Populer: Trump Sebut AS Tak Butuh Selat Hormuz; RI Raih Investasi Rp 574 T

Wait 5 sec.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato yang disiarkan televisi terkait konflik Timur Tengah dari Cross Hall, White House (1/4/2026). Foto: Alex Brandon / POOL / AFPKlaim AS tidak butuh Selat Hormuz menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Kamis (2/4). Selain itu, investasi Rp 574 triliun dari Jepang dan Korea Selatan. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Trump: AS Tak Butuh Selat Hormuz, Kami Punya Banyak MinyakPresiden AS Donald Trump menegaskan bahwa negaranya kini tidak membutuhkan Selat Hormuz untuk mengimpor minyak, sebuah pernyataan yang disampaikan di tengah perkembangan perang di Iran. Dalam pidatonya di Gedung Putih, Trump menyatakan AS memiliki cadangan minyak yang sangat melimpah, sehingga ketergantungan pada jalur strategis tersebut telah berakhir. Klaim ini menandai pergeseran signifikan dalam narasi energi global dan potensi dampak geopolitik.Lebih lanjut, Trump mendesak negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Selat Hormuz untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menjaga jalur tersebut. Ia menawarkan solusi alternatif bagi negara-negara pembeli, yakni membeli minyak langsung dari AS yang disebutnya 'sangat banyak'. Trump juga menyarankan negara-negara tersebut untuk berani merebut dan melindungi Selat Hormuz demi kepentingan mereka sendiri, sembari memprediksi normalisasi aliran minyak dan penurunan harga bensin setelah konflik berakhir.RI Kantongi Investasi Rp 574 T dari Jepang-Korsel, Energi Hijau Jadi MagnetMenko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTOIndonesia berhasil mengamankan komitmen investasi senilai USD 33,8 miliar atau setara Rp 574 triliun dari Jepang dan Korea Selatan. Angka fantastis ini, dengan rincian USD 23,6 miliar dari Jepang dan USD 10,2 miliar dari Korea Selatan, tercapai di tengah ketidakpastian geopolitik global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa capaian ini merupakan sinyal kuat daya tarik investasi Indonesia di kancah internasional.Investasi yang masuk didominasi oleh sektor-sektor strategis masa depan, terutama energi hijau dan hilirisasi industri. Sektor energi meliputi solar power, carbon capture and storage, serta energi terbarukan, sementara hilirisasi mencakup industri baja, baterai, dan transportasi ramah lingkungan. Selain itu, sektor digital, kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan properti dan infrastruktur juga menjadi sasaran. Fokus pada sektor-faktor ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menambahkan bahwa minat investor terus menunjukkan tren positif, dibuktikan dengan ekspansi lanjutan dari investor lama seperti KCC Glass dan POSCO. Menurutnya, hal tersebut mengindikasikan bahwa investor melihat tingkat pengembalian investasi (return) yang baik serta stabilitas yang terjaga di Indonesia, mendorong mereka untuk memperbesar investasi yang sudah ada. Pemerintah berkomitmen menindaklanjuti komitmen ini untuk percepatan realisasi dan dampak ekonomi nasional.