Direktur DSSA Daniel Cahya, Kamis (2/4/2026). Foto: DSSAPT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berencana menggelontorkan investasi senilai Rp 30-Rp 35 triliun untuk mengembangkan tujuh lokasi panas bumi (geothermal) dalam lima tahun ke depan. Langkah ini menjadi bagian dari ambisi perusahaan untuk menjadi pemain geothermal kelas dunia."Kami memiliki tujuh lokasi geothermal dengan total kapasitas terpasang 780 megawatt," kata Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya saat Media Gathering di Jakarta, Kamis (2/4).Secara rinci dia menjelaskan ketujuh lokasi tersebut tersebar di 3 titik di Jawa Barat, 1 di Jambi, 1 di Sumatera Barat, 1 di Sulawesi Tengah, dan 1 di Nusa Tenggara Timur (NTT).Sementara itu, Direktur DSSA, Daniel Cahya menegaskan bahwa investasi di sektor ini memiliki profil risiko yang terukur. Skema pengembalian modal pada proyek-proyek geothermal DSSA telah diproteksi menggunakan denominasi dolar AS, sehingga perusahaan terlindungi dari fluktuasi nilai tukar rupiah.Di sisi potensi pasar, Daniel menyebut Indonesia memiliki peluang yang setara, bahkan bisa melampaui Filipina, yang saat ini menjadi rumah bagi Energy Development Corporation (EDC), perusahaan geothermal terbesar kedua di dunia."Kami berharap bisa mengembangkan lokasi-lokasi ini dan bekerja sama jauh lebih besar ke depan," ujarnya.DSSA menargetkan posisi yang sebanding dengan EDC di tingkat global. Ambisi ini sejalan dengan agenda transisi energi pemerintah yang tengah mendorong phase-down pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dan memperbesar porsi energi terbarukan dalam bauran listrik nasional.Geothermal menjadi pilihan strategis mengingat posisi Indonesia di Cincin Api Pasifik yang kaya aktivitas vulkanik. Indonesia diperkirakan menyimpan sekitar 40 persen cadangan panas bumi dunia, namun baru sebagian kecil yang telah dimanfaatkan.Fokus pada Pengembangan EBT Jangka PanjangInvestor Relation DSSA, Andre Suryajaya di Jakarta, Kamis (2/4/2026). Foto: DSSAManajemen DSSA menegaskan bahwa sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis Perseroan dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan. Strategi ini diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.Langkah ini telah diimplementasikan melalui akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan.Dengan adopsi teknologi ini, Perseroan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon.DSSA secara bertahap terus memperkuat portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya pada sektor panas bumi dan tenaga surya, untuk menciptakan bauran energi yang lebih seimbang. Langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40 persen potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang.Komitmen ini diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK. Kendal serta pengembangan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, Perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di sejumlah wilayah strategis—mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah. Guna memperkuat kapabilitas teknis dan operasional, DSSA juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia yang merupakan anak usaha Energy Development Corporation (EDC).“Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang Perseroan. Sejalan dengan itu, kami juga terus memperkuat operational excellence melalui penerapan praktik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan—mulai dari peningkatan efisiensi, optimalisasi penggunaan energi dan sumber daya, digitalisasi operasional, hingga pengurangan emisi dan limbah secara terukur,” ujar Lokita Prasetya.