Kemitraan Indonesia dan Korea Selatan jangan diperlakukan sebagai etalase proyek, karena yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar ‘seberapa untung kemitraan ini’, melainkan apakah bisa tetap satu meja saat terjadi friksi. Kemitraan Indonesia-Korea Selatan patut disayangkan jika runtuh hanya karena turbulensi sesaat, sebab fondasi ekonominya cukup besar. Sebagaimana ditampilkan pada halaman satu data Kementerian Investasi dan Hilirisasi, terjadi peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA) Korea Selatan pada tahun 2021 - 2024.Sumber: diolah dari Satu Data Kementerian Investasi dan HilirisasiDengan demikian, pertanyaan untuk kemitraan di masa depan bukan lagi 'proyek apa berikutnya', melainkan apakah kita mau membangun kemitraan yang tahan uji, atau hanya hubungan yang rapi di dokumen tetapi rentan di saat krisis.Dari Transaksi ke Rasa ‘Ke-kita-an’Untuk memahami perubahan dari kemitraan yang sekadar pragmatis menjadi kemitraan yang lebih tahan lama, dapat menggunakan cara pandang konstruktivis. Intinya, hubungan antarnegara bisa menguat ketika keduanya mulai membentuk identitas kolektif, semacam 'rasa kita' yang lahir dari interaksi berulang. Dalam pembentukan identitas kolektif, Alexander Wendt dalam Social Theory of International Politics, menjelaskan empat elemen utama yang berpengaruh: saling tergantung (interdependence), kesamaan nasib (common fate), penyelarasan (homogenization), dan menahan diri (self-restraint).Di antara keempatnya, elemen menahan diri merupakan elemen paling penting dalam pembentukan identitas kolektif. Menahan diri di sini bukan berarti pasif, melainkan kemampuan untuk tidak mengambil keuntungan sepihak ketika ada peluang, tidak membesarkan friksi teknis menjadi isu publik, dan tetap patuh pada prosedur saat berurusan dengan hal-hal sensitif. Ketika pola menahan diri ini konsisten, ketidakpastian menurun dan kepercayaan tumbuh. Kepercayaan inilah yang membuat kemitraan perlahan bergeser dari transaksi sesaat menjadi relasi yang lebih mendalam.Dengan kata lain, kemitraan tetap bertumpu pada kepercayaan antarmanusia. Kepercayaan tidak lahir dari dokumen atau alutsista, tetapi dari kebiasaan, jaringan, dan perilaku baik yang terus diulang secara konsisten.Identitas Kolektif: Menyambung Kepentingan, Membentuk KepercayaanKemitraan tidak selalu bertahan karena bertemunya kepentingan, tetapi karena munculnya kepercayaan. Tanpa kepercayaan, friksi kecil mudah menjadi kecurigaan. Kepercayaan sendiri muncul dari adanya 'rasa kita' yang berasal dari identitas kolektif. Oleh karena itu, konsep identitas kolektif menjadi relevan untuk menjelaskan dinamika interaksi dalam kemitraan.Sumber: Generative AIElemen saling tergantung (interdependence) dapat terlihat dalam Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA). Perjanjian ini mengunci kepentingan sehingga jika hubungan memburuk biaya akan menjadi lebih mahal karena dalam konteks perdagangan barang yang berlandaskan IK-CEPA, Indonesia dan Korea Selatan saling menghapus pos tarif hingga 90an persen. Ditambah, IK-CEPA telah memiliki landasan hukum yang kuat yaitu ratifikasi melalui UU No. 25 Tahun 2022 tentang Pengesahan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Korea, sehingga memberi kepastian hukum bagi kemitraan lintas sektor.Elemen kesamaan nasib (common fate) muncul ketika kedua negara menyadari bahwa risiko saat ini tidak mengenal batas sektor. Gangguan rantai pasok, ancaman siber, dan volatilitas geopolitik bisa memukul perdagangan, industri, sekaligus agenda pertahanan dalam satu tarikan napas, sehingga keadaan tersebut dapat menjadi sebuah urusan bersama, bukan urusan masing-masing. Kemudian, kesamaan nasib Indonesia dan Korea Selatan semakin terasa ketika konflik Iran–Amerika Serikat mengguncang jalur energi global. Gangguan di Selat Hormuz, yang menjadi pintu utama pasokan minyak ke Asia, langsung berdampak pada Korea Selatan yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, sekaligus