Pariwisata Tanpa Kendali: Pulau Samalona dan Tantangan Pariwisata Berkelanjutan

Wait 5 sec.

Pulau Samalona di Makassar Foto: Shutter StockMakassar kini mulai kerap dibangga-bangggakan sebagai pintu gerbang pariwisata Sulawesi Selatan. Laut biru, Pantai Losari, Center Point Indonesia (CPI), pulau-pulau kecil, dan akses yang relatif mudah dari pusat kota menjadi modal besar untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan.Namun di balik potensi itu semua, realitas di lapangan masih menunjukkan bahwa pariwisata Makassar masih berada jauh dari kata pariwisata keberlanjutan dan masih menunjukkan banyak ketimpangan serta eksploitasi. Pulau Samalona menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata yang tumbuh pesat belum sepenuhnya dikelola dengan prinsip keberlanjutan.Pulau Samalona merupakan sebuah pulau kecil yang berada dalam wilayah Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau ini terletak di sisi barat Kota Makassar, dengan jarak sekitar enam hingga tujuh kilometer dari daratan utama.Akses menuju pulau ini bisa dibilang relatif mudah. Kita dapat menggunakan perahu motor yang dapat ditempuh selama kurang lebih dua puluh sampai tiga puluh menit dari Pelabuhan Kayu Bangkoa maupun kawasan Pantai Losari dengan tarif di kenakan biaya sebesar 25.000 per orang atau Rp200.000–Rp300.000 per perombongan.Pulau Samalona termasuk pulau yang berpenghuni. Sebagian besar Masyarakat Samalona menggantungkan mata pencaharian mereka pada laut, baik sebagai nelayan maupun melalui aktivitas pariwisata, seperti penyewaan perahu dan jasa pemandu snorkeling. Ilustrasi snorkeling. Foto: ShutterstockKetergantungan yang cukup besar terhadap sumber daya laut membuat kondisi lingkungan pesisir dan perairan di sekitar pulau ini memiliki arti yang sangat penting, tidak hanya untuk menjaga kelestarian ekosistem tetapi juga untuk menopang kehidupan dan perekonomian masyarakat setempat.Seperti yang kita tahu bahwa Pulau Samalona selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi favorit wisata pulau yang ada di Makassar. Setiap akhir pekan, pulau ini mulai dipadati wisatawan datang untuk snorkeling, berenang, atau sekadar menikmati pantai. Namun yang sangat disayangkan, peningkatan kunjungan ini belum diimbangi dengan perencanaan pariwisata yang matang.Berbagai kajian akademik menunjukkan bahwa pengembangan wisata di Samalona belum memiliki kebijakan komprehensif mengintegrasikan perlindungan lingkungan, penglolahan sampah, dan kurangnya pengendalian jumlah kunjungan wisatawan. Akibatnya aktivitas pariwisata cenderung berjalan secara spontan dan jangka pendek, tanpa arah keberlanjutan yang jelas.Tantangan Pariwisata Berkelanjutan Bagi Pulau SamalonaPulau Samalona saat ini menghadapi kondisi cukup memprihatinkan. Peningkatan jumlah wisatawan tidak sepenuhnya diimbangi dengan sistem pengelolaan lingkungan memadai. Akibatnya, tekanan terhadap ekosistem laut semakin besar.Permasalahan seperti sampah plastik di kawasan pesisir, kerusakan terumbu karang, dan rendahnya pemahaman mengenai wisata ramah lingkungan masih sering ditemukan. Upaya konservasi dan pengelolaan sampah yang belum optimal membuat persoalan ini terus berulang.Ilustrasi kerusakan bawah laut. Foto: stockphoto-graf/ShutterstockApabila situasi tersebut tidak segera ditangani secara serius, Pulau Samalona berisiko kehilangan daya tarik utamanya, yaitu lingkungan laut yang sehat dan lestari selama ini menjadi alasan utama kunjungan wisatawan.Dikutip dari Mongabay, Pantai Losari menjadi tempat pembuangan sampah raksasa di mana sejumlah kanal atau gorong-gorong pembuangan sampah bermuara di pantai ini. Ironisnya, dampak dari limbah ini mencapai pulau-pulau kecil di sekitar Makassar dengan radius cemaran diperkirakan telah mencapai 10 km.Menurut salah satu warga, jika proses sedimentasi dan pencemaran ini terus berlanjut dan mengalami loncatan perkembangan, bisa diperkirakan lima tahun ke depan terumbu karang di sekitar kawasan ini hancur total.Kurangnya pengendalian jumlah kunjungan dan edukasi terhadap wisatawan aktivitas wisata itu sendiri terbukti menjadi penyebab langsung kerusakan. Studi tahun 2025 tentang perilaku wisatawan snorkeling di Pulau Samalona menemukan bahwa perilaku wisatawan, seperti menendang karang saat snorkeling, secara langsung merusak struktur karang, terutama pada jenis karang Acropora (karang bercabang) dan Porites (karang besar).Tindakan fisik seperti ini sering tidak disadari oleh pengunjung, menyebabkan patahnya dahan atau goresan pada karang, sehingga memperlambat pertumbuhan dan regenerasi ekosistem laut tersebut.Pulau Samalona Foto: Wikimedia CommonsPengelolaan Pulau Samalona masih menunjukkan kelemahan serius terutama dalam perlindungan lingkungan, pengelolaan sampah, dan pengendalian jumlah wisatawan. Aktivitas wisata, seperti snorkeling, berlangsung tanpa aturan dan pengawasan yang jelas, sehingga berpotensi merusak terumbu karang.Di sisi lain, sistem pengelolaan sampah belum berjalan optimal, menyebabkan sampah plastik kerap mencemari kawasan pesisir dan laut. Selain itu, tidak adanya pembatasan jumlah kunjungan membuat tekanan terhadap lingkungan semakin besar.Akibatnya, pariwisata di Pulau Samalona cenderung berjalan secara spontan dan berorientasi jangka pendek, tanpa arah keberlanjutan yang jelas.Dampak Bagi Pariwisata Berkelanjutan Kota MakassarKasus Pulau Samalona seharusnya menjadi peringatan serius bagi pengelolah pulau Samalona, pemerintah Kota Makassar, dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Konsep pariwisata berkelanjutan tidak seharusnya berhenti sebagai jargon dalam dokumen perencanaan atau materi promosi destinasi.Penerapannya menuntut kebijakan yang jelas dan tegas, perencanaan jangka panjang yang terarah, pengawasan lingkungan dilakukan secara konsisten, serta pelibatan aktif masyarakat lokal sebagai pihak yang paling terdampak. Tanpa langkah-langkah tersebut, pariwisata Makassar berisiko berkembang hanya dari sisi jumlah kunjungan, tetapi lemah dari segi kualitas dan keberlanjutan.