Rekaman CCTV sejumlah warga mengantarkan jenazah ke pemakaman menggunakan perahu untuk menerjang banjir di Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Kamis (15/1/2026). Foto: Dok. Pemdes MintobasukiBanjir yang melanda Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati menyisakan duka mendalam bagi keluarga Almarhum Warsono, Kamis (15/1/2026). Mereka terpaksa tidak bisa memberikan penghormatan terakhir yang layak karena banjir membatasi aktivitas warga.Di tengah kondisi banjir, keluarga almarhum sempat was-was tidak bisa mengebumikan Warsono. Namun ternyata, masih ada tempat pemakaman yang belum terendam, meski berbeda petak dengan keluarga yang telah mendahului.Namun, warga harus bekerja ekstra keras untuk mengantarkan jenazah karena sepanjang jalan terendam banjir mencapai sepaha orang dewasa. Mereka terpaksa menggunakan perahu dan menerjang banjir sepanjang 2 kilometer.Dari rekaman CCTV milik Pemerintah Desa Mintobasuki, terlihat perahu melaju pelan di tengah banjir. Di atas perahu, jenazah Warsono diletakkan dalam keranda dan ditutup terpal biru.Beberapa pengiring jenazah tampak duduk di atas perahu sambil memegang payung untuk melindungi jenazah almarhum dari rintik hujan. Sementara sejumlah warga lainnya terlihat berjalan pelan untuk mendorong perahu sampai ke tempat peristirahatan terakhir.Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, mengkonfirmasi bahwa penggunaan perahu ini merupakan kesepakatan keluarga dan masyarakat karena mobil jenazah yang biasa digunakan sedang bertugas di tempat lain. Karena lokasi makamnya melewati jalur sawah yang semuanya sudah terendam, jadi memungkinkan untuk dilewati perahu."Tadi kontak mobil jenazah ternyata sedang dipakai. Akhirnya pihak keluarga dan masyarakat sepakat diantar melalui perahu," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (15/1).Mustaji menambahkan, meski sebagian besar area pemakaman sudah mulai terendam, pihak desa memastikan masih ada titik tanah yang cukup tinggi untuk proses pemakaman.Menurut Mustaji, sejak banjir menggenangi desa pada Sabtu (10/1/2026), ketinggian banjir akibat luapan Sungai Silugonggo itu terus bertambah. Data pemerintah desa menyebutkan, ada 241 rumah terendam, dengan warga terdampak mencapai 313 (Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 800 jiwa."Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter. Sementara di jalan raya, ketinggiannya mencapai 5 hingga 90 sentimeter. Sepeda motor kecil sudah tidak bisa melintas," jelasnya.Tak hanya merendam permukiman, banjir juga merendam 6 hektare tanaman padi muda dan 65 hektare padi siap panen. Kerugian petani ditaksir mencapai Rp 515 juta."Warga juga mulai mengeluhkan gatal-gatal. Posko kesehatan belum ada, mungkin masih dikoordinasikan. Untuk bantuan, kemarin baru ada kiriman mi instan dari Kemenag (Kantor Kementerian Agama Pati). Dari donatur mungkin memang bantuannya terbagi-bagi karena banjir ini memang merata (di seluruh Pati)," tandas dia.