Ilustrasi kegiatan diskusi sastra tentang menulis puisi di rumah seorang budayawan. (Sumber: Gemini 3 AI)Dahulu sekali, saat saya masih remaja. Sekitar empat puluhan tahun silam. Yah, kira-kira lebih dua hingga tiga tahun begitulah. Kegemaran saya menulis puisi, meski tidak terlalu produktif, pernah mengundang sebuah pertanyaan dari seorang teman satu rumah indekos semasa kuliah. Katanya, “Lo, apa kamu akan terus menulis puisi sampai tua kelak?”Pertanyaan itu, bisa jadi muncul karena adanya anggapan yang melekat di pikiran teman indekos itu, dan mungkin juga kebanyakan orang, bahwa menulis puisi hanya merupakan bagian dari kegiatan yang sangat dekat dengan kiprah aktivitas para anak muda. Terlebih lagi, sudah lazim ada pandangan yang menengarai, menulis puisi itu bertalian dengan adanya kecamuk asmara yang merasuk di dada.Pandangan yang sedemikian, pada dasarnya tidak terlalu keliru. Hanya sesungguhnya, menulis puisi itu hadir sebagai fenomena lintas generasi. Tidak ada batasan umur bagi siapa pun yang ingin berpuisi ria. Akarnya tumbuh mendalam pada kebutuhan mendasar manusia, yaitu untuk melakukan komunikasi dan memahami diri sendiri melalui media rangkaian kata yang menggugah kelelapan tidur estetikanya.Kepuasan kognitif seseorang, entah remaja entah orang dewasa, bisa saja muncul tatkala yang bersangkutan mampu menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya yang tidak sederhana. Di sinilah barangkali, kunci pembuka jawaban dari pertanyaan: kenapa puisi ditulis?Akan tetapi perlu terlebih dahulu mendapat penegasan, bahwa menulis puisi merupakan aktivitas intelektual signifikan karena melibatkan berbagai proses kognitif tingkat tinggi. Seperti penggunaan diksi yang cermat, majas dan simbolisme, ekspresi gagasan yang kompleks.Aktivitas emosional dan kreatif menulis puisi juga untuk melayani kebutuhan psikologis, mulai dari pengelolaan emosi hingga pertumbuhan pribadi beserta koneksi sosial. Puisi dapat menjadi alat ekspresi diri yang ampuh dan universal tentang berbagai sudut kehidupan dari sang penulis secara personal beserta masyarakat di sekitarnya.Dalih PsikologisSeorang mahasiswi sastra tengah berdiskusi dengan rekan-rekan tentang dalih psikologis seseorang menulis puisi. (Sumber: Gemini 3 AI)Terdapat sejumlah dalih psikologis dan motif di belakang keputusan seseorang, sehingga pada wekasannya yang bersangkutan menulis puisi. Ada yang berangkat dari katarsis. Suatu capaian kelegaan emosional setelah berada dalam kuncian ketegangan atau kecamuk pertikaian batin manakala bersua dan bergesekan dengan permasalah kehidupan. Katarsis itu suatu pelepasan emosi secara intens.Ada pula yang beranjak dari upaya untuk melakukan regulasi emosi. Merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola respons emosional diri sendiri. Semua itu meliputi intensitas, durasi, dan ekspresi. Tujuannya agar bisa menyikapi situasi secara adaptif dan sehat demi merawat kesejahteraan emosi.Puisi menjadi tempat curahan emosi untuk sebagian para remaja, karena mereka acapkali mengalami gelombang stres (a wave of stress) akibat perubahan hormonal dalam menjalani upaya pencapaian jati diri. Puisi bisa menjadi salah satu sarana penolong untuk membersihkan kegelisahan, kemarahan, atau kegalauan cinta di hati tanpa ada ketakutan menerima respons penghakiman dari pihak lain.Tidak jarang, para remaja memilih puisi juga guna memenuhi hasrat bereksperimen dengan identitas dan bahasa yang unik. Bagi mereka, menulis puisi berkaitan mesra dengan episode perjalanan hidup saat menyusuri proses pencarian jati diri dan peneguhan identitas di masa yang sedemikian penuh dengan gejolak emosi. Puisi adalah wahana untuk mendokumentasikan pertumbuhan, eksplorasi emosi pada saat muda, dan refleksi perkembangan jiwa yang mereka alami.Sementara itu, untuk sebagian orang dewasa, menulis puisi dapat bermanfaat untuk menjinakkan keliaran dan keberingasan trauma, kedukaan, atau tekanan dalam dinamika pekerjaan. Sedikitnya, dengan menuangkan perasaan yang bercokol dan menyesaki dada, ke dalam bait demi puisi dapat menolong seseorang memodifikasi emosi diri yang abstrak menjadi ungkapan puitis konkret dan terstruktur.Atau dengan perkataan lain, menulis