Bus Sekolah Mandek Berbulan-bulan, Pelajar Loa Tebu Jadi Korban

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, KUKAR - Sudah berbulan-bulan bus sekolah yang biasa melayani pelajar dari Kelurahan Loa Tebu, Kecamatan Tenggarong, tidak lagi beroperasi.  Kondisi ini membuat siswa SMP hingga SMA yang bersekolah di pusat kota Tenggarong harus mencari cara lain untuk bisa berangkat dan pulang sekolah. Padahal sebelumnya, bus tersebut menjadi andalan. Setiap pagi, pelajar diantar menuju sekolah, lalu dijemput kembali saat jam pulang. Kini, ketiadaan layanan itu mulai dirasakan sebagai beban tambahan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses transportasi pribadi. Kepala Dinas Perhubungan Kutai Kartanegara, Ahmad Junaidi, menjelaskan bahwa perubahan sistem pengelolaan menjadi salah satu faktor di balik kondisi ini.  Ia menyebutkan, pengelolaan bus sekolah yang sebelumnya berada di bawah Dinas Perhubungan kini telah dialihkan ke pemerintah kecamatan hingga desa atau kelurahan. “Pengalihan ini sebenarnya supaya pengelolaan lebih efektif, karena pemerintah kecamatan dan desa lebih dekat dengan masyarakat dan bisa mengawasi operasional secara langsung,” ujarnya. Ia juga menambahkan, sebelum proses penyerahan dilakukan sepenuhnya, biaya operasional bus masih ditanggung oleh pihaknya selama satu tahun. Setelah itu, tanggung jawab beralih ke pemerintah setempat. “Setelah diserahkan, operasional sepenuhnya menjadi tanggung jawab penerima aset, termasuk untuk pembiayaannya,” jelasnya. Dari sembilan unit bus sekolah yang ada, sebagian besar telah diserahkan ke wilayah masing-masing. Sementara dua unit lainnya masih dikelola oleh Dinas Perhubungan dan beroperasi di wilayah berbeda. Terkait tidak beroperasinya bus di Loa Tebu, Junaidi menduga hal tersebut berkaitan dengan kesiapan anggaran di tingkat kelurahan. “Kemungkinan memang belum siap dari sisi operasional. Bisa jadi anggarannya belum tersedia atau belum dimusyawarahkan,” katanya. Ia mengungkapkan, kebutuhan biaya operasional satu unit bus sekolah bisa mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta per tahun, tergantung jarak tempuh dan intensitas penggunaan. Biaya tersebut mencakup gaji sopir, kernet, serta bahan bakar. (*)