Berguru Akal Sehat Wisata Malaysia

Wait 5 sec.

Saya dan Helmi Riza Alfarizy saat berada di Batu Caves, Selangor, Malaysia. (dokpri/Fahruddin Fitriya)Saya baru saja pulang. Badan pegal. Dompet semakin parah.Bukan karena habis kerja rodi, tapi habis pulang kampung plus 'berwisata' bersama keluarga. Dari Pati, Jawa Tengah, kami mampir dulu ke 'segitiga bermuda' dompet di Jateng-DIY: Borobudur, Prambanan, dan museum-museum di Jogja.Niat hati ingin healing, apa daya makin pusing. Pulang-pulang rasanya butuh tukang urut dan konsultan keuangan sekaligus.Mari kita bicara soal Borobudur. Candi ini agung. Megah. Warisan dunia. Tak ada yang membantah. Tapi masuk ke sana rasanya seperti mau melamar jadi PNS. Ribet, berjenjang, dan banyak syarat.Harus pakai sandal khusus Upanat. Bagus sih, untuk pelestarian. Saya setuju. Tapi proses mendapatkannya itu lho. Antreannya membuat tensi naik. Belum lagi drama parkirnya. Karena tak kebagian slot resmi, kami 'dipalak' parkir liar dengan tarif di luar nalar. Harganya cuma beda tipis sama perampokan! Alasannya klise, aji mumpung weekend dan Nataru.Tapi tunggu dulu, penderitaan belum purna. Ujian mental yang paling hakiki justru menyergap saat hendak masuk, dan makin menjadi-jadi saat mau pulang. Di Borobudur maupun Prambanan, pintu akses yang wajar hanyalah mitos belaka. Realitasnya? Kita disuguhi lorong 'Pasar Kaget' abadi yang seolah didesain tanpa ujung.Anda dipaksa memutar, meliuk, melewati ratusan kios yang menjual daster yang sama, gantungan kunci yang sama, dan cobek batu yang (katanya) asli. Jalurnya dibuat zig-zag seperti labirin tikus percobaan. Mungkin pengelola berpikir turis itu atlet Ninja Warrior. Ini bukan lagi exit strategy. Ini penyanderaan berkedok UMKM.Di tengah kelelahan itu, saya teringat kawan lama, Helmi.Dia adalah orang Malaysia tulen, tapi lama tinggal di semarang untuk kuliah. Spesies langka, logat Melayunya kental, tapi kalau misuh (mengumpat) fasih pakai bahasa Jawa Semarangan. Ndesit Nggatheli! Tahun lalu, saya diundang meliput festival Thaipusam di Batu Caves, Selangor. Helmi inilah yang menemani saya.Saat saya mengeluh soal panasnya tangga Batu Caves, Helmi cuma tertawa."Kau tahu bedanya wisata tempat kau dan tempat aku?" tanya Helmi sambil menyeruput Teh Tarik."Apa? Tempat kau lebih panas?" jawab saya ketus."Bukan," katanya. "Di Indonesia, pariwisata itu dikelola pakai perasaan. Harus sakral, harus filosofis, harus ada soul-nya. Di Malaysia, pariwisata itu dikelola macam convenience store. Masuk gampang, barang jelas, keluar senang".Helmi benar. Di Batu Caves, masuknya gratis. GRATIS!Anda mau manjat tangga warna-warni sampai betis meledak? Silakan. Mau foto sama patung Dewa Murugan yang emasnya bikin silau itu? Monggo. Mau dikejar monyet? Bebas."Kau tengok tangga itu," tunjuk Helmi pada 272 anak tangga yang dicat warna-warni mencolok. "Waktu kami cat warna-warni, arkeolog bising (ribut). Katanya merusak nilai sejarah. Tak estetik. Tapi kami tak peduli. Hasilnya? Boom! Viral satu dunia. Turis datang, selfie, upload, duit masuk".Malaysia itu pragmatis. Lincah. Sat-set wat-wet alias gercep.Mereka tahu Batu Caves itu cuma gua kapur. Di Gombong, Pacitan, atau Maros, kita punya seribu gua yang stalagmitnya jauh lebih glowing. Tapi Malaysia tahu cara memoles barang biasa jadi emas."Sederhana saja, Bro," kata Helmi dengan gaya sok bijak. "Kalian sibuk FGD (Focus Group Discussion) tujuh hari tujuh malam di hotel bintang lima cuma buat mutusin warna cat pagar. Kami? Cat dulu, kalau jelek ya cat ulang. Yang penting jalan".Lalu, Helmi membocorkan satu rahasia lagi."Kau catat ini, Abang jurnalis," bisiknya waktu itu. "Habis festival ini, Batu Caves bakal kami renovasi lagi. Kami akan permak habis-habisan"."Buat apa lagi? Sudah ramai begitu," tanya saya."Untuk 2026. Januari 2026 harus kelar. Itu Visit Malaysia Year 2026. Target kami puluhan juta turis. Kami tak mau turis datang lihat cat kusam. Kami mau mereka datang, mata