Siapa yang Harus Bayar dalam Pacaran?

Wait 5 sec.

ilustrasi : pacaran standar tiktok, foto:chatGPTDi media sosial seperti TikTok, sering muncul perdebatan tentang hubungan pacaran. Ada anggapan bahwa laki-laki ideal itu yang selalu membayar, menanggung biaya, dan punya kondisi finansial stabil. Di sisi lain, perempuan sering digambarkan sebagai pihak yang minta dibayari, minta hadiah, atau punya standar pacaran yang mahal.Kalau dilihat sekilas, ini terlihat seperti masalah sederhana. Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Kalau pakai cara berpikir Simone de Beauvoir, seorang pemikir feminisme, kita bisa melihat bahwa ini bukan sekadar soal sifat individu, tetapi soal cara masyarakat membentuk peran laki-laki dan perempuan dalam hubungan.Menurut Beauvoir dalam The Second Sex, laki-laki sering dianggap sebagai standar utama, sedangkan perempuan dianggap sebagai yang lain, atau pihak kedua. Tapi posisi laki-laki sebagai standar ini bukan berarti bebas, karena justru mereka juga dibentuk oleh aturan-sosial. Salah satunya adalah tuntutan menjadi penyedia-ekonomi, atau provider.Jadi sebenarnya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terjebak dalam aturan-sosial yang membatasi cara mereka menjalani hubungan, hanya saja bentuknya berbeda.Di era TikTok, cara pandang ini jadi makin kuat. Konten tentang laki-laki harus bayar semua, atau perempuan cuma mau laki-laki kaya, sering viral. Tapi ini bukan berarti semua orang seperti itu. Algoritma media-sosial memang cenderung mengangkat konten yang memicu emosi, dan konflik, bukan yang menggambarkan realitas secara utuh.Kalau kita lihat lebih dalam, masalah ini juga berhubungan dengan kelas-sosial. Standar pacaran mahal seperti makan di restoran-fancy, atau hadiah mahal, biasanya berasal dari gaya hidup kelas-menengah kota. Padahal tidak semua orang hidup di kondisi seperti itu. Banyak orang justru lebih nyaman dengan gaya pacaran sederhana.Di sini terlihat bahwa beban sebagai laki-laki harus selalu bayar bukan hanya soal gender, tetapi juga soal ekonomi. Laki-laki dari kelas-ekonomi rendah sering merasa tertekan karena dituntut menjadi penyedia, padahal kemampuan finansialnya terbatas.Kalau pakai konsep Beauvoir, ini bisa dijelaskan lewat dua hal, immanence dan transcendence. Immanence itu kondisi ketika seseorang terjebak dalam peran yang itu-itu saja. Sementara transcendence adalah kemampuan untuk berkembang dan keluar dari batasan itu.Dalam konteks ini, banyak laki-laki terjebak dalam peran harus selalu punya uang supaya dianggap layak dalam hubungan. Jadi kebebasan mereka sebenarnya juga terbatas.Tekanan ini juga berdampak ke psikologis. Banyak laki-laki merasa harus selalu kuat secara finansial, dan kalau tidak bisa, mereka merasa gagal sebagai laki-laki. Akibatnya, emosi, kerentanan, dan sisi manusiawi mereka sering ditekan.Di sisi lain, media-sosial seperti TikTok memperkuat hal ini karena algoritmanya lebih suka konten yang ekstrem, dan memancing perdebatan. Akhirnya orang jadi merasa seolah-olah hubungan itu cuma soal siapa bayar siapa, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.Dalam salah satu pandangan yang juga disampaikan oleh konten-edukatif Mprog Media, relasi pacaran yang sehat seharusnya tidak dibangun di atas dominasi satu pihak. Hubungan yang baik adalah hubungan yang setara, di mana tidak ada pihak yang mengontrol secara penuh, baik dari segi uang, emosi, maupun keputusan.Kalau dilihat lebih sederhana, keadilan dalam hubungan itu bukan soal harus selalu 50-50, tetapi lebih ke jujur melihat kondisi masing-masing. Kalau suatu waktu laki-laki punya uang lebih, wajar kalau dia yang membayar. Tapi kalau perempuan yang sedang punya rezeki atau kemampuan, dia juga bisa ikut ambil peran itu.Intinya, tidak ada aturan-kaku siapa yang harus selalu bayar. Yang penting adalah saling mengerti kondisi masing-masing.Contohnya bisa sangat sederhana. Kadang laki-laki yang bayar tiket nonton, perempuan yang bayar makan. Atau hari ini laki-laki yang traktir, besok gantian perempuan. Bisa juga laki-laki bayar makanan-utama, perempuan bayar kopi atau jajanan setelahnya. Semua itu sah saja, selama dilakukan dengan sadar dan tidak ada paksaan.Kalau laki-laki cuma mampu makan di warung sederhana, pasangan yang baik seharusnya bisa menerima itu tanpa menuntut gaya hidup yang lebih mahal. Begitu juga sebaliknya, tidak ada alasan untuk memaksa pasangan di luar kemampuan ekonominya.Bahkan dalam praktik sehari-hari, hubungan yang sehat itu justru fleksibel. Tidak selalu dihitung, tidak selalu dipaksa seimbang secara angka, tetapi mengalir sesuai kondisi. Ada momen satu pihak lebih kuat secara finansial, ada momen pihak lain yang mengambil peran lebih besar.Dengan cara seperti ini, pacaran bukan lagi soal siapa yang lebih kuat secara uang, atau siapa yang lebih dominan. Tetapi lebih ke saling pengertian, saling menyesuaikan, dan saling menjaga kenyamanan satu sama lain.Kalau dipikir lebih dalam, yang sering bikin hubungan jadi ribut itu bukan soal uangnya, tetapi soal ekspektasi yang kaku. Misalnya harus makan di tempat mahal, harus selalu dikasih hadiah, atau harus selalu diperlakukan dengan standar tertentu tanpa melihat kondisi pasangan.Padahal setiap orang punya latar-belakang ekonomi yang berbeda. Ada yang sedang stabil, ada yang sedang berjuang, ada yang baru mulai mandiri. Kalau semua itu tidak dipahami, hubungan jadi terasa seperti lomba kemampuan-finansial, bukan hubungan dua orang yang saling peduli.Dalam sudut pandang Marx, keadilan itu bukan soal pembagian yang sama persis, tetapi soal melihat kondisi nyata setiap orang. Karena setiap orang hidup dalam struktur ekonomi yang berbeda. Jadi kalau kita memaksakan standar yang sama untuk semua orang, itu justru bisa jadi tidak adil.Perempuan juga sering punya tekanan-sosial seperti standar kecantikan, atau beban ekonomi tertentu. Sementara laki-laki punya tekanan sebagai penyedia. Jadi sebenarnya kedua pihak sama-sama punya beban, hanya bentuknya berbeda.Karena itu, hubungan yang sehat bukan hubungan yang kaku seperti aturan pasar, tetapi hubungan yang fleksibel, saling mengerti, dan bisa menyesuaikan kondisi.Lebih jauh lagi, kalau kita tarik ke refleksi yang lebih dalam, hubungan pacaran sebenarnya bukan arena untuk saling menguji kemampuan ekonomi. Hubungan itu lebih dekat ke ruang emosional, tempat dua orang belajar memahami batas, kemampuan, dan kondisi satu sama lain.Dalam hubungan seperti ini, uang memang tetap penting, tetapi bukan sebagai alat dominasi atau ukuran nilai seseorang. Uang hanya menjadi salah satu bagian dari dinamika yang bisa dinegosiasikan secara sehat.Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa setiap orang punya kondisi yang berubah-ubah. Hari ini mungkin seseorang bisa lebih mampu, tetapi besok bisa saja sebaliknya. Jadi hubungan yang baik adalah hubungan yang tidak mengikat peran secara kaku.Dalam praktiknya ini berarti pasangan harus bisa saling membaca kondisi tanpa paksaan. Tidak ada tuntutan yang melampaui kemampuan. Tidak ada standar yang membuat salah satu pihak merasa selalu kurang.Pada akhirnya, hubungan yang baik adalah hubungan yang tidak memaksa, tidak menuntut di luar kemampuan, dan tidak menjadikan uang sebagai ukuran utama nilai seseorang. Hubungan seperti ini lebih manusiawi karena dibangun dari komunikasi, empati, dan saling pengertian.Namun ada satu hal yang perlu dikritisi lebih keras. Ketika pacaran mulai dipahami sepenuhnya sebagai hubungan transaksional, di mana setiap perhatian harus dibalas dengan nilai yang setara, di situlah hubungan kehilangan esensinya sebagai ruang kemanusiaan. Relasi berubah menjadi seperti perhitungan utang-piutang yang dingin, seolah cinta bisa dihitung dengan kalkulator, dan dinilai dengan struk-belanja.Cara pandang seperti ini perlahan mengikis makna kedekatan itu sendiri. Orang tidak lagi melihat pasangan sebagai subjek yang utuh, tetapi sebagai daftar manfaat dan kerugian. Padahal manusia tidak bisa direduksi menjadi angka. Tidak semua hal dalam hubungan bisa dihitung, dan tidak semua pengorbanan bisa diukur dengan uang. Ketika cinta dipaksa masuk ke logika-transaksi, yang tersisa hanya hubungan