Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix dan Kepala Misi dan Komandan Pasukan UNIFIL, Letnan Jenderal Aroldo Lazaro, mengunjungi Posisi PBB 1-21 yang terletak di Garis Biru dekat Ramieh, Lebanon selatan. 12 Januari. Foto: Pasqual Gorriz/PBBPBB menyampaikan perkembangan terkini terkait gugurnya 3 prajurit TNI yang tergabung dalam satgas UNIFIL di Lebanon. Mereka masih belum bisa memastikan, tembakan siapa yang menyebabkan prajurit itu tewas. "Kita masih menginvestigasinya, tapi kita belum bisa mengkonfirmasi apa pun. Contohnya, pada peristiwa kemarin (Senin 30 Maret 2026), bisa saja ledakan itu ditimbulkan dari tembakan mortir, atau artileri, kita belum tahu asalnya," kata Wasekjen PBB Bidang Operasi Perdamaian, Jean Pierre Lacroix, Selasa (31/3), dikutip dari akun YouTube resmi PBB. "Sama seperti insiden kedua, ledakan yang terjadi pada konvoi pasukan bisa saja dipicu bahan peledak terimprovisasi (IED) atau bombardir. Terlalu awal untuk menyimpulkan," katanya.Lacroix mengakui bahwa insiden menimbulkan trauma bagi pasukan perdamaian. Tapi, ia mengagumi semangat dari negara-negara yang menyumbang pasukan perdamaian. "Meski begitu, negara-negara penyumbang pasukan perdamaian tetap menunjukkan kesatuan dan komitmen mereka. Ini adalah penugasan dan mandat dari Dewan Keamanan PBB. Kita punya tugas untuk diselesaikan," pungkasnya.