Foto udara pekerja memanen teh di perkebunan teh Cibuni di Desa Sukaresmi, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/11/2024). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTOJika Bandung hari ini terasa sejuk, hijau, dan dikelilingi gunung, semua itu bukan kebetulan. Lanskap ini adalah warisan langsung dari Gunung Sunda Purba, gunung raksasa yang pernah berdiri megah di Jawa Barat.Gunung ini bukan hanya membentuk cekungan Bandung, tetapi juga secara perlahan membentuk pola hidup, lingkungan, bahkan ciri fisik masyarakat Sunda. Alam bekerja dalam waktu yang sangat panjang, jauh sebelum manusia memberi nama.Gunung Sunda Purba diyakini menjulang hingga sekitar empat ribu meter di atas permukaan laut. Rein van Bemmelen dalam The Geology of Indonesia (1949) menyebutnya sebagai salah satu gunung api terbesar di Pulau Jawa pada zamannya.Letusan dan runtuhannya membentuk Kaldera Sunda yang luas. Dari kaldera inilah lahir Gunung Tangkuban Parahu, Burangrang, dan Bukit Tunggul. Pegunungan ini kini mengitari Bandung seperti mangkuk raksasa.Secara geologi, Gunung Sunda terbentuk akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Sunda. Proses ini memicu aktivitas vulkanik panjang selama ratusan ribu tahun.Mochamad Nugraha Kartadinata dari PVMBG—dalam laporan Sejarah Letusan Gunung Sunda (2018)—menjelaskan bahwa aktivitasnya berlangsung dalam beberapa fase besar. Letusan itu tidak hanya membangun gunung, tetapi juga merombak seluruh bentang alam Jawa Barat bagian tengah.Sekitar 105 ribu tahun lalu, Gunung Sunda mengalami letusan paling dahsyat. Letusan bertipe plinian dan ignimbrit melontarkan material hingga lebih dari seratus kilometer kubik. Abu, batu, dan lava menyebar ke berbagai penjuru.Material ini menutup aliran Sungai Citarum Purba. Taufik Bachtiar dalam Bandung Purba dan Gunung Sunda (2009) menjelaskan bahwa peristiwa ini membentuk Danau Bandung Purba yang luas.Danau tersebut bertahan ribuan tahun sebelum akhirnya mengering. Ketika air surut, terbentuklah Cekungan Bandung yang subur. Endapan vulkanik menjadikan tanahnya kaya mineral. Lingkungan ini kemudian menjadi ruang hidup manusia Sunda sejak prasejarah.Mengapa hingga kini orang Sunda sering dianggap memiliki kulit lebih cerah? (Gambar: Fabian S.R.)Pegunungan tinggi, udara sejuk, dan tanah subur menjadi kombinasi ekologis yang sangat khas. Dari sinilah relasi panjang antara alam dan manusia Sunda dimulai.Namun, kisah Gunung Sunda tidak berhenti pada batuan dan letusan. Ia juga hidup dalam bahasa dan ingatan kolektif. Menurut penuturan lisan yang dicatat dalam liputan Pikiran Rakyat berjudul “Jejak Gunung Sunda Purba” (12 Agustus 2019), gunung ini dahulu disebut Gunung Chuda. Kata "chuda" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti putih. Penamaan ini bukan tanpa alasan.Pada masa Pleistosen, suhu global lebih rendah dibanding sekarang. Penelitian paleoklimatologi oleh Lonnie Thompson dalam Ice Core Evidence of Tropical Climate Change (2000) menunjukkan bahwa puncak gunung tropis tinggi berpotensi memiliki es abadi.Dengan ketinggian ekstrem, puncak Gunung Sunda kemungkinan tampak putih dari kejauhan. Warna putih ini menjadi kesan visual yang kuat bagi para pengembara.Dalam pelafalan masyarakat lokal, kata chuda perlahan berubah menjadi Sunda. Pergeseran bunyi ini lazim dalam evolusi bahasa lisan. Makna putih pun melekat secara simbolik. Dari sinilah muncul asosiasi antara Sunda dan warna putih.Namun penting dicatat, simbol ini bukan klaim biologis tunggal. Ia adalah pintu masuk untuk memahami hubungan panjang antara lingkungan dan manusia.Pertanyaan kemudian muncul: Mengapa hingga kini orang Sunda sering dianggap memiliki kulit lebih cerah? Jawabannya tidak sederhana dan tidak tunggal. Antropolog Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi (2009) menegaskan bahwa ciri fisik manusia dipengaruhi banyak faktor.Genetika, iklim, pola hidup, dan lingkungan bekerja bersama dalam waktu lama. Orang Sunda adalah hasil dari proses ekologis panjang, bukan mitos instan.Wilayah inti Sunda berada di dataran tinggi. Bandung, Garut, Tasikmalaya, hingga Cianjur memiliki ketinggian yang relatif sejuk. Suhu yang lebih rendah mengurangi intensitas radiasi ultraviolet.Penampakan Gunung Sunda kini dari jauh (Foto: Fabian S.R.)Paparan sinar matahari yang lebih rendah memengaruhi produksi melanin pada kulit. Dalam ilmu biologi manusia, melanin berfungsi melindungi kulit dari radiasi. Lingkungan sejuk membuat kebutuhan produksi melanin lebih rendah.Selain iklim, gaya hidup tradisional masyarakat Sunda juga berpengaruh. Sejak lama, masyarakat Sunda dikenal hidup dekat dengan hutan, sawah, dan air. Aktivitas dilakukan pagi dan sore hari. Siang hari sering dihindari untuk bekerja berat.Pola ini secara tidak langsung mengurangi paparan matahari secara berlebih. Dalam jangka panjang, pola hidup seperti ini ikut memengaruhi adaptasi fisik.Faktor genetika juga berperan penting. Wilayah Sunda sejak lama menjadi persimpangan migrasi manusia. Penelitian genetika populasi Asia Tenggara menunjukkan adanya campuran gen Austronesia, Melanesia, dan Asia Daratan.Kombinasi genetik ini menghasilkan variasi warna kulit. Pada masyarakat dataran tinggi, variasi cenderung mengarah pada kulit lebih cerah dibanding wilayah pesisir tropis terbuka.Namun, penting untuk menempatkan isu warna kulit secara proporsional. Dalam budaya Sunda, nilai manusia tidak ditentukan oleh warna kulit. Konsep someah, lemes, dan silih asah asih asuh jauh lebih utama. Kulit cerah hanyalah efek samping dari lingkungan dan sejarah panjang. Ia bukan penanda superioritas, melainkan jejak adaptasi ekologis.Gunung Sunda Purba dengan segala letusannya telah membentuk ruang hidup yang unik. Ruang ini memengaruhi iklim lokal, pola pertanian, pemukiman, hingga ciri fisik penghuninya. Alam tidak bekerja cepat, tetapi konsisten. Dalam ratusan ribu tahun, gunung yang runtuh itu meninggalkan warisan yang masih kita rasakan hari ini.Maka, ketika orang menyebut Sunda identik dengan kulit cerah, sesungguhnya yang sedang dibicarakan adalah cerita panjang tentang gunung, iklim, tanah, dan manusia. Cerita tentang Gunung Sunda adalah cerita tentang bagaimana alam membentuk budaya.Ia mengajarkan bahwa identitas bukanlah mitos kosong. Identitas adalah hasil dialog panjang antara bumi dan manusia yang tinggal di atasnya.