puisi bagi orang dewasa. Entah apakah yang bersangkutan memang expert di bidang ini dan telah memiliki sejumlah antologi solo. Entah apakah yang bersangkutan hanya bisa merangkai kata indah dan kebetulan ingin mengekspresikannya ke dalam puisi. Sedikitnya, bagi orang dewasa, menulis puisi kerap kali menjadi upaya untuk memetik kuntum keindahan di tengah-tengah belitan rutinitas yang monoton. Atau, bisa pula untuk menghadirkan momen “keheningan” di sela sempit dunia yang sarat kebisingan.Dengan demikian, menulis puisi bisa menjadi sarana pemantauan emosi, pengevaluasian penyebab, dan pemodifikasian respons sehingga tidak bergerak menuju ke efek yang kurang positif. Puisi juga bisa berfungsi sebagai wahana yang relatif tidak berisiko guna melampiaskan, memeriksa, dan memahami perasaan tanpa harus mengomunikasikan secara langsung atau bersemuka (face to face) dengan teman dekat. Atau, yang mungkin tidak bisa terwadahi secara tuntas lewat percakapan biasa di jaringan pribadi WhatsApp misalnya.Pada realitasnya, memang ada perasaan tertentu yang kurang dapat menemukan bentuk ekspresinya secara tepat dan tuntas jika mewujud dalam komunikasi lisan antarpribadi. Dan, puisi ada kalanya menjadi tempat persemaian yang relevan ketika seseorang hendak menebarkan rasa marah, sedih, rindu, atau bahagia. Manakala seseorang menginginkan adanya kelenturan suatu komunikasi estetik, biasanya melakukan dialog dalam komunikasi intrapersonal (konversasi batin) akan lebih jujur melalui media puisi.Di samping itu, menulis puisi juga dapat membantu seseorang menyapa pengalaman traumatisnya tanpa kecanggungan emosional secara berlebihan. Dengan menulis puisi, seseorang dapat mengorganisasi pikiran sehingga berangsur dapat melangkah menuju ke akal sehat dan berkompromi dengannya. Pada gilirannya, seseorang itu dapat memberikan makna yang lebih spiritual terhadap pengalaman hidupnya serta mengeliminasi adanya tikaman psikologis yang mendistorsi kesejahteraan jiwanya.Menurut perspektif terapi psikologis, terdapat pendekatan Paradigma Menulis Pennebaker (Pennebaker Writing Paradigm). Pendekatan ini dikembangkan oleh psikolog sosial asal Amerika Serikat James Whiting Pennebaker (lahir 2 Maret 1950). Dia mencetuskan konsep terapi psikologis dengan melibatkan kegiatan penulisan yang mengekspresikan perasaan dan pikiran mengenai pengalaman traumatis atau emosional dalam sejumlah sesi singkat. Per sesi di kisaran 15 menit hingga 20 menit. Tujuannya, terutama untuk memperbaiki kualitas kesehatan mental.Pemberian MaknaMenulis puisi dapat pula memberi makna pada pengalaman hidup. (Sumber: Gemini 3 AI)Dengan menulis puisi, memberikan celah pemungkinan bagi subjek pelakunya untuk memberikan makna terhadap pengalaman yang terkadang terasa menyakitkan dan memberantakkan ketenangan jiwa. Menurut perspektif psikologi eksistensial, manusia membentuk narasi kehidupannya dengan menulis. Tentu saja termasuk puisi.Melalui penyusunan kata, acapkali dengan proses pendiksian yang mengambil waktu tidak sebentar, seseorang dapat membentengi dirinya, sehingga bisa berkelit dari posisi sebagai korban situasi. Sebaliknya, seseorang itu mengangkat derajat muruah kemanusiaannya sebagai “penafsir” dari pengalaman hidupnya sendiri.Sesungguhnya, proses menulis puisi itu secara alami membutuhkan introspeksi terhadap diri sendiri secara mendalam. Ada dorongan perenungan dan pengartikulasian pikiran dan perasaan guna mengarahkan pemahaman yang lebih baik terhadap sang aku.Ada dorongan untuk mengurai kekusutan perasaan dan pikiran melalui penyusunan struktur kata demi kata dalam sebuah puisi. Ada dorongan untuk menyediakan jarak yang aman dalam memainkan proses kreatif itu. Dan, puisi menyediakan ruang privasi dan kendali sepenuhnya berada di tangan sang penulis.Penulis puisi memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan ekspresi. Entah dengan puisi diafan yang memanfaatkan bahasa sehari-hari yang lugas berikut kepolosan maknanya. Entah dengan puisi prismatis yang membutuhkan kemampuan ekstra guna memahaminya, sarat dengan majas dan kiasan, serta multitafsir.Penulis puisi mempunyai hak prerogatif untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara transparan meski