Ilustrasi proses belajar di sekolah. Foto: Chat GPTRuang kelas kini bukan lagi satu-satunya tempat bagi seorang remaja untuk mencari jawaban atas pertanyaan "Apa yang benar?" dan "Bagaimana seharusnya aku bersikap?" Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Mungkinkan guru yang tidak cukup cepat menganalisis dan menangkap tantangan pendidikan terkini?Layar Gawai yang Menjadi "Mimbar" BaruDulu, guru adalah sumber kebenaran absolut di mata siswa. Namun sekarang, realitas menunjukkan bahwa durasi paparan layar (screen time) jauh melampaui waktu interaksi tatap muka di sekolah. Bagi banyak siswa, apa yang dikatakan oleh seorang influencer dengan jutaan pengikut terasa lebih valid dan relevan daripada ceramah moral di depan papan tulis.Fenomena ini terjadi karena influencer mengemas pesan mereka dengan estetika yang menarik dan bahasa yang santai. Mereka tidak datang dengan nada menggurui, tetapi dengan gaya "teman sebaya" yang seolah memahami keresahan anak muda.Hal ini menciptakan ikatan emosional semu yang sangat kuat, sehingga setiap opini yang dilontarkan dianggap sebagai standar moral baru yang harus diikuti tanpa filter.Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Shutter StockKritik utamanya terletak pada dangkalnya validasi informasi. Seorang siswa mungkin akan lebih membela tindakan kontroversial idolanya di media sosial daripada mematuhi tata tertib sekolah yang dianggap "kuno". Kebenaran tidak lagi dicari lewat literasi yang mendalam atau bimbingan guru, melainkan lewat jumlah likes dan views yang didapat dari sebuah opini viral.Guru yang Terasing di Balik KurikulumDi tengah gempuran tren viral, posisi guru seolah terasingkan. Mereka terjebak dalam tuntutan administratif dan kurikulum yang padat, sehingga kehilangan ruang untuk masuk ke dalam dunia emosional siswa. Guru kini sering kali dipandang hanya sebagai "petugas pemberi materi", bukan lagi sosok role model yang gaya hidupnya ingin ditiru oleh para murid.Ketimpangan ini semakin terasa ketika nilai-nilai yang diajarkan di sekolah bertabrakan dengan realitas di media sosial. Saat guru mengajarkan tentang kesederhanaan dan kerja keras, media sosial justru memuja kekayaan instan dan gaya hidup hedonistik yang dipamerkan para pesohor digital. Guru berjuang melawan narasi visual yang jauh lebih "berkilau" dan menggoda bagi mata anak muda.Akibatnya, terjadi diskoneksi komunikasi antara pendidik dan terdidik. Nasihat guru sering kali dianggap sebagai angin lalu karena tidak memiliki "daya tawar" visual yang sama dengan konten TikTok atau Instagram. Guru berjuang sendirian menjaga moralitas, sementara siswa sudah jauh melangkah mengikuti kompas moral yang diarahkan oleh algoritma trending.Krisis Filter dan Hilangnya Budaya Berpikir KritisIlsutrasi melihat instagram. Foto: ShutterstockMasalah besar muncul ketika influencer yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal mulai berbicara tentang isu-isu sensitif, mulai dari kesehatan mental hingga etika pergaulan.Generasi muda yang belum memiliki filter kuat cenderung menelan mentah-mentah ucapan tersebut. Mereka memandang kata-kata sang idola sebagai sebuah dogma yang tidak boleh diperdebatkan.Kebenaran subjektif sang influencer akhirnya dianggap sebagai kebenaran universal. Jika seorang pesohor digital menormalisasi perilaku yang tidak etis, siswa akan cenderung mengikutinya dengan dalih "kebebasan berekspresi" atau "menjadi diri sendiri".Di titik inilah, peran guru sebagai penunjuk arah etika menjadi tumpul karena kalah saing dengan narasi kebebasan semu yang ditawarkan layar ponsel.Ilustrasi ponsel. Foto: myboys.me/ShutterstockKritik terhadap realitas ini adalah hilangnya budaya tabayyun atau verifikasi di kalangan siswa. Mereka lebih percaya pada caption singkat seorang figur publik daripada penjelasan logis dan ilmiah dari seorang guru. Pergeseran ini menciptakan generasi yang reaktif terhadap tren, tetapi abai terhadap esensi moralitas yang mendalam dan bertanggung jawab.Menata Ulang Jembatan Komunikasi PendidikMelihat kondisi ini, tidak ada jalan lain selain melakukan transformasi besar dalam cara guru berinteraksi. Guru tidak bisa lagi menutup mata terhadap dunia digital yang dikonsumsi siswanya. Peran guru harus berevolusi: dari sekadar pengajar menjadi fasilitator literasi digital yang mampu membedah konten mana yang layak dijadikan patokan dan mana yang hanya menjadi sampah visual.Sekolah perlu menciptakan ruang dialog yang setara di mana tren media sosial dibahas secara kritis, bukan hanya dilarang. Jika guru terus-menerus memposisikan diri sebagai pihak yang anti-teknologi atau anti-tren, jurang pemisah dengan siswa akan semakin lebar. Guru harus mampu masuk ke "frekuensi" yang sama dengan siswa tanpa kehilangan wibawa moralnya.Pada akhirnya, tantangan pendidikan masa kini bukan lagi soal keterbatasan akses informasi, melainkan soal siapa yang paling didengar. Mengembalikan otoritas moral guru berarti mengembalikan rasa percaya siswa bahwa kebijaksanaan sejati tidak bisa didapatkan hanya dari video berdurasi 15 detik, tetapi juga dari proses belajar yang konsisten dan interaksi manusiawi yang tulus.