etika dasar manusia. Menjadi "menyenangkan" tidak harus berarti menjadi beban bagi orang lain.