Stop Meremehkan Proses: Curhat Guru SMK soal Kasus Amsal Sitepu

Wait 5 sec.

Ilustrasi dibuat menggunkan AIHalo, teman-teman kreatif yang budiman dan mungkin sedang pusing memikirkan deadline revisi klien yang minta tampilan mewah harga ramah. Kenalkan, saya ini seorang guru SMK. Ya, benar, salah satu dari sekian banyak orang sabar yang setiap hari berhadapan dengan remaja-remaja ajaib yang lebih sering lupa bawa kabel power kamera daripada lupa bawa powerbank buat mabar Mobile Legends.Saya mengajar di bidang Seni dan Ekonomi Kreatif. Sebuah bidang yang kalau di depan orang tua murid terdengar sangat mentereng, tapi di mata sebagian birokrat dan aparat, mungkin dianggap cuma sekadar "klik-klik tombol" atau "pindah-pindahin file".Nah, belakangan ini, hati saya rasanya lebih sesak daripada ruang praktik yang AC-nya mati saat diisi 36 siswa yang baru selesai olahraga. Penyebabnya apa lagi kalau bukan ramainya kasus Amsal Sitepu. Buat kalian yang mungkin kurang update karena terlalu sibuk scrolling TikTok, intinya ada keributan soal dugaan markup dan ini yang bikin saya gemas sampai ke ubun-ubun adanya narasi yang seolah mendiskon nilai sebuah proses kreatif.Katanya, biaya editing itu harusnya murah atau bahkan proses kreatif itu nilainya dianggap nol kalau tidak ada wujud fisiknya yang bisa dikilo atau diukur pakai meteran bangunan. Lha, dalah.Dunia Kreatif Bukan Jualan BatakoBegini ya, Bapak-Bapak auditor atau penegak hukum yang terhormat. Di sekolah, saya mengajari anak didik saya bahwa satu detik video yang kalian tonton sambil makan gorengan itu, lahir dari proses berdarah-darah. Ada teknik lighting agar wajah subjek tidak terlihat seperti korban begal. Ada komposisi agar mata penonton tidak juling. Dan yang paling mahal ada ide dan eksekusi editing yang menuntut ketelitian tingkat dewa.Eh, kok tiba-tiba di luar sana, ada narasi bahwa pekerjaan itu seolah-olah nggak ada harganya. Ini menyakitkan. Bayangkan, anak-anak SMK saya itu sudah akrab dengan yang namanya laptop panas, suara kipas yang mirip mesin pesawat tempur, sampai drama "file corrupted" sesaat sebelum deadline. Mereka belajar bahwa kreativitas itu aset, orisinalitas itu harga mati.Tapi kalau melihat kasus yang lagi viral ini, saya jadi ingin tanya buat apa saya teriak-teriak soal etika profesi di kelas kalau di industri nanti, jasa mereka hanya dihargai seharga paket data mingguan?Anak SMK: Tulang Punggung yang Sering Dianggap Anak BawangKita harus jujur, lulusan SMK Seni (Broadcasting, Film, DKV) itu sering kali cuma dianggap operator. Dianggap tukang angkat tripod, tukang gulung kabel, atau tukang pencet tombol record. Padahal, mereka ini tulang punggung produksi kreatif kita. Tanpa mereka, konten-konten keren yang kalian tonton itu cuma jadi tumpukan ide di atas kertas yang bau apek.Gara-gara kasus semacam Amsal Sitepu ini, saya jadi khawatir. Jika pemikiran bahwa proses kreatif itu murah atau editing itu cuma mindahin file ini terus dipelihara, maka lulusan kami hanya akan jadi buruh konten. Mereka akan dieksploitasi tenaganya, diperas idenya, tapi ketika bicara soal nilai ekonomi, mereka dipaksa tunduk pada standar harga pengadaan barang fisik.Memang susah sih menjelaskan ke orang yang biasa menghitung semen dan besi bahwa "rasa" dalam sebuah potongan gambar itu punya nilai rupiah yang tinggi. Menghitung jasa kreatif pakai standar pengadaan aspal itu sama lucunya dengan menyuruh ikan memanjat pohon kelapa. Nggak nyambung.Masa Depan yang Buram (Kecuali Kalau Pakai Lensa Mahal)Kalau kejadian-kejadian semacam ini dianggap biasa di mana biaya kreatif dianggap sebagai celah untuk main mata atau justru ditekan habis-habis sampai tak bernilai kita sebenarnya sedang menghancurkan masa depan ekonomi kreatif kita sendiri.Siswa saya sering bertanya, "Pak, nanti kalau saya kerja, gaji saya cukup nggak buat beli kamera sendiri?" Saya biasanya menjawab dengan optimis bahwa industri kreatif kita sedang tumbuh pesat. Tapi jujur, sekarang saya agak ragu. Jangan-jangan nanti mereka cuma jadi sekrup kecil dalam mesin industri yang tidak pernah menghargai hak intelektual mereka.Apa gunanya kita koar-koar soal "Indonesia Emas 2045" kalau cara pandang kita terhadap dunia kreatif masih sepele begini? Kita ingin anak muda kreatif, tapi sistem kita justru menggebuk mereka dengan standar-standar yang tidak manusiawi dan tidak masuk akal secara estetika maupun ekonomi.Pesan untuk Para "Suhu" dan Pengambil KebijakanUntuk para penegak hukum, auditor, atau siapa pun yang sedang membedah kasus ini Tolonglah, buka mata sedikit lebih lebar. Belajarlah menghargai ide sebagaimana kalian menghargai aset fisik. Sebuah video bukan cuma soal durasi, tapi soal bagaimana pesan itu sampai ke hati. Dan itu ada harganya. Jangan samakan pengadaan jasa kreatif dengan pengadaan alat tulis kantor.Dan untuk anak-anak didikku di SMK. Meskipun di luar sana dunianya sedang agak "ajaib", jangan patah arang. Tetaplah jaga integritas. Karena di dunia kreatif, karya yang bagus mungkin bisa dicuri, tapi isi kepala dan taste tidak akan pernah bisa di-markup atau dipalsukan. Integritas itu adalah mata uang tertinggi. Jika kalian jujur dengan karyamu, kalian akan tetap berdiri tegak, tak peduli berapa banyak orang yang mencoba meremehkan prosesmu.Kasus ini memang bikin geram, tapi anggap saja ini seperti proses rendering video yang sangat lama dan sering crash. Capek? Jelas. Tapi kita harus tetap menunggu sampai selesai, agar kita tahu hasilnya benar-benar layak untuk ditonton atau memang harus dibuang ke Recycle Bin sejarah.Salam kreatif, dari saya yang masih harus sabar menghadapi siswa yang izin ke toilet tapi ternyata malah jajan seblak di depan sekolah. Mari kita kawal terus harga diri industri kreatif kita!