Di bawah langit Malaysia, saya dan Helmi berdiri di ambang pintu kekuasaan Yang di-Pertuan Agong. (dokpri/Fahruddin Fitriya).Perut saya penuh. Nasi Kandar dengan kuah banjir itu bukan sekadar makanan. Itu bius total yang menyeret saya ke ambang koma lewat jalur nirwana. Namun, belum sempat kesadaran saya benar-benar hilang, suara Helmi menarik paksa saya kembali ke dunia nyata."Destinasi terakhir sebelum kau balik kandang," kata Helmi. Nada bicaranya menyiratkan sebuah rahasia. Atau mungkin, bencana baru.Mobil meluncur ke pusat kota. Kami mampir sebentar ke Dataran Merdeka. Lapangan luas dengan tiang bendera setinggi monas (oke, ini hiperbola, tapi memang tinggi sekali). Di sinilah bendera Union Jack Inggris terakhir kali diturunkan. Gedung Sultan Abdul Samad yang ikonik berdiri gagah di seberangnya.Tapi Rizal tak mau lama-lama di situ. "Panas. Kita ke rumah 'Bos Besar' saja," ajaknya.Tujuan kami. Istana Negara.Istana Negara Malaysia yang baru di Jalan Duta ini megah. Kubahnya emas. Pagar besinya kokoh. Ada pengawal berkuda yang diam mematung, mirip Queen's Guard di Inggris tapi versi Melayu.Di sinilah jiwa akademis saya bangkit. Awal kehancuran bagi logika Helmi dan Rizal.Sebagai alumni Fakultas Hukum dengan peminatan Hukum Tata Negara dan Administrasi Negara, melihat istana ini bukan sekadar melihat bangunan. Tapi melihat sebuah sistem kekuasaan.Sejak dari Batu Caves, Bukit Bintang, hingga Genting Highlands, saya selalu jadi 'bulan-bulanan' mereka. Saya kalah telak soal manajemen wisata. Saya kalah telak soal pragmatisme judi. Tapi di sini? Not today, Ferguso!"Kau tahu sistem kami, Fit?" tanya Rizal, sambil menunjuk lambang kerajaan di gerbang. "Kami ini Monarki Konstitusional. Tapi rajanya unik"."Unik apanya?" pancing saya."Raja kami gilir kacang," jawab Rizal santai.Saya nyaris tersedak ludah sendiri. Istilah hukum macam apa itu?Rizal menjelaskan dengan gaya orang awam yang meremehkan sakralitas. Malaysia punya 9 Sultan dari 9 Negeri (negara bagian). Mereka tidak mau berebut takhta. Jadi, dibuatlah sistem rotasi. Setiap 5 tahun, mereka memilih satu orang di antara mereka untuk jadi Yang di-Pertuan Agong (Raja se-Malaysia)."Kalau di Semarang, macam arisan ibu-ibu PKK lah," tambah Helmi terkekeh. "Lima tahun si A, lima tahun depan si B. Adil. Tak ada yang berkuasa seumur hidup di tingkat federal. Jadi tak ada diktator".Rizal tersenyum bangga. "Sistem kami demokratis dalam feodalisme. Kalian di Indonesia mana punya yang begini? Presiden kalian dipilih rakyat, tapi ya itu... dramanya panjang".Nah, ini momen saya. Angin berhembus memihak saya. Saya menegakkan punggung. Mengeluarkan aura jurisprudentia."Kalian pikir sistem arisan itu paling hebat?" tanya saya meremehkan.Rizal menaikkan alis. "Memang ada yang lebih hebat?""Dengar baik-baik, Wahai Rakyat Jiran," kata saya, meniru gaya orator. "Kalian bangga dengan Raja yang cuma simbol? Yang Reigns but not Rules (bertakhta tapi tak memerintah)? Yang cuma tanda tangan dokumen dan kasih ampunan narapidana?""Di negaraku," lanjut saya sambil menunjuk dada, "Kami punya daerah di mana Rajanya adalah