tentu saja tetap dalam balutan bahasa yang puitis. Sebaliknya, penulis puisi juga memiliki hak prerogatif yang sama manakala dia ingin memainkan kemampuannya mengolah metafora yang kompleks.Bisa kekasih. Bisa orang tua. Bisa masyarakat. Bisa apa saja yang menjadi subjek dedikasi dari kegiatan menulis puisi. Ia sesungguhnya media komunikasi yang halus dan mendalam. Lebih mengerahkan kekuatan sebagai penyampai pesan dengan penuh daya pikat getaran rasa daripada sekadar pesona logika bahasa.Dalam kehidupan ini kadang ada hal-hal yang terlampau rutin dan sensitif, sehingga langkah pengutaraannya memerlukan bentuk komunikasi tidak langsung. Dan puisi menjadi media yang relevan saat mengantarkan pesan tersirat dengan kiasan, metafora, simbolisme guna mendeskripsikan suasana batin sang penulis. Ada kegalauan, hasrat yang mendamba kembara, atau secarik kenangan tersisa dengan cara pengucapan subtil dan penuh hembusan makna.Puisi membuka keran pemungkinan bagi sang penulis untuk membagikan momen yang berada dalam album pengalaman hidup mereka. Dan, khalayak pembaca pun memperoleh kesempatan ketika menjalin interaksi dan bahkan dalam berbagi momen, sehingga memekarkan rasa koneksitas bersama.Kenapa puisi ditulis? Sebab, bahasa keseharian tidak jarang kurang mampu menerobos jiwa manusia hingga ceruk terdalam. Dalam perspektif psikologis, puisi berpotensi menjadi jembatan yang mengantarai alam bawah sadar (unconscious), alam prasadar (preconscious) dan alam sadar (conscious). Dengan demikian, menorehkan pemungkinan seseorang dari remaja hingga dewasa, dengan menulis puisi, dapat tetap “utuh” di tengah kehidupan yang kompleks.Kepekaan RasaUntuk menulis puisi perlu kepekaan rasa dan menguasai keterampilan teknis. (Sumber: Gemini 3 AI)Dalam kegiatan penulisan puisi dibutuhkan kepekaan rasa dan keterampilan teknis. Kepekaan rasa (feeling) merefleksikan empati sang penulis saat menyikapi fenomena sosial, agama, dan pengalaman personal secara mendalam. Terikut di dalamnya, kemampuan empati menangkap pikiran dan perasaan pihak lain guna memahami adanya perbedaan perspektif.Kepekaan rasa itu juga terkait dengan adanya kesadaran tinggi terhadap spektrum emosi yang bergejolak di hati. Demikian pula dengan kepekaan observasional, mengolah detail peristiwa di dunia sekitar sebagai inspirasi karya. Dan, tentu saja ada gamitan kepekaan bahasa. Menentukan diksi yang menggugah kesan nyata bagi khalayak pembaca, seolah mereka melihat dan merasakan sendiri apa yang menjadi ungkapan sang penulis puisi. Pun kepekaan akan auditif diksi untuk menegaskan suasana.Kepekaan rasa mencakup pula, kemampuan menggunakan puisi sebagai langkah introspektif memahami diri sendiri, sehingga dapat mengekspresikan dengan kejujuran jiwa. Serta, kemampuan menghadirkan citra dan realitas baru lewat diksi, untuk suatu lompatan kreatif dari realitas ke arah kemungkinan imajinatif hasil eksplorasi gagasan dan emosi secara tuntas.Sementara itu, keterampilan teknis menulis puisi berkaitan dengan upaya membangun fondasi struktur pengucapan yang kokoh guna menghadirkan dampak emosional suatu karya sehingga dapat melekat dengan kesan yang mendalam di hati khalayak pembaca. Ada sejumlah tahapan yang dapat diikuti.Pertama, menggali gagasan dengan langkah observasi, mulai dari hal sederhana di lingkungan sekitar atau pengalaman personal. Bisa pula dengan menstimulasi diri mendengarkan musik, melihat lukisan, membaca buku atau berita di berbagai media daring, pergi ke suatu tempat sekadar jalan-jalan untuk mendapatkan inspirasi.Jika gagasan sudah berada di genggam tangan, tapi masih juga kesulitan menuangkannya menjadi kata-kata, kita bisa memancingnya dengan memanfaatkan teknik “satu kata”. Beranjak dari satu kata kunci “rindu” misalnya, kita dapat mengumpulkan kata-kata yang bertautan dengan pancaindra sebagai bahan referensi untuk menimbang penyusunan larik demi larik puisi sesuai dengan ancangan tema yang sudah tergambar di pikiran.Dari pancaindra visual (penglihatan), kata kunci “rindu” dapat menerima pertalian dengan rangkaian kata-kata lain sehingga berbentuk frasa yang menunjukkan bayangan, memori, atau ingatan mengenai ciri-ciri fisik seseorang. Pada bagian wajah dari