KBRI Tunis Gelar diskusi buku di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40. Foto: KBRI Tunis Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tunis diundang sebagai tamu kehormatan di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40, Sabtu (2/5). Dalam perhelatan itu, KBRI juga turut menggelar diskusi terbuka yang membawakan nilai-nilai kebangsaan mulai dari Pancasila, Bung Karno hingga Jakarta. Dalam acara ini sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber: Zuhairi Misrawi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia; Ziyad Krisyan, wartawan senior Harian al-Maghrib; Fadhil Thayyasyi, wartawan Harian al-Syuruq. Dalam pameran ini, Indonesia sebagai Tamu KehormatanDalam diskusi bertajuk “Pancasila Falsafah Indonesia”, Zuhairi menegaskan bahwa Pancasila menjadi fondasi utama persatuan Indonesia."Pancasila merupakan falsafah dan ideologi bangsa Indonesia, yang telah terbukti mempersatukan semua elemen bangsa yang beragam, baik dari segi agama, bahasa, maupun suku. Pancasila menjadikan Indonesia mampu membangun peradaban bangsa. Sebab inti dari Pancasila, sebagaimana disampaikan Bapak Proklamator Bangsa, Sukarno, adalah gotong-royong. Kami percaya, selama gotong-royong masih hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Indonesia mempunyai kesempatan untuk berperan besar dalam membangun peradaban dunia", ujar Duta Besar lulusan Universitas Kairo, Mesir ini. Duta Besar RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi mendampingi Mufti Tunisia yang juga sebagai Imam Besar Masjid Zaitunah Syaikh Hisyam bin Mahmud saat mengunjungi Paviliun Indonesia di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40 (29/4/2026). Foto: KBRI Tunis Ia menambahkan bahwa Pancasila juga menjadi landasan penting dalam diplomasi Indonesia."Kami percaya, bahwa Pancasila dapat menjadi fondasi dalam membangun peradaban diplomasi. Di dalam Pancasila ada spirit persahabatan dan kerjasama. Sebab itu, Pancasila dalam tindakan menjadi kata kunci dalam membangun peradaban Indonesia dalam konteks global. Falsafah Indonesia-Tunisia sahabat merupakan Pancasila dalam tindakan, yang akan membangun harapan untuk mewujudkan kemaslahan bersama bagi kedua negara", ujarnya.Sementara itu, jurnalis Tunisia yang pernah berkunjung ke Indonesia, Ziyad Krisyan dan Fadhil Thayyasyi, menyebut bahwa nilai Pancasila benar-benar diwujudkan dalam kehidupan nyata.Lalu, dalam diskusi buku “Gerbang Pintu Timur: Pengalaman Mahasiswi Tunisia di Indonesia” menghadirkan penulis Nahed Zidenhum yang membagikan pengalaman studinya di Indonesia.Dubes Zuhairi menekankan peluang besar bagi mahasiswa Tunisia untuk menempuh pendidikan di Indonesia.KBRI Tunis Gelar diskusi buku di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40. Foto: KBRI Tunis "Buku ini merupakan bukti Indonesia menyambut baik dan memberikan kesempatan pada para mahasiswa Tunisia untuk belajar di berbagai kampus Indonesia. Kementerian Pendidikan Tinggi mempunyai program khusus para mahasiwa Tunisia untuk belajar di berbagai kampus Indonesia. Tapi, selain itu, para kampus juga memberikan beasiswa bagi para mahasiswa Indonesia untuk belajar di Indonesia. Peluang sangat besar, tinggal kemauan dari para mahasiswa Tunisia", ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya diplomasi berbasis pendidikan."Diplomasi kebudayaan melalui program beasiswa pendidikan terbukti sangat efektif dalam mempererat hubungan bilateral Indonesia-Tunisia. Pengalaman menimba ilmu dan berteman dengan warga setempat memberikan kesan positif dan konstruktif, sehingga membuka peluang