terbelalak, dompet terbuka".Sekarang, kita sudah memasuki Januari 2026. Benar saja. Saya dengar Batu Caves sudah bersolek lagi. Eskalator baru telah dibangun untuk mereka yang tak kuat nanjak. Patung raksasa Dewa Murugan dicat ulang. Mereka terus berbenah. Bukan wacana, tapi kerja nyata.Bandingkan dengan kita. Mau bikin event di situs sejarah, izinnya mungkin setebal skripsi. Birokrasinya rumit seperti benang kusut yang dicelup lem.Kita sibuk berdebat soal filosofi relief candi, Malaysia sibuk menghitung devisa. Kita sibuk melarang ini-itu dengan alasan kesucian (yang kadang tebang pilih), Malaysia menyulap tempat ibadah jadi destinasi wisata tanpa kehilangan kesakralannya.Di Batu Caves, orang beribadah jalan terus, turis berfoto jalan terus. Saling menghormati. Tidak ada petugas galak yang meniup peluit tiap lima menit karena Anda salah injak rumput.Pariwisata Malaysia itu ibarat pedagang pasar yang luwes, "Boleh kakak, silakan lihat-lihat, tak beli tak apa," Ramah. Mengundang.Pariwisata kita? Kadang rasanya seperti bertamu ke rumah dosen killer. Masuk takut, duduk salah, mau pulang sungkan karena pintunya dikunci dari luar (baca: harus lewat labirin souvenir).Belum lagi soal aksesibilitas, Malaysia menang telak. Cukup naik KTM Komuter dari KL Sentral dengan ongkos setara dua buah gorengan, Anda duduk manis di gerbong ber-AC yang tepat waktu. Turun kereta, stasiunnya terhubung langsung dengan gerbang wisata. Tidak perlu tawar-menawar dengan ojek pangkalan atau bingung mencari rute di Google Maps. Semudah itu.Bandingkan dengan perjalanan ke Borobudur yang terasa seperti ekspedisi. Pilihannya sempit, oper bus berkali-kali dengan jadwal tentatif, atau bawa kendaraan pribadi yang berujung menyumbang kemacetan. Kita sibuk membangun narasi wisata kelas dunia, tapi akses transportasinya masih mengandalkan nasib dan kesabaran pengemudi.Ah, mungkin saya yang salah. Mungkin saya yang terlalu menuntut. Toh, Candi Borobudur dan Prambanan itu batu. Benda mati. Mereka tak butuh manajemen lincah. Yang butuh lincah itu pengelolanya. Tapi kalau pengelolanya geraknya lambat seperti siput kena stroke, ya jangan marah kalau turis lari ke tetangga.Malaysia tidak punya Borobudur. Tidak punya Bali. Tapi kata Helmi, mereka punya satu hal yang sering kita lupa bawa saat kerja. Common Sense. Akal sehat."Di Semarang aku belajar makan lumpia," kata Helmi menutup percakapan kami dulu. "Tapi soal cari duit dari turis, kalian harus belajar dari kami. Jangan jual mahal, kalau barangnya susah dibeli". Skakmat! Saya pun diam di hadapan Helmi.Tapi, karena saya masih cinta negeri ini (dan supaya kaki saya tidak bengkak lagi tahun depan), saya titip tiga 'resep obat' untuk para pengelola wisata kita. Gratis. Tak perlu bayar konsultan mahal.Pertama, hentikan praktik 'Penyanderaan'. Turis itu tamu, bukan tawanan perang. Buat jalur keluar yang lurus, lega, dan manusiawi. Ingat rumus psikologi belanja. Turis yang happy, dompetnya longgar. Turis yang emosi, dompetnya terkunci rapat. Biarkan mereka mampir ke kios souvenir karena ingin, bukan karena terpaksa.Berikutnya, musnahkan 'hantu' pungutan. Tiket mahal tak masalah, asalkan all-in. Jangan sampai turis merasa 'dipalak' di tiap tikungan. Parkir bayar, toilet bayar lagi, foto di spot bagus bayar lagi, masuk pelataran bayar lagi, naik altar candi bayar lagi.Terapkan Single Ticket System. Sekali bayar di depan, di dalam tinggal nikmati. Jangan bikin turis sibuk cari uang receh. Tapi, buatlah mereka sibuk kagum.Terakhir, tiru mentalitas minimarket. Berhenti mengelola tempat wisata gaya kantor kelurahan tahun 80-an yang bukanya semau gue, aturannya kaku, dan mukanya masam. Tirulah minimarket modern. Terang, bersih, harga pasti, dan pelayanannya sigap. Kalau ada sampah, pungut. Kalau ada antrean, buka loket baru. Jangan tunggu viral dulu baru rapat darurat.Simpel, kan? Malaysia sudah lari kencang dengan sepatu sneakers. Masak kita masih mau jalan pakai bakiak?