sosok menjadi subjek yang dirindukan, kita bisa menemukan bentukan “senyum memudar”, “tatapan mata”, “siluet di kejauhan”, “foto kusam”.Masih dari imaji visual, dari benda peninggalan subjek yang menjadi sasaran kerinduan kita, kita bisa memperoleh frasa-frasa seperti: “jaket yang tertinggal”, “surat dengan kertas menguning”, “jejak kaki di pasir”, “jendela yang basah dengan air hujan”.Lalu untuk suasana yang mendapat sentuhan pengedepanan sebagai bagian yang mendukung deskripsi tentang kecamuk rindu, bentukan frasanya antara lain: “senja yang jingga”, “lampu kota yang temaram”, “kursi kosong di kafe”, “bayang-bayang di dinding”.Dari pancaindra auditori (pendengaran), kata kunci “rindu” dapat membentuk relasi dengan rangkaian kata-kata lain sehingga berbentuk frasa yang bertalian dengan suara yang membangunkan ingatan atau kesunyian yang menelikung dengan siksa. Frasa yang menghadirkan imaji auditori tentang suara dari subjek yang dirindukan, antara lain “gema tawa”, “bisikan lembut”, “derap langkah kaki”, “petikan gitar yang terdengar akrab”.Imaji auditori dari subjek yang dirindukan itu, juga bisa mengambil bentuk kebiasaannya dalam mengambil porsi pemanfaatan teknologi komunikasi, yakni “nada dering telepon pintar” atau “notifikasi pesan”. Dapat pula imaji auditori dari alam, sebagaimana tertuang dalam frasa “desir angin yang memanggil nama”, “rintik hujan di atap rumah”, “kesunyian yang bising”, “hening yang terasa menyesakkan”.Dari pancaindra olfaktori (penciuman) dan gustatori (rasa), kata kunci “rindu” dapat membentuk relasi dengan rangkaian kata-kata lain sehingga berbentuk frasa yang bertalian sangat kuat dan langsung sebagai pemicu kehadiran memori emosional.Untuk ranah imaji olfaktori bisa muncul frasa “wangi parfum khas”, “bau tanah seusai hujan” (petrichor), “aroma kopi di pagi hari”, “bau masakan ibu”, “wangi pakaian yang belum dicuci”. Sementara itu, untuk ranah imaji gustatori dapat hadir frasa “manisnya cokelat pemberian”, “pahitnya perpisahan”, “rasa masakan rumah yang tak tergantikan”, “asinnya air mata”.Dari pancaindra taktil (sentuhan atau peraba), kata kunci “rindu” dapat membentuk relasi dengan rangkaian kata-kata lain sehingga berbentuk frasa yang bertalian dengan kontak fisik atau sensasi pada kulit. Frasa yang bisa menghadirkan di ranah imaji taktil yang mewujud sebagai kontak fisik, contohnya “genggaman tangan yang hangat”, “pelukan erat”, “belaian di kepala”.Adapun frasa yang menampilkan imaji taktil terkait dengan sensasi yang menimbulkan perasaan tersendiri tatkala menyentuh pada kulit, misalnya tampak pada deskripsi “dingin malam tanpa kehadiran sang dewi harapan”, “tekstur kertas surat yang kasar”, “hembusan napas yang terasa di leher”, “ujung jari yang menyentuh dada bidang”.Untuk lebih menguasai keterampilan teknis menulis puisi, ada baiknya banyak membaca karya-karya penyair (demikian sebutan untuk penulis puisi yang sudah terbilang pakar di bidang ini). Terutama mereka yang sudah tersohor namanya.Dari pengayaan pengalaman ini, seseorang dapat mencermati bagaimana gaya penulisannya, pilihan kata yang mereka terapkan dalam karya masing-masing, dan bagaimana cara mereka membangun makna. Bukan untuk mengimitasi secara brutal, melainkan hanya sebagai fondasi pijakan guna menemukan jati diri kepenulisan sendiri. Mencerna pengaruh dengan kecerdasan pelumatan.Konstruksi KataKata dalam puisi tidak hanya indah, tetapi juga merupakan representasi akurat dari perasaan sang penulis. (Sumber: Gemini 3 AI).Tahapan kedua dari penguasaan kegiatan teknis menulis puisi, yaitu melakukan konstruksi penyusunan kata demi kata menjadi larik, bait, dan pada akhirnya tampil sebagai karya yang sudah menjadi. Kata demi kata itu melalui pilihan yang presisi. Tidak hanya indah. Lebih daripada itu, juga merepresentasikan secara akurat perasaaan yang hendak tersampaikan kepada khalayak pembaca.Perlu ada upaya memperkaya khazanah perbendaharaan kosakata dengan banyak mengaktifkan kegiatan membaca puisi dan genre karya sastra lain, seperti novel, cerita pendek, naskah teater, ataupun esai naratif. Dan, tentu saja tidak bosan mengakses Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan saat bertemu dengan kata yang