Perempuan. Sumber: Dokumen pribadi (dibuat dengan Canva)Banyak perempuan terbiasa menunda mengakui rasa sakitnya. Ketika tubuh terasa tidak nyaman, respons yang muncul sering kali bukan mencari pertolongan, melainkan bertahan. “Masih bisa ditahan,” menjadi kalimat yang akrab diucapkan, seolah rasa sakit adalah bagian wajar dari keseharian perempuan. Budaya ini begitu melekat, hingga sering kali kita tidak lagi mempertanyakannya.Sejak kecil, perempuan kerap diajarkan untuk kuat. Menangis dianggap berlebihan, mengeluh dinilai merepotkan, dan menunjukkan kelemahan sering dipersepsikan sebagai ketidakmampuan. Dalam banyak keluarga dan lingkungan sosial, perempuan justru dipuji ketika mampu tetap menjalankan peran meski sedang tidak sehat. Tanpa disadari, nilai-nilai ini membentuk kebiasaan: menahan sakit dianggap sebagai tanda ketangguhan.Budaya menahan sakit ini tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan peran ganda yang dijalani banyak perempuan. Di rumah, perempuan sering menjadi penyangga utama kesehatan keluarga, mengurus anak, pasangan, bahkan orang tua. Di ruang publik, perempuan dituntut tetap produktif dan profesional. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan tubuh sendiri kerap ditempatkan paling akhir. Rasa sakit dianggap gangguan kecil yang bisa ditunda, selama tanggung jawab tetap berjalan.Perempuan. Sumber: Dokument pribadi (dibuat dengan Canva)Namun, tubuh memiliki caranya sendiri untuk berkomunikasi. Nyeri yang berulang, kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur, hingga emosi yang mudah meledak sering kali bukan sekadar akibat lelah sesaat. Itu adalah sinyal. Sayangnya, banyak perempuan belajar untuk meredam sinyal tersebut, bukan mendengarkannya. Ketika rasa tidak nyaman berlangsung lama, perempuan justru terbiasa menormalisasinya.Dampaknya tidak sederhana. Tidak sedikit perempuan yang baru mencari bantuan ketika kondisi sudah cukup mengganggu aktivitas, bahkan ketika masalah kesehatan telah berkembang lebih serius. Keterlambatan ini sering bukan karena ketidaktahuan semata, tetapi karena kebiasaan mengabaikan tubuh sendiri. Dalam konteks ini, budaya menahan sakit berkontribusi pada rendahnya kepedulian perempuan terhadap kesehatan dirinya.Menariknya, menahan sakit sering dibingkai sebagai pilihan personal, padahal ia adalah konstruksi sosial. Perempuan tidak tiba-tiba memilih untuk mengabaikan tubuhnya; ia belajar dari lingkungan yang memuji ketahanan, bukan kepekaan. Akibatnya, merawat diri kerap disertai rasa bersalah, seolah memperhatikan kesehatan sendiri berarti mengurangi perhatian pada orang lain.Padahal, mendengarkan tubuh bukanlah bentuk kelemahan. Mengakui bahwa kita lelah, nyeri, atau tidak baik-baik saja justru merupakan bentuk keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri, dan keberanian untuk menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan, bukan kemewahan. Perempuan tidak perlu menunggu hingga sakit menjadi parah untuk merasa “cukup beralasan” mencari pertolongan.Sudah saatnya budaya menahan sakit dipertanyakan. Bukan untuk melemahkan perempuan, tetapi justru untuk melindunginya. Perempuan berhak merasa sehat, berhak beristirahat, dan berhak merawat tubuhnya tanpa harus membuktikan apa pun. Karena kuat bukan berarti selalu bertahan, melainkan juga tahu kapan harus berhenti dan mendengarkan diri sendiri.