Toyota Veloz Hybrid. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanPeneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Syahda Sabrina mengungkap hybrid electric vehicle (HEV) mampu menyerap konsumen mobil internal combustion engine (ICE) dan battery electric vehicle (BEV).“Kalau kita lihat, memang ada kecenderungan dari seluruh jenis, baik ICE dan BEV itu akan pindah ke hybrid apabila harga hybrid itu turun. Dengan asumsi, harga dan jenis mobil lain tidak berubah,” buka Syahda di Bandung, Jumat (9/1/2025).LPEM UI turut meneliti terkait potensi HEV di pasar, dengan membuat asumsi jika harga mobil hybrid diturunkan 10 persen dari pagu saat ini. Hasilnya? Jadi jauh lebih menjanjikan.Honda Step WGN e:HEV. Foto: Gesit Prayogi/kumparanKetika harga HEV lebih rendah, sekitar 8,1 persen sampai 13,6 persen responden memilih mengalihkan pembelian dari mobil ICE. Sementara, konsumen BEV bisa terserap hingga 5-37,6 persen, atau kisaran 21,3 persen.“Bisa kita simpulkan, dengan adanya penurunan harga hybrid, misal dengan pemberian insentif terkait lokalisasi, yang akan berpindah itu adalah mereka yang selama ini menggunakan mobil bensin, tanpa menjadi kompetitor mobil listrik,” urai Syahda.Apabila strategi ini diterapkan, pasar mobil hybrid akan semakin luas, sekaligus mendorong popularitas kendaraan hibrida. Hasil penelitian LPEM FEB UI turut menunjukkan rendahnya popularitas HEV dibandingkan BEV dan ICE.“Hampir semua responden penelitian menyatakan mereka mengetahui mobil ICE, baik di Jawa maupun non-Jawa. Tapi, yang menarik adalah perbandingan antara mobil listrik dan mobil hybrid maupun plug-in hybrid,” buka peneliti LPEM UI, Syahda Sabrina di Bandung, Jumat (9/1/2026).Mencoba Suzuki Fronx Hybrid SGX. Foto: Sena Pratama/kumparanPopularitas kendaraan elektrifikasi masih terbilang ‘Jawa Sentris’. Artinya, konsumen atau masyarakat secara umum yang berada di luar area Jawa cenderung lebih familiar dengan mobil listrik sebagai terobosan elektrifikasi.“Ternyata awareness dari mobil BEV atau mobil listrik itu lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hybrid. Mobil hybrid ini terutama di wilayah-wilayah non-Jawa itu familiarity-nya masih cukup rendah,” sambungnya.Minat pembelian responden terhadap BEV pun sedikit lebih tinggi dibandingkan hybrid. Misal di daerah Jawa, sebanyak 33 persen berminat untuk beli HEV, dari 1.511 responden yang menyatakan ingin membeli mobil dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.Sementara, untuk HEV berada di angka 31 persen dari responden serupa. Adapun PHEV masih cenderung niche, alias belum terlalu populer di mata konsumen domestik.