kurang familier maknanya. Atau, bisa juga menggunakan tesaurus, buku referensi daftar kata dengan sinonim dan antonimnya. Tujuannya, menghindari pemakaian kata yang terlalu klise.Termasuk ke dalam upaya mengonstruksi puisi, yaitu menerapkan majas metafora, personifikasi, atau simile guna melapisi ekspresi dengan makna yang lebih mendalam. Sementara itu, rima dalam konteks puisi bebas, lebih menunaikan fungsi untuk menciptakan musikalitas. Berikut menegaskan makna lewat bunyi vokal dan konsonan yang mempunyai keserupaan.Dalam puisi bebas ada rima asonansi, pengulangan bunyi vokal, guna memunculkan kesan lembut atau suasana tertentu dalam larik. Misalnya larik “berjalan membelah jagat”, ada pengulangan vokal “a” sebanyak lima kali yang menimbulkan efek keselarasan dan menguatkan kesan tentang langkah kaki yang lebar tatkala berjalan.Ada pula yang disebut rima aliterasi. Pengulangan bunyi konsonan. Mengangsurkan efek penegasan atau ritme yang kuat pada larik puisi, seperti “angin dingin berderik” (ada imaji auditori tentang onomatope bunyi pintu besi terbuka). Dalam larik ini terjadi empat kali pengulangan konsonan “n” dan dua kali pengulangan konsonan “d” untuk menghadirkan kesan dingin yang tajam dan suasana mencekam.Selanjutnya, terdapat juga rima bebas akhir tanpa pola tetap. Kerap kali muncul secara acak, dalam artian tidak membentuk pola tertentu (aaaa atau abab) secara konstan. Contoh beberapa larik Puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) berikut: //Aku ingin mencintaimu dengan sederhana (a)/ dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu (b)/ kepada api yang menjadikannya abu (b)// (polanya abb).Adapun bait berikutnya dengan pola rima akhir berbeda: //Aku ingin mencintaimu dengan sederhana (a)/ Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan (b)/ Kepada hujan yang menjadikannya tiada (a)// (pola aba). Kendatipun tidak memiliki pola rima seragam, yaitu bait pertama dengan pola abb dan bait kedua dengan pola aba, terdapat keselarasan bunyi internal yang dapat merawat keindahan tuturan ekspresinya.Tidak ketinggalan, dalam puisi bebas terdapat rima musikalitas, melalui pilihan kata-kata dengan bunyi silabel akhir yang sama untuk memunculkan efek nyanyian, seperti kata “membubung” dengan “melambung” atau “melawan” dengan “menawan”. Tercipta harmoni bunyi yang terkait satu sama lain.Begitu pula dengan tipografi. Tata letak larik dan bait dalam puisi. Ada sejumlah penyair yang menempatkan pola seluruh larik harus rata kiri atau dengan pola visual tertentu (tanda tanya [?] misalnya) ini menjadi bagian integral dari makna. Dan, sudah pasti dengan tetap menjaga muruah eksistensi puisi yang padat dan ringkas agar tetap terkondisi esensi emosinya.Setelah seseorang menganggap aktivitas penulisan puisinya telah menjadi, ada yang menerapkan proses inkubasi (pengendapan). Membiarkan draf puisi tersimpan baik secara digital maupun fisik selama beberapa waktu sebelum yang bersangkutan membacanya kembali dengan tatapan mata pikiran dan perasaan yang lebih jernih dan segar.Pembacaan ulang itu dapat untuk merevisi ataupun mengoreksi dengan lebih cermat soal ketepatan diksi hingga aspek kebahasaan yang fundamental, seperti kata depan (preposisi) yang penulisannya secara ejaan baku mesti terpisah. Bisa juga dengan cara membacakan secara bersuara draf puisi itu di kamar sendiri. Kalau terdengar ada yang janggal di telinga, dapat segera dilakukan perubahan susunan kata atau jeda lariknya demi capaian ritme yang sesuai dengan tuntutan tema.Menyediakan masa inkubasi sebelum puisi memasuki edar publikasi, pada sejumlah penulis profesional memang menjadi anjuran. Dengan demikian, seseorang dapat memperoleh jarak emosional dengan karyanya. Ketika baru saja menulis, dia masih merasa sangat terikat, sehingga kurang mampu melihat sisi-sisi kelemahannya. Dengan mengendapkan setidaknya tiga hingga tujuh hari, seseorang akan lebih dapat memandang secara objektif puisinya seolah seperti karya milik orang lain.Proses swasunting (self-editing) yang berlangsung setelah ada jeda pengendapan, dapat membantu seseorang mencermati misalnya ada ketidaksesuaian tipografi, rima yang tampak kurang pas, atau diksi yang belum