Rumah Sakit Dustira: Ingatan Panjang Sejarah Medis dari Kota Garnisun Cimahi

Wait 5 sec.

Pintu gerbang Rumah Sakit Dustira setelah direnovasi, rumah sakit ini berawal dari Militaire Hospital hingga kini sebagai rumah sakit rujukan nasional (Foto: Dokumen penulis)Rumah Sakit Dustira berdiri di Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat. Keberadaan bangunan ini tidak terpisahkan dari sejarah lahirnya Cimahi sebagai kota militer kolonial. Sejak awal, Dustira bukan sekadar fasilitas kesehatan, melainkan bagian dari rancangan besar pertahanan Hindia Belanda.Hingga kini, rumah sakit tersebut masih aktif melayani masyarakat, sambil menyimpan memori panjang perjalanan sejarah bangsa. Statusnya sebagai cagar budaya memperkuat posisi Dustira sebagai saksi hidup perubahan zaman. Setiap sudut bangunan mencerminkan lapisan sejarah yang bertumpuk sejak abad ke-19.Sejarah Rumah Sakit Dustira bermula ketika pemerintah kolonial Belanda mempersiapkan Cimahi sebagai kota garnisun utama. Bandung direncanakan sebagai pusat pemerintahan baru menggantikan Batavia yang dianggap tidak sehat. Cimahi kemudian dipilih sebagai kawasan penyangga militer Bandung.Untuk mendukung aktivitas pasukan, Belanda membutuhkan rumah sakit militer yang representatif. Menurut Lubis dalam Sejarah Cimahi Kota Garnisun (2004), kebutuhan kesehatan tentara menjadi prioritas strategis. Dari kebutuhan itulah gagasan pendirian Militaire Hospital di Cimahi lahir.Pembangunan Militaire Hospital dilakukan di atas lahan seluas sekitar 14 hektare. Tulisan “Anno 1887” yang tertera di gerbang rumah sakit sering dianggap sebagai tahun pendiriannya. Namun, berbagai arsip kolonial menunjukkan proses pembangunan berlangsung bertahap.Rumah sakit ini dirancang sebagai rumah sakit militer kelas dua. Keberadaannya dimaksudkan untuk melayani prajurit Belanda dan pasukan sekutu. Dari Cimahi, jaringan kesehatan militer kolonial diperluas ke wilayah Priangan.Arsip Nationaal Archief Belanda mencatat persetujuan desain rumah sakit pada 28 Mei 1896. Dokumen tersebut ditandatangani oleh perwira teknik militer J.C.H. Fischer. Persetujuan lanjutan diberikan oleh A.J.J. Staal sebagai komandan militer wilayah Jawa.Keputusan pembangunan diperkuat melalui Besluit Gubernur Jenderal J.W.Ch. Cohen Stuart. Informasi ini dijelaskan dalam Koloniaal Verslag tahun 1898. Laporan tersebut menyebutkan rumah sakit mulai beroperasi pada akhir 1897.Penyelesaian bangunan Militaire Hospital berlangsung hingga pertengahan 1898. Hal ini dikemukakan Fischer dalam Het Militaire Etablissement te Tjimahi (1899). Sejak beroperasi, rumah sakit melayani perawatan tentara kolonial secara intensif.Bangunan ini dirancang mengikuti iklim tropis dengan sirkulasi udara optimal. Jendela besar dan langit-langit tinggi menjadi ciri utama desainnya. Arsitektur neo-klasik Eropa memberi kesan kokoh dan berwibawa. Karakter bangunan ini masih terlihat jelas hingga sekarang.Memasuki masa pendudukan Jepang tahun 1942, fungsi rumah sakit kembali berubah drastis. Militaire Hospital dijadikan rumah sakit kamp bagi tawanan perang Belanda. Tentara Jepang juga memanfaatkan fasilitas medis tersebut. Situasi perang membuat rumah sakit berada dalam tekanan berat.Memasuki era modern, RS Tk. II Dustira terus berkembang (Foto: Dokumen penulis)Dokumentasi KITLV Leiden menunjukkan aktivitas medis dalam kondisi darurat. Rumah sakit tidak lagi sekadar tempat penyembuhan, melainkan bagian dari sistem penahanan perang. Masa ini meninggalkan jejak kelam dalam sejarah Dustira.Setelah Jepang menyerah tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Namun, situasi politik belum sepenuhnya stabil di Cimahi. Pada periode 1945 hingga 1947, rumah sakit dikuasai kembali oleh NICA. Pemerintah sipil Hindia Belanda tersebut berupaya mengembalikan kontrol kolonial.Militaire Hospital kembali melayani kepentingan Belanda. Kondisi ini berlangsung di tengah konflik bersenjata dengan pejuang Indonesia. Rumah sakit ini berada di tengah pusaran revolusi fisik.Titik balik terjadi setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada tahun 1949. Militaire Hospital resmi diserahkan kepada Tentara Nasional Indonesia. Penyerahan dilakukan kepada Letkol dr. Raden Kornel Singawinata.Ia kemudian diangkat sebagai kepala rumah sakit. Nama rumah sakit diubah menjadi Rumah Sakit Territorium III. Perubahan tersebut menandai peralihan kepemilikan dari kolonial ke nasional. Sejak saat itu, Dustira menjadi bagian dari sistem kesehatan militer Indonesia.Momentum penting berikutnya terjadi pada 19 Mei 1956. Saat itu, Territorium III Siliwangi merayakan hari ulang tahun ke-10. Panglima Territorium III, Kolonel A. Kawilarang, menetapkan nama baru rumah sakit. Rumah sakit resmi dinamai Rumah Sakit Dustira.Penamaan ini menjadi simbol penghormatan terhadap dokter pejuang. Nama tersebut diambil dari Mayor dr. Dustira Prawiraamidjaya. Sejak saat itu, identitas Dustira melekat kuat di Cimahi.Mayor dr. Dustira Prawiraamidjaya lahir di Tasikmalaya pada 25 Juli 1919. Ia merupakan lulusan Geneeskundige School di Batavia sebelum Perang Dunia II. Dustira aktif membantu pejuang Republik Indonesia di medan pertempuran.Wilayah Padalarang menjadi salah satu lokasi pengabdiannya. Ia dikenal berani merawat korban perang di garis depan. Dedikasinya diabadikan sebagai teladan kemanusiaan. Wikipedia Indonesia mencatat namanya sebagai dokter militer pejuang.Memasuki era modern, RS Tk. II Dustira terus berkembang sebagai rumah sakit rujukan. Rumah sakit ini berada di bawah Kesdam III Siliwangi. Pelayanan diberikan kepada prajurit TNI, keluarga, dan masyarakat umum.Dustira juga melayani peserta BPJS Kesehatan. Fasilitas medis diperbarui mengikuti kemajuan teknologi. Di sisi lain, bangunan bersejarah tetap dipertahankan. Kolonel Ckm dr. Nursuandy Indra Djaya tercatat sebagai Karumkit saat ini.Penampakan sisi lain Rumah Sakit Dustira Cimahi (Foto: dokumen penulis)Kini, Rumah Sakit Dustira berdiri sebagai warisan hidup Kota Cimahi. Bangunan kolonialnya menyatu dengan denyut kota modern. Setiap lorong menyimpan cerita tentang perang, pengabdian, dan kemanusiaan. Dari Militaire Hospital hingga rumah sakit rujukan nasional, perannya terus berlanjut.Sahabat Kumparan, Dustira tidak sekadar melayani kesehatan, tetapi juga merawat ingatan sejarah. Di tempat inilah masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu ruang pelayanan. Rumah Sakit Dustira terus hidup bersama waktu.