yang rapuh, penuh tuntutan, dan mudah digantikan ketika dianggap tidak lagi seimbang.Justru di sinilah kesalahpahaman terbesar era-digital, mengira bahwa keadilan sama dengan keseimbangan angka, padahal keadilan yang paling manusiawi lahir dari kemampuan untuk memahami, bukan menghitung.Dalam kerangka Beauvoir, kebebasan dalam hubungan bukan soal siapa yang bayar, tetapi soal bagaimana dua orang bisa menjadi subjek yang sama-sama bebas. Tidak ada dominasi, tidak ada paksaan-peran, dan tidak ada standar yang memenjarakan salah satu pihak.Kalau sudah sampai di titik itu, pacaran bukan lagi soal transaksi, tetapi soal dua manusia yang saling memahami dan berjalan bersama sesuai kondisi masing-masing, dengan jujur, setara, dan manusiawi.Kalau sudah sampai di titik itu, pacaran bukan lagi soal transaksi, tetapi soal dua manusia yang saling memahami dan berjalan bersama sesuai kondisi masing-masing, dengan jujur, setara, dan manusiawi.Dalam kondisi tertentu, relasi yang sudah bergeser menjadi transaksional dapat melahirkan pola yang lebih berbahaya secara psikologis. Misalnya ketika laki-laki merasa sudah banyak berkorban secara materi seperti sering membayar, memberi hadiah, atau menyesuaikan gaya hidup pasangan, maka dari posisi itu dapat muncul dorongan untuk menuntut balasan. Dalam pola pikir yang dipengaruhi dominasi dan struktur-patriarki, balasan tersebut bisa diarahkan pada tubuh perempuan sebagai bentuk imbal balik atas pengorbanan yang dianggap sudah diberikan. Situasi ini dapat membentuk manipulasi-psikologis, di mana perempuan diarahkan untuk percaya bahwa memberikan tubuh adalah bentuk cinta atau kewajiban emosional, padahal dalam banyak kasus hal tersebut lahir dari relasi yang timpang, bukan dari kebebasan penuh. Akibatnya, apa yang tampak sebagai kesepakatan suka sama suka bisa sebenarnya merupakan hasil tekanan halus dalam relasi yang tidak setara.Namun dalam melihat persoalan ini secara lebih utuh, penting juga untuk menghadirkan perspektif lain yang hidup di tengah masyarakat dan sering menjadi dasar cara sebagian orang memaknai hubungan.Di sisi lain, terdapat pula cara pandang yang melihat relasi pacaran dari perspektif nilai tradisional dan material, terutama dari sudut perempuan yang memandang hubungan sebagai bentuk uji keseriusan laki-laki melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata. Dalam logika ini, kemampuan laki-laki untuk menunjukkan perhatian melalui dukungan finansial seperti membayar makan, menanggung transportasi, atau memberikan hadiah dipahami sebagai tanda tanggung jawab dan kesungguhan dalam menjalin hubungan. Pemberian tersebut tidak hanya dipahami sebagai urusan uang, tetapi juga sebagai simbol kehadiran yang stabil, konsisten, dan tidak setengah hati. Karena itu, laki-laki yang secara berkelanjutan menunjukkan effort material sering dipandang lebih layak dalam relasi romantis, sebab hal tersebut dianggap mencerminkan kesiapan untuk memikul tanggung jawab dan memberikan rasa aman secara sosial maupun emosional.Posisi PenulisSejak awal, posisi tulisan ini perlu ditegaskan bahwa penulis tidak menempatkan diri pada kubu yang kaku dalam perdebatan siapa yang harus membayar dalam pacaran. Sikap yang diambil bersifat kontekstual dan berbasis kondisi material. Penulis dapat menerima situasi ketika laki-laki membayar sepenuhnya dalam relasi pacaran apabila hal tersebut benar-benar didasarkan pada kemampuan finansial yang lebih besar, serta tidak disertai motif dominasi atau kontrol dalam hubungan. Dalam kondisi seperti itu, tindakan membayar bukanlah bentuk kuasa, melainkan bagian dari fleksibilitas dan solidaritas dalam relasi. Namun sebaliknya, penulis tidak sepakat apabila pola tersebut dijadikan norma yang wajib atau tuntutan sosial yang harus selalu dipenuhi laki-laki, karena hal itu justru berpotensi menguatkan ketimpangan peran dan beban gender dalam hubungan. Dengan demikian, yang menjadi titik tekan bukan pada siapa yang membayar, tetapi pada apakah keputusan tersebut lahir dari kesadaran, kemampuan, dan kesetaraan relasi tanpa unsur paksaan struktural.