seutuhnya merepresentasikan pikiran dan perasaannya. Bisa jadi sebelumnya tidak tersentuh perhatian, tapi seiring dengan adanya proses inkubasi tersebut, pikiran seseorang dapat lebih mantap untuk meyakini apakah sesungguhnya dia ingin menuliskan struktur lain dari yang sekadar sudah menjadi realitas tertulis.Pematangan makna juga bisa dicapai lewat pemanfaatan masa inkubasi ini. Tidak jarang, gagasan yang tampak begitu cemerlang pada suatu waktu, ketika mengalami pembacaan ulang dari si penulisnya sendiri dapat terasa berubah drastis pada sejumlah hari kemudian. Ada ekspresi naif yang tersembul. Ada logika estetika yang konyol. Ada entah apa lagi. Oleh karena itu, proses pengendapan itu dapat membuka celah kesempatan untuk memperdalam metafora dan simbolisme. Pun memangkas sisi yang tidak relevan sehingga pesan artistik dapat meluncur ke khalayak penikmat dengan lebih kuat.Dalam realitasnya, puisi tidak jarang memiliki sifat yang sedemikian personal. Penyediaan jeda waktu inkubasi, membantu seseorang memastikan apakah kandungan kontennya memang layak menjadi konsumsi publik. Atau justru sebaliknya, lebih patut hadir sebagai catatan pribadi di penyimpanan dokumen telepon genggam. Nah, melalui masa inkubasi itu, seseorang dapat dengan mantap dan meminimalisasi penyesalan yang akan timbul pada kemudian hari, bilamana puisi tersebut telah telanjur terpublikasikan.Dewasa ini banyak pilihan untuk memublikasikan puisi.Bisa ke media digital dan situs sastra khusus, seperti Basabasi.co, Kurungbuka.com, Ruang Sastra & SIP Publishing (khusus puisi di Ruang “LiteraSIP”). Bisa juga di media sosial, seperti Instagram, TikTok, FaceBook untuk menampilkan puisi dalam format kutipan gambar, video pertunjukan baca puisi (reels). Atau kolaborasi visual dengan akun komunitas seperti @funbahasa.Bisa pula melalui platform blog, seperti Medium, yang merupakan wadah ekspresi lebih formal bagi penulis yang berkeinginan memublikasikan antologi puisi mandiri dengan performa tampilan estetis. Sebagai catatan tambahan, Medium dewasa ini masih eksis dan istikamah mendukung para penulis dan kreator konten lewat sejumlah langkah pembaruan.Langkah pembaruan itu berupa Peningkatan Fokus pada Kualitas. Algoritma Medium pada tahun 2026 ini, lebih memberikan prioritas terhadap tulisan mempunyai kedalaman, kejujuran emosi, dan perspektif unik. Berbanding dengan konten yang hanya sebatas melajukan langkah seiring dengan tren, hasil kerja Artificial Intelligence (AI) secara massal.Ada pula Medium Partner Program yang masih terus bergerak dan mengalami penyesuaian guna memberi nilai lebih kepada penulis yang sukses membentuk relasi riil dengan khalayak audiensnya. Termasuk dengan melewati lalu lintas eksternal dan pelanggan newsletter.Juga sebagai Wadah Komunitas Sastra. Di Tanah Air, Medium masih menjadi pilihan populer bagi penulis puisi berkat desain apiknya sehingga menggampangkan pembaca fokus terhadap teks. Di samping itu, ada Fitur Publikasi Mandiri, yang dapat berfungsi menjadi majalah digital pribadi guna menempatkan karya-karya puisi seseorang secara profesional.Tataran ProfesionalDi kalangan penyair, pekerja sastra yang ahli, puisi adalah hasil dari disiplin kerja kreatif. (Sumber: Gemini 3 AI)Puisi bagi kalangan penyair, sebutan untuk kalangan penulis puisi yang ahli (profesional), tidak memperlakukan puisi sebagai sekadar wadah untuk menampung tumpahan perasaan yang instan. Aktivitas menulis puisi bagi mereka adalah sebuah disiplin kerja kreatif dengan mengaktifkan kemampuan pada tataran ahli dari proses teknis penyusunan, pergumulan intelektual yang berkesinambungan, dan pengembaraan ke lorong terdalam dimensi spiritualitas kemanusiaannya.Para penyair profesional itu memperlakukan dunia di sekitarnya sebagai bahan yang masih mentah. Mereka dengan kepiawaian dan ketajaman inderawi masing-masing, mendudah alam, peristiwa sosial, ataupun dimensi batinnya. Penyair Britania Raya William Wordsworth (7 April 1770 - 23 April 1850) menekankan, observasi merupakan tahap awal penciptaan. Penyair dapat mencatat rincian demi rincian yang bisa jadi tidak menjadi perhatian orang awam.Keterlibatan inderawi dan emosional yang jauh lebih mendalam penyair profesional