memukul Indonesia yang masih memiliki cadangan energi terbatas.Yang mungkin luput, IK-CEPA bukan hanya soal barang. Berdasarkan pedoman IK-CEPA, perdagangan jasa yang dijelaskan pada Chapter 6 dan kerja sama kapasitas pada Chapter 8, dengan turunan Implementing Arrangement, merinci tujuan dan kegiatan. Meskipun Chapter 6 dan 8 tidak secara langsung menjelaskan sektor pertahanan tetapi Chapter tersebut relevan untuk kebutuhan pertahanan modern seperti pembangunan kemampuan, pemeliharaan, dan pengembangan teknologi. Di sinilah elemen penyelarasan (homogenization) masuk sebagai penyamaan standar kerja, SOP, dan kepatuhan, karena perjanjian jasa mengatur prinsip seperti market access dan national treatment. Kemudian, pedoman IK-CEPA juga menjelaskan komitmen akses pasar jasa (Schedule of Commitment) dan cara sebuah jasa dikirimkan/diberikan (Mode of Supply) agar ‘batas main’ jelas dan salah tafsir berkurang.Infrastruktur kepercayaan juga diperkuat lewat mobilitas profesional. Pedoman IK-CEPA menjelaskan komitmen Korea Selatan pada perdagangan jasa presence of natural persons melalui kategori Intra Corporate Transfer (ICT), Business Visitor (BV), Contractual Service Supplier (CSS), serta skema Independent Professional dengan 118 kategori profesional, terutama di bidang teknologi informasi dan teknik, termasuk program peningkatan kapasitas di sektor jasa seperti konstruksi dan kesehatan.Selain itu, hubungan antarmasyarakat ikut menjadi penopang. Pada tahun 2025 berdasarkan Korea Tourism Organization, terdapat 365.596 ribu wisatawan Indonesia mengunjungi Korea Selatan. Ditambah, sektor pendidikan juga membangun jejaring jangka panjang melalui Global Korea Scholarship dimana pada tahun 2023 khusus untuk indonesia memiliki total kuota 69 penerima dan tahun 2026 meningkat menjadi 100 kuota. Peningkatan mobilitas dan jejaring pendidikan dapat memperkuat sisi perekat sosial sehingga pertukaran pemahaman pola pikir dan budaya dapat terjadi secara inkremental.Sumber: KBS NewsSelanjutnya, dalam kemitraan pertahanan, program pesawat tempur KF-21 menandai momen ketika kepercayaan diuji, terutama pada kejadian dugaan pembocoraan data strategis dan penyesuaian kontribusi Indonesia menjadi sekitar 600 miliar won, yang menegaskan pentingnya pengelolaan friksi agar tujuan jangka panjang tidak runtuh oleh guncangan jangka pendek. Di titik inilah elemen menahan diri (self-restraint) menjadi pembeda antara kemitraan yang rapuh dan yang tahan uji. Menahan diri berarti menyelesaikan gesekan melalui mekanisme teknis yang disepakati, bukan eskalasi opini atau manuver politik, khususnya ketika menyangkut informasi sensitif dan teknologi strategis.Terakhir, dalam konteks keunggulan pertahanan modern, negara akan semakin bertumpu pada kapasitas manusia dan tata kelola teknologi, tidak hanya alutsista. Sebagai langkah baik, Indonesia telah menyelesaikan Penilaian Kesiapan Kecerdasan Artifisial melalui Readiness Assessment Methodology (RAM) UNESCO, namun tantangan utama masih terletak pada pemenuhan talenta digital. Berdasarkan BPSDM Kominfo, hingga tahun 2030 dibutuhkan sekitar 9 juta talenta digital, sementara kapasitas pemenuhan nasional baru berkisar 100.000–200.000 orang per tahun. Karena itu, agenda AI dan pemenuhan talenta digital dapat menjadi simpul penting untuk membangun kebersamaan.Arah KebijakanSumber: diolah dari berbagai sumberPenutupIdentitas kolektif bisa digambarkan melalui ungkapan 'berat sama dipikul, ringan sama dijinjing' dan sejalan dengan pepatah Korea Selatan 기쁨은 나누면 배가 되고, 슬픔은 나누면 반이 된다 (gippeumeun nanumyeon baega doego, seulpheumeun nanumyeon bani doenda - kebahagiaan bila dibagi menjadi dua kali lipat, kesedihan bila dibagi menjadi setengah). Keduanya menegaskan nilai dasar solidaritas dalam menjalin sebuah relasi yang mengajarkan bahwa kebersamaan bukan hanya tentang berbagi keberhasilan saja, tetapi juga tentang kesediaan untuk menghadapi ketidaknyamanan secara kolektif.