PT Toyota-Astra Motor (TAM) menghadirkan varian baru Toyota Agya Stylix GR Parts di IIMS 2025. Foto: Sena Pratama/kumparanFenomena mobil listrik atau battery electric vehicle (BEV) dengan harga terjangkau menjadi ancaman serius bagi segmen kendaraan Low Cost Green Car (LCGC). Pasalnya, BEV murah mampu memberikan fitur, kelengkapan, hingga teknologi mumpuni dengan banderol yang masuk akal.Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu menyebut bahwa LCGC sejatinya masih memiliki urgensi di pasar. Namun, pola pembeliannya telah berubah.“LCGC masih punya urgensi, tetapi perannya tidak lagi dominan seperti satu dekade lalu, dan tidak lagi menjadi simbol pilihan paling rasional,” buka Yannes kepada kumparan belum lama ini.Tarik mundur ke belakang, program LCGC dicanangkan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2013 pada tahun 2013 lalu. Tujuannya, untuk memberikan opsi kendaraan lebih terjangkau dengan mesin berkapasitas kecil, guna menciptakan konsumsi bahan bakar efisien.Datsun Go Panca Special Edition Foto: Gesit Prayogi/KumparanSejak itu, deretan mobil seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Datsun Go, dan Suzuki Karimun Wagon R menjadi pelopor segmen LCGC. Umpan disambut, LCGC sukses mendulang respons positif dari konsumen.Menurut Yannes, kondisi pasar otomotif nasional saat ini memang kurang menguntungkan bagi LCGC. Selain gempuran BEV murah dari China, harga LCGC yang semakin tunggu pun membuatnya terhimpit Low Multi Purpose Vehicle (LMPV) dan Low Sport Utility Vehicle (LSUV).“LCGC terjepit low MPV atau low SUV di atasnya, serta low cost EV dan mobil bekas di sekitarnya,” katanya.Honda Brio di IIMS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparanOleh karena itu, Yannes melihat bahwa LCGC memerlukan transformasi total. Mengalihkan orientasi dari hanya harga terjangkau menjadi lebih value for money dan menyesuaikan kebutuhan teknologi sesuai preferensi pasar.“Artinya, tanpa reposisi serius untuk menjawab tuntutan value for money, efisiensi, dan relevansi teknologi baik lewat pengendalian harga, peningkatan desain, maupun pembaruan fitur,” jelas Yannes.Jika transisi major itu terlambat, LCGC hanya sebagai pelengkap pasar. Bukan lagi pilihan utama bagi keluarga modern yang menghargai value for money.“LCGC berpotensi tergeser menjadi segmen residual, yakni pilihan terakhir yang dibeli karena keterbatasan literasi pembelinya, bukan karena dianggap sebagai mobil paling up to date dan paling sesuai kebutuhan keluarga muda modern,” pungkasnya.Performa pasar LCGCDaihatsu Sigra 1.2R Deluxe terbaru yang meluncur di GIIAS 2025. Foto: Fitra Andrianto/kumparanBicara total penjualan, wholesales segmen LCGC sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai 122.686 unit, turun 30,6 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu yang meraup 176.766 unit.Sementara itu, angka ritel (dari diler ke konsumen) defisit 27 persen, dari 178.726 unit pada 2024 menjadi 130.799 unit di 2025.Perlambatan performa penjualan LCGC sejalan dengan penurunan secara keseluruhan. Sepanjang tahun 2025, asosiasi mencatat wholesales sebanyak 803.687 unit. Angka tersebut turun 7,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 865.723 unit.Kondisi serupa juga tercermin pada penjualan ritel. Sepanjang 2025, penjualan dari diler ke konsumen tercatat sebanyak 833.692 unit. Capaian tersebut turun 6,3 persen dibandingkan penjualan ritel 2024 yang berada di level 889.680 unit. Pelemahan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja pasar.