AI Mampu Menulis Berita, Namun Tak Mampu Merasa

Wait 5 sec.

Ilustrasi perbandingan antara AI dan jurnalis manusia dalam proses penulisan berita.Sumber: (Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI)).Era modern saat ini, banyak dari mahasiswa yang merasa terbantu oleh kecanggihannya teknologi, terlebih dengan hadirnya Artificial Intelligence (AI). Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi komputer yang sengaja dibuat untuk mensimulasikan kecerdasan manusia, seperti belajar, bernalar, memecahkan masalah juga memahami bahasa. Kini, AI tidak hanya hadir sebagai alat bantu, tetapi juga mulai masuk ke dunia jurnalistik, termasuk dalam penulisan berita.Sebagai seorang mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang sedang belajar menulis berita, juga merasakan dampak dengan kehadirnya AI ini. Sebagai pengalaman, saya pernah membaca sebuah berita yang ditulis dengan gaya bahasa yang sedemikian rupa, tidak ada kekeliruan, juga tidak ada bagian yang ambigu. Semua informasi tersusun dengan baik. Namun, entah kenapa saya tidak merasakan kehadirannya berita tersebut, juga tanpa meninggalkan kesan.Hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar bahwa, mungkinkah yang hilang adalah informasinya atau justru kehadirannya berita tersebut yang tak mampu untuk dirasa? Di era sekarang, kemungkinan itu bukan hal yang mustahil. Hari ini, kita bahkan bisa menemukan berita yang ditulis oleh AI dengan detail, cepat, bahkan lugas, namun tanpa kita sadari sering kali terasa “datar” tanpa kedalaman.Artificial Intelligence (AI) memang telah berkembang hingga mampu menulis berita, merangkum informasi, bahkan menyesuaikan konten dengan preferensi pembaca. Ia bekerja cepat, efisien, dan konsisten. Bagi industri media, kehadiran AI tentu membawa banyak keuntungan. Produksi konten menjadi lebih cepat, analisis data lebih akurat, dan distribusi informasi bisa dilakukan secara lebih terarah.Dalam praktiknya, kehadiran AI juga mulai memengaruhi cara media menentukan apa yang layak diberitakan. Rekomendasi berbasis algoritma sering kali mengarahkan redaksi pada isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan. Di satu sisi, hal ini membantu media tetap relevan dengan audiens. Namun di sisi lain, ada risiko bahwa jurnalisme perlahan bergeser dari yang berorientasi pada kepentingan publik, menjadi sekadar mengikuti arus popularitas.Semua terlihat ideal, hingga kita menyadari satu hal penting bahwa, AI tidak benar-benar memahami apa yang ia tulis. Ia tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan saat menulis berita duka. Ia tidak mengerti kompleksitas ketidakadilan ketika menyusun laporan sosial. Ia hanya mengolah data, tanpa benar-benar mengalami.Sementara jurnalisme bagi saya, bukan hanya sekadar memberikan informasi, tetapi ini tentang makna. Ketika berita hanya diukur dari kecepatan dan keterjangkauannya, ada risiko bahwa kedalaman dan sensitivitas menjadi hal yang terpinggirkan. Padahal, justru di situlah letak kekuatan jurnalisme. Belum lagi persoalan etika yang semakin kompleks. Dari potensi bias algoritma, manipulasi konten, hingga kaburnya batas antara karya manusia dan mesin. Tanpa transparansi, kepercayaan publik bisa perlahan terkikis.Di titik ini, jurnalisme sedang diuji. Bukan oleh teknologi itu sendiri, tetapi oleh cara manusia menggunakannya. Ketika AI digunakan tanpa kesadaran kritis, ia bisa menggerus nilai-nilai yang selama ini dijaga dalam dunia jurnalistik. Namun jika dimanfaatkan secara bijak, AI justru bisa menjadi alat yang memperkuat peran jurnalis, bukan menggantikannya.Dengan demikian, justru semakin jelas terlihat bahwa, manusia tetap dibutuhkan. Hal ini tentunya karena manusia bisa merasakan kepekaan sosial, manusia bisa merasakan apa yang ia perbuat, dan apa yang ia tulis dalam sebuah berita. Manusia merasakan kehaditran sebuah makna, yang itu tidak dirasakan oleh AI. Dan selagi Jurnalisme masih berbicara tentang manusia, maka rasa itu tidak boleh hilang sedikitpun. Rozah Leky, Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta