Proses konversi BBG pada Toyota Avanza oleh Komogas di bengkel SuperMekanik. Foto: Dok. KomogasUpaya peralihan dari kendaraan berbasis bahan bakar fosil ke energi alternatif dinilai masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi biaya. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, langkah konversi kendaraan dianggap belum sepenuhnya menarik bagi masyarakat luas.Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, Tri Yuswidjajanto, mengungkapkan bahwa biaya konversi kendaraan masih relatif tinggi, khususnya untuk mobil listrik berbasis baterai.“Konversi motor ICE ke listrik sekitar Rp15 jutaan. Konversi mobil ke BBG sekitar Rp25-30 juta. Kalau mobil bensin ke BEV, baterainya yang mahal banget, bisa ratusan juta,” kata Tri kepada kumparan, Senin (30/3/2026).Proses konversi BBG pada Toyota Avanza oleh Komogas di bengkel SuperMekanik. Foto: Dok. KomogasMenurutnya, kondisi tersebut membuat minat masyarakat untuk beralih masih terbatas, apalagi di tengah tekanan ekonomi. Meski secara teknis kendaraan yang sudah dikonversi masih bisa dikembalikan ke sistem semula, ekosistem pendukungnya belum sepenuhnya siap.“Dalam kondisi ekonomi sulit sepertinya konversi kendaraan masih kurang menarik,” kata dia.Ia menambahkan, penggunaan bahan bakar gas (BBG) juga menghadapi tantangan dari sisi infrastruktur. Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) membutuhkan investasi besar, ditambah biaya operasional yang tidak kecil.Lubang pengisian BBG yang diletakkan di dalam ruang mesin. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan“Mobil yang sudah dikonversi bisa dikembalikan ke bensin atau diesel. Tapi tantangannya, membangun SPBG mahal dan biaya operasionalnya cukup tinggi,” ujarnya.Meski demikian, ia menilai opsi revitalisasi SPBG yang sudah ada bisa menjadi solusi sementara. Namun tetap diperlukan investasi tambahan, termasuk untuk pengolahan gas agar sesuai standar penggunaan kendaraan.“Mungkin bisa dengan revitalisasi SPBG yang ada, tapi tetap butuh biaya. Selain itu mesti ada treatment gasnya, terutama kadar air dan kondensat,” kata dia.Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki cadangan gas alam yang melimpah. Namun sebagian besar sudah terikat kontrak ekspor jangka panjang, sehingga pasokan dalam negeri menjadi terbatas.Suasana SPBG Ragunan Foto: Ela Nurlaela/kumparan“Gas alam kita banyak tapi sudah kadung dijual ke China dengan kontrak jangka panjang harga murah,” ujarnya.Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor LNG, salah satunya dari Qatar. Situasi ini semakin kompleks karena jalur distribusi global juga terdampak konflik geopolitik.Dengan berbagai tantangan tersebut, ia menilai transisi energi di sektor transportasi perlu dilakukan secara bertahap. Tidak hanya dari sisi teknologi kendaraan, tetapi juga kesiapan infrastruktur dan kebijakan agar lebih realistis serta tepat sasaran.