BYD M6 di GJAW 2025. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparanLembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), mengungkap bahwa saat ini masyarakat lebih familiar dengan mobil listrik daripada berbagai jenis hibrida.Memang, asa elektrifikasi masih terus bergulir di industri otomotif Indonesia. Beragam teknologi menjajaki pasar pada 2025 lalu, mulai dari hybrid electric vehicle (HEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hingga battery electric vehicle (BEV).“Hampir semua responden itu menyatakan mereka mengetahui mobil ICE, baik di Jawa maupun non-Jawa. Tapi, yang menarik adalah perbandingan antara mobil listrik dan mobil hybrid maupun plug-in hybrid,” buka peneliti LPEM UI, Syahda Sabrina di Bandung, Jumat (9/1/2026).Visualisasi data hasil survei LPEM FEB UI tentang popularitas berbagai jenis penggerak mobil meliputi Jawa dan luar Jawa. Foto: Dok. LPEM FEB UIPopularitas kendaraan elektrifikasi masih terbilang ‘Jawa Sentris’. Artinya, konsumen atau masyarakat secara umum yang berada di luar area Jawa cenderung lebih familiar dengan mobil listrik sebagai terobosan elektrifikasi.“Ternyata awareness dari mobil BEV atau mobil listrik itu lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hybrid. Mobil hybrid ini terutama di wilayah-wilayah non-Jawa itu familiarity-nya masih cukup rendah,” sambungnya.Sementara minat pembelian responden terhadap BEV pun sedikit lebih tinggi dibanding hybrid. Misal di daerah Jawa, sebanyak 33 persen berminat untuk beli HEV, dari 1.511 responden yang menyatakan ingin membeli mobil dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.Sementara, untuk HEV berada di angka 31 persen dari responden serupa. Adapun PHEV masih cenderung niche, alias belum terlalu populer di mata konsumen domestik.HEV perlu turun harga?Visualisasi data hasil survei LPEM FEB UI tentang studi pasar mobil penggerak ICE, HEV, PHEV, dan BEV. Foto: Dok. LPEM FEB UILPEM UI turut meneliti terkait potensi HEV di pasar, dengan membuat asumsi jika harga mobil-mobil hybrid diturunkan 10 persen dari pagu saat ini. Hasilnya? Jadi jauh lebih menjanjikan.Ketika harga HEV lebih rendah, sekitar 8,1 persen sampai 13,6 persen responden memilih mengalihkan pembelian dari mobil ICE. Sementara, konsumen BEV bisa terserap hingga 5 sampai 37,6 persen, atau kisaran 21,3 persen.“Bisa kita simpulkan, dengan adanya penurunan harga hybrid, misal dengan pemberian insentif terkait lokalisasi, yang akan berpindah itu adalah mereka yang selama ini menggunakan mobil bensin, tanpa menjadi kompetitor mobil listrik,” urai Syahda.Oleh karena itu, potensi akselerasi mobil hibrida bisa terjadi, apabila harga lini produknya dibuat lebih rendah.