untuk mengembangkan diplomasi ekonomi. Sebab itu, kami dengan senang hati menyambut para mahasiswa asal Tunisia untuk belajar di Indonesia", pungkasnya.Sementara Nahed Sidnhum menyampaikan apresiasinya terhadap Indonesia."Saya berterima kasih pada pemerimtah Indonesia melakui KBRI Tunis, yang telah memberikan kesempatan untuk kuliah di negeri yang indah dan warganya ramah. Buku ini adalah tanda terima kasih saya pada Indonesia", ujarnya.Jakarta dalam Perspektif Penulis TunisiaPada diskusi buku “Jakarta: Jantung Kota Indonesia Yang Selalu Menyala” karya Muhammad Mathri Shumayda mengangkat wajah ibu kota Indonesia sebagai simbol sejarah dan modernitas.Dubes Zuhairi menjelaskan posisi strategis Jakarta dalam perjalanan bangsa."Jakarta menjadi kota yang di dalamnya menyatu antara historisitas dan modernitas. Sejarah Jakarta hampir lima abad, hingga menjadi wajah keindonesiaan, karena menjadi kota bersejarah untuk proklamasi Indonesia. Saat ini, Jakarta menjadi wajah modernitas, yang terus tumbuh dengan alokasi perekonomian yang sangat besar dan menjanjikan. Sebab itu, Jakarta menjadi kota yang terus menyala, bergelora, dan menghadirkan harapan", ujar Zuhairi.KBRI Tunis Gelar diskusi buku di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40. Foto: KBRI Tunis Ia juga menyoroti perkembangan kota yang semakin humanis."Kami sangat bangga, karena Jakarta tumbuh menjadi kota yang semakin memanusiakan manusia dengan semakin tersedianya ruang publik, perpustakaan, transportasi publik, dan berbagai infrastruktur lainnya, yang berpihak pada kepentingan warga", pungkasnya.Sementara penulis menilai Jakarta sebagai kota yang megah dengan masyarakat yang ramah.Api Islam Bung Karno dan RelevansinyaSalah satu buku yang dibahas juga membahas Presiden Pertama, Sukarno. Buku yang dibahas adalah “Api Islam Bung Karno”, yang mengangkat pemikiran Sukarno tentang Islam yang berkemajuan.Dubes Zuhairi menegaskan relevansi gagasan tersebut hingga kini."Bung Karno sebagai Bapak Proklamator Bangsa telah melahirkan gagasan besar, yaitu Api Islam. Pemikiran ini masih relevan hingga sekarang ini, dan berhasil memperkokoh nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Bung Karno mengajarkan dan mengajak bangsa Indonesia agar memahami ajaran Islam yang berkemajuan dan rasional, sehingga umat Islam dalam berperan besar dalam membangun peradaban Indonesia," kata Zuhairi.KBRI Tunis Gelar diskusi buku di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40. Foto: KBRI Tunis Ia menambahkan bahwa gagasan tersebut mendapat perhatian luas di dunia Islam."Pemikiran Api Islam Bung Karno mendapatkan sambutan luas di dunia Islam, karena Islam berhasil menjadi perekat di antara umat Islam, dan juga mempersatukan warga bangsa. Puncaknya, pemikiran Api Islam Bung Karno dapat mewujudkan perdamaian dunia. Sebab Islam berkemajuan bertujuan memanusiakan manusia dan berorientasi pada kesejahteraan dan keadilan sosial", ucapnya.Cendekiawan Tunisia, Muhammad Haddad, turut menilai Sukarno sebagai pemikir besar."Bung Karno adalah sosok pemikir besar, karena membaca karya-karya besar dari pemikir besar dan menguasai berbagai bahasa. Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah Pidato Pancasila 1 Juni 1945 merupakan pemikiran besar, karena menjadikan kebangsaan sebagai pilar utama", ujarnya.Rangkaian diskusi ini menegaskan peran aktif Indonesia dalam diplomasi budaya dan intelektual di Tunisia, mulai dari penguatan nilai Pancasila hingga promosi karya literasi yang merepresentasikan pengalaman, kota, dan pemikiran besar Indonesia di panggung internasional.