daripada kalangan awam, menyebabkan adanya warna pembeda hasil observasi. Ketika orang awam melihat bunga, bisa jadi yang menjadi catatan adalah “bunga itu merah dan harum”. Akan tetapi, penyair profesional saat melihat benda yang sama akan mencatat detail mikroskopisnya.Manakala observasi kalangan awam hanya menggapai perhatian pada realitas “mawar yang telah layu”. Untuk menulis puisi, penyair mencoba mengobservasi proses pembusukan yang artistik itu dengan catatan terinci: “Bukan sekadar merah, pinggiran kelopak mawar itu mulai tampak kecokelatan dan mengerut seperti kertas terbakar. Ada sisa air hujan yang terperangkap di pangkal putik. Tampak seperti minyak kental. Bukan air bening biasa”.Manakala observasi kalangan awam hanya menghasilkan catatan dari hasil realitas yang mereka lihat, yaitu “hutan pinus dengan hembusan angin”. Untuk menulis puisi, penyair juga mencatat hasil observasinya juga untuk suara, bau, rasa sentuhan dan tentu saja objek visualnya. “Suara angin di antara pohon pinus ini tidak bersiul. Tapi, lebih serupa gesekan kain sutra yang robek. Bau tanah setelah hujan di sini tidak segar. Ada aroma besi dan karat yang menyengat”.Manakala observasi kalangan awam hanya merekam realitas lampu penerang jalanan di perkotaan yang rusak sehingga tidak bisa menyala sempurna sebagai akibat gangguan teknis. Untuk menulis puisi, penyair melihat realitas yang sama sebagai simbol kecemasan dan kerapuhan. Penyair menghubungkan objek fisik (lampu jalanan di perkotaan yang terganggu) dengan kecamuk perasaan internal yang terjadi di dalam dirinya.Bisa jadi, penyair itu akan mencatat hasil observasinya, semisal demikian: “Lampu jalanan di tengah perkotaan yang berkedip itu mengingatkan aku saat menunggu kabar buruk di koridor rumah sakit, beberapa tahun lalu. Cahaya kuningnya terasa melelahkan. Seolah-olah ia ingin menyerah pada kegelapan”.Manakala observasi kalangan awam lebih terarah fokusnya pada keramaian di pasar, penyair justru mengarahkan fokusnya pada terhadap gangguan kecil yang mengubah ritme suasana. Untuk observasi menulis puisi, penyair itu malahan membubuhkan catatan perhatian kepada apa yang tidak terjadi di keramaian pasar itu. Atau, justru pada peristiwa yang terjadi di sela-sela aktivitas utama yang semestinya menonjol.Bisa jadi lagi, sebelum menulis puisi. penyair itu memberikan catatan hasil observasinya kira-kira begini: “Di pasar yang ramai itu, ada jeda tiga detik setiap kali kereta api lewat di kejauhan – saat semua pedagang berhenti bicara serempak seolah-olah sedang berdoa. Aku ingin menangkap kesunyian kolektif yang singkat itu”.Selama proses observasi dengan catatan yang unik seperti tertuang pada contoh di atas, penyair (sebutan untuk penulis puisi yang profesional), dalam proses yang bersamaan melakukan pengumpulan kata kerja (verba) atau kata sifat (adjektiva) yang relatif jarang frekuensi penggunaannya. Bila hal ini relevan pemanfaatannya, maka perlu ada catatan untuk diri sendiri, seperti “Jangan pakai ‘jatuh’. Gunakan ‘meluruh’, ‘luruh’, ‘terhempas’, ‘menjuntai’, atau ‘mengendap’. Daun ini tidak jatuh, ia ‘menyerah pada gravitasi dengan ragu’.”Selain itu, penyair acapkali meminjam siklus hidup bunga (mekar, layu, gugur) di tataran mikroskopis guna menangkap adanya kerapuhan dan kefanaan kehidupan manusia. Rincian deskripsi mengenai kelopak bunga yang layu atau serbuk sari yang tak kuasa menolak tatkala angin menerbangkannya merupakan simbol tentang siklus eksistensi.Pandangan mikroskopis penyair untuk menikmati keindahan bunga yang tampak sekilas berstruktur, bertekstur, dan berinteraksi biologis yang rumit saat mendapat pengamatan lebih dekat. Hal ini mengingatkan kita, betapa realitas di balik tampilan luarnya kerap lebih kompleks.Lewat rincian mikroskopis, penyair membuka diri untuk tiba pada temuan dan upaya eksplorasi tema universal, seperti relasi manusia dengan alam, kerinduan, dan duka nestapa dengan objek yang kelihatan sahaja. Detail kecil dari bunga dapat mengekspresikan emosi subtil, halus dan lembut. Misalnya embun pagi di ujung mahkota, pola urat daun, dapat menyampaikan sentuhan emosi yang begitu sarat sentuhan dan personal.Pada konteks puisi perjuangan, seperti “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul (lahir 26 Agustus 1963 - 10 Februari 1998 menurut kabar yang beredar dia telah menghilang), “bunga” yang secara mikroskopis rapuh justru menjadi simbol keberanian dalam menghadapi rintangan besar (“tembok”). Bunga di sini mewakili semangat rakyat jelata memperjuangkan hak-haknya yang fundamental.Substansinya, konsep mikroskopis memberikan celah kesempatan kepada penyair untuk melampaui deskripsi visual reguler. Dengan demikian, mampu menghidangkan bunga sebagai subjek yang begitu sarat makna filosofis dan emosional. Mempertalikan detail ilmiah bersama pengalaman manusia secara mendalam.Tatkala penyair mengobservasi bunga saat hendak menulis puisi juga dengan mencermati teksturnya. Mereka tidak memandang tekstur bunga sebagai objek visual semata, tetapi dengan pengamatan yang mengaktifkan segenap indra dan imajinasi guna mempertegas raut makna di belakang bentuk fisik itu.Pengamatan sensorik detail, mendorong penyair tidak semata melihat warna bunga, tetapi juga membayangkan sensasi sentuhan di permukaan bunga itu. Deskripsi tentang tekstur tidak jarang memakai kata konkret “halus” atau “lembut” seperti beludru sutra misalnya pada kelopak mawar.Kata “kasar” dan “berduri” bisa pula untuk menegaskan pertahanan atau luka. Kata “lilin” dan “licin” guna menggambarkan kemewahan atau ketahanan seperti pada anthurium. Kata “keriput”, “kaku”, “rapuh” menunjukkan usia dan kefanaan.Dalam penulisan puisi, penyair juga menggunakan teknik fokus mikro (zoom-in). Mereka mengobservasi bunga pada jarak dekat guna mendapatkan rincian kecil yang sering terabaikan, seperti “urat-urat halus pada kelopak”, “butiran embun yang menempel”, “serbuk sari yang serupa debu halus”.Tekstur bunga dapat dimainkan sebagai majas. “Kelopak bunga yang kian berkerut” dapat berperan sebagai metafora yang representatif untuk menyebut kondisi kulit yang telah menua. Terkait dengan suasana hati, seperti tekstur tajam bisa jadi lambang kemarahan atau penderitaan. Tekstur lembut untuk lambang asmara dan ketenangan.Tekstur bunga pun bisa mengacu pada perubahan waktu, misalnya dari semula segar dan kencang berubah menjadi layu dan kering yang berujung pada torehan tema tentang kefanaan hidup (transience).Dari sudut perspektif penyair, setiap kata merupakan instrumen yang mempunyai bobot, warna, dan bunyi tersendiri. Penyair tidak menentukan diksi secara acak. Akan tetapi, mereka memilihnya dengan tingkat kecermatan tinggi untuk merepresentasikan gagasan dengan warna emosi tertentu, bisa sedih, bisa marah, atau bisa pula menyesal.Para penyair menjadikan karya puisi mereka sebagai ikhtiar budaya yang secara kontinu menyalakan api kesadaran dan pencerahan kemanusiaan. Dalam konteks sejarah dan filsafat, ikhtiar budaya kerap mendapat pengaitan dengan Aufklärung (pencerahan), gerakan intelektual dan budaya di Eropa pada abad ke-18 yang bertujuan membebaskan manusia dari ketidaktahuan menggunakan rasio dan empati.Juga acapkali mendapat kaitan dengan Humanisme yang berkembang pada era Renaisans (abad ke-14 - ke-16) di Eropa. Aliran pemikiran yang menjunjung tinggi nilai, martabat, dan kesadaran manusia sebagai pusat dari segala pertimbangan. Di samping itu, pun terkoneksi dengan konsep transformasi kesadaran. Suatu proses berkesinambungan untuk meningkatkan kepekaan sosial dan spiritual individu agar menemukan keselarasan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.Di tangan penyair, kendatipun puisi memiliki sifat imajinatif, tetap berada dalam ranah penulisan yang memerlukan nalar logis untuk mengonstruksi metafora sehat sehingga kompleksitas emosi yang terkandung di dalamnya dapat lebih mudah terjaring pemahaman khalayak pembaca.Ada kesadaran di dalam diri para penyair profesional, bahwa mereka bekerja dan berkarya dalam rentang panjang sejarah sastra. Mereka kadang menengok sebentar ke belakang untuk mempelajari tradisi penulisan sebelumnya. Kemudian berpaling ke depan dengan bekal gaya penulisan pribadi yang bakal memperkaya khazanah puisi di masa depan. Bagi penyair profesional, menulis puisi adalah jalan untuk “membuat sejarah” lewat jejak kata-kata yang mereka wariskan kepada generasi mendatang. ***