penguasa mutlak secara hukum positif. Dia Bertakhta dan Memerintah. Reigns and Rules."Rizal dan Helmi terdiam. Bungkam seribu bahasa."Namanya Yogyakarta," kata saya. "Di sana, Gubernurnya tidak dipilih lewat Pilkada. Tidak ada kampanye, tidak ada tim sukses, tidak ada serangan fajar. Gubernurnya adalah Sultan Hamengkubuwono. Otomatis. Seumur hidup. Dan itu dilindungi Undang-Undang Keistimewaan".Mata Rizal yang biasanya sipit dan tajam, kini membelat. "Tunggu... maksud kau, dia Gubernur tapi juga Raja? Dan Jakarta setuju?""Bukan cuma setuju. Itu amanat konstitusi. Pasal 18B UUD 1945 kami mengakui satuan pemerintahan daerah yang bersifat istimewa," jelas saya. Kuliah HTN saya akhirnya berguna juga di pinggir jalan Kuala Lumpur.Saya jelaskan betapa powerful-nya Sultan Jogja. Beliau punya legitimasi budaya, legitimasi agama, legitimasi tanah (Sultan Ground), dan legitimasi birokrasi sekaligus.Bandingkan dengan Yang di-Pertuan Agong Malaysia. Mereka bergilir tiap 5 tahun. Baru mau nyaman duduk di singgasana, eh waktunya sudah habis. Harus packing pulang kampung. Kekuasaan riil tetap di tangan Perdana Menteri."Jadi," kata saya menutup argumen, "Sistem gilir kacang kalian itu lucu. Kalian main aman. Kalian takut ada Raja yang terlalu kuat. Kami di Indonesia? Kami memberikan kekuasaan absolut pada satu sosok di Jogja karena kami percaya pada integritas sejarahnya. Itu baru level kepercayaan tingkat dewa".Helmi melongo. Rizal, untuk pertama kalinya selama dua hari ini, kehabisan kata-kata pedas."Gila..." gumam Rizal. "Aku pikir Indonesia itu cuma republik murni. Ternyata kalian punya kingdom within a republic yang jalan harmonis"."Itulah Indonesia, Zal," kata saya sambil menepuk bahunya. "Kami rumit. Tapi di balik kerumitan itu, ada kekayaan sistem yang tak kalian punya".Malaysia boleh menang soal wisata dan manajemen judi. Tapi soal kerumitan dan keunikan Tata Negara? Jangan lawan Sarjana Hukum Indonesia. Kita ahlinya bikin aturan yang bikin orang asing garuk-garuk kepala.Matahari mulai terbenam di balik kubah emas Istana Negara. Langit Kuala Lumpur berubah jingga. Kami kembali ke hotel. Kemenangan kecil di depan istana tadi sedikit mengobati rasa pegal di kaki dan rasa iri di hati soal trotoar Bukit Bintang.Di kamar hotel, saya mulai berkemas. Baju kotor, oleh-oleh untuk anak istri masuk ke koper. Besok paginya saya harus terbang pulang. Kembali ke realitas.Kembali ke jalanan yang mungkin tak sehalus Bukit Bintang. Kembali ke birokrasi wisata yang mungkin tak se-sat-set Batu Caves. Dan kembali ke negara di mana judi itu haram tapi pinjol ilegal merajalela.Tapi tak apa. Malaysia mungkin tempat yang nyaman untuk berwisata, tempat yang efisien untuk menghabiskan uang. Tapi Indonesia? Dengan segala kesemrawutan dan 'keistimewaannya', ia tetap tempat yang paling nyaman untuk pulang."Fit, bangun! Flight pagi kan?" Helmi mengirim pesan WhatsApp.Saya tersenyum. Liburan selesai. Saatnya kembali jadi wartawan yang menavigasi dunia berita dengan akal sehat seadanya.Terima kasih, Malaysia. Kau tetangga yang menyebalkan karena terlalu rapi, tapi kau guru yang baik.