Aksi demo mahasiswa di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, pada 11 Maret 2025. Wulandari Wulandari/Shutterstock● Riset menunjukkan bahwa orang individualis lebih aktif ikut aksi kolektif.● Ambisi, persaingan, keinginan mempertahankan posisi atau status jadi dorongan untuk turun dalam aksi.● Setiap orientasi dan karakter harus punya ruang yang aman untuk berkontribusi.Indonesia dikenal sebagai masyarakat kolektivis yang meyakini bahwa nilai kebersamaan dan solidaritas untuk mendorong perilaku sosial, termasuk keterlibatan dalam aksi kolektif.Dalam psikologi sosial, aksi kolektif merujuk pada tindakan bersama untuk memperjuangkan kepentingan kelompok yang dirugikan, baik melalui cara normatif (seperti demonstrasi damai) maupun nonnormatif (seperti aksi yang mengguncang atau disruptif).Selama ini, budaya dianggap sebagai faktor kunci yang menentukan apakah individu akan terlibat dalam aksi kolektif atau tidak, sekaligus bagaimana bentuk aksi tersebut dilakukan. Umumnya, masyarakat cenderung beranggapan bahwa individu dengan orientasi kolektivis akan lebih terdorong untuk terlibat karena kuatnya orientasi pada kepentingan bersama.Namun, temuan riset kami tahun 2025 menunjukkan hal sebaliknya. Kecenderungan untuk terlibat dalam aksi kolektif justru lebih tinggi pada individu dengan orientasi individualis (suka sendiri) dibandingkan kolektivis (suka kebersamaan).Temuan ini menantang asumsi umum bahwa nilai kolektivisme (kebersamaan) otomatis mendorong partisipasi dalam aksi bersama. Ini sekaligus membuka ruang untuk memahami kembali faktor-faktor yang sebenarnya memotivasi keterlibatan dalam aksi kolektif di Indonesia. Baca juga: ‘Demonstran tidak tahu isu’: apa yang sebenarnya mendorong individu berpartisipasi dalam unjuk rasa? Tipologi budaya dan aksi kolektifSelama ini, kita sering menganggap budaya itu sederhana—orang kolektivis lebih suka kebersamaan, sementara individualis lebih suka menyendiri. Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu.Penelitian kami menunjukkan bahwa budaya juga dipengaruhi oleh apakah seseorang cenderung melihat orang lain setara, atau justru menerima adanya hierarki dan persaingan.Merujuk pada pemikiran ahli psikologi lintas budaya dari Yunani, Harry C. Triandis, penelitian kami melihat budaya dalam empat tipe: individualisme horizontal (mandiri dan setara), individualisme vertikal (mandiri dan kompetitif), kolektivisme horizontal (kebersamaan yang setara), dan kolektivisme vertikal (kebersamaan yang hierarkis).Studi kami melibatkan sekitar 300 partisipan. Kami meminta mereka untuk membayangkan situasi tidak adil: mereka jadi korban tabrak lari, tapi polisi justru tidak mendengarkan, bersikap tidak sopan, atau memihak. Setelah itu kami mengukur apakah mereka menjadi terdorong untuk ikut aksi kolektif, seperti protes atau demonstrasi.Hasilnya, orang yang paling terdorong ikut aksi justru bukan yang kolektivis, tapi mereka yang punya orientasi individualisme vertikal. Mereka adalah individu yang mandiri, kompetitif, dan peduli pada pencapaian serta posisi.Sebaliknya, orang dengan nilai kolektivisme cenderung enggan ikut aksi, terutama demonstrasi. Alasannya, mereka lebih mengutamakan harmoni sosial dan cenderung menghindari konflik terbuka.Contohnya, alih-alih ikut demo, mereka memilih menyelesaikan masalah secara diam-diam atau lewat mediasi agar tidak ada “keributan”. Baca juga: Aktivisme kelas menengah: Sempat redup, kini bangkit melawan rezim Karakter individualis saja tidak cukupMeski orang individualis lebih cenderung ikut aksi kolektif, tidak semua dari mereka berperilaku demikian.Tipe individualis yang mandiri tapi tidak terlalu kompetitif ternyata tidak terlalu ingin turun aksi.Artinya, karakter individualis saja tidak cukup. Yang benar-benar mendorong mereka untuk turun dalam aksi kolektif adalah ambisi, persaingan, keinginan mempertahankan posisi atau status. Ini masuk dalam tipe individualisme hierarkis.Bagi orang dengan orientasi tersebut, ketidakadilan—terutama dari sistem (misalnya kebijakan tidak adil dan polisi yang semena-mena)—terasa sangat mengancam. Ini karena mereka sangat peduli pada prestasi, kompetensi, dan citra diri.Jadi, ketika diperlakukan tidak adil, mereka merasa harga dirinya seakan ikut tersentil. Itulah yang mendorong mereka menjadi lebih berani turun aksi, termasuk berdemonstrasi. Baca juga: Meredupnya popularitas BEM: gairah aktivisme mahasiswa makin menurun, mengapa dan bagaimana solusinya? Membaca ulang cara kita berpartisipasiTemuan kami ini memberi implikasi penting bagi cara kita membaca dinamika sosial di Indonesia. Partisipasi dalam aksi kolektif ternyata tidak semata lahir dari semangat kebersamaan, tetapi juga dari dorongan personal yang lebih kompleks—termasuk ambisi, persepsi ketidakadilan, dan ancaman terhadap posisi diri.Artinya, strategi untuk mendorong partisipasi publik tidak bisa hanya mengandalkan narasi solidaritas, tetapi juga perlu memahami bagaimana individu memaknai kepentingannya sendiri dalam struktur sosial yang lebih luas.Di sisi lain, kecenderungan kelompok kolektivis untuk menghindari konflik juga bukan berarti apatis. Mereka hanya memilih jalur yang berbeda, mungkin yang lebih sunyi, lebih kompromistis, dan sering kali tidak terlihat sebagai “aksi” dalam pengertian konvensional.Ini mengingatkan kita bahwa keterlibatan warga dalam demokrasi punya banyak bentuk. Tidak semuanya hadir di ruang-ruang yang paling bising. Jangan sampai kita mempertentangkan individualisme dan kolektivisme. Hal penting yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa setiap orientasi punya ruang yang aman untuk berkontribusi.Demokrasi yang sehat bukan hanya soal siapa yang paling lantang bersuara, tetapi juga tentang bagaimana cara menghargai beraneka bentuk partisipasi, baik yang konfrontatif maupun yang dialogis. Baca juga: Ketika Wibu turun aksi: kesadaran politik kritis kaum muda kembali bangkit Akhmad Saputra syarif tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.