Menunggu merupakan aktivitas yang membosankan. Foto: Dokumentasi pribadiSalah seorang budhe saya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu di usianya yang menginjak 100 tahun. Sepanjang yang saya ketahui, beliau tidak pernah sakit parah. Bahkan di akhir-akhir hidupnya, ingatannya masih tetap segar, tidak seperti mayoritas orang sepuh yang pikun.Hampir setiap tahun sebelum kematiannya, saya mengunjunginya dan setiap saya datang ke rumahnya, beliau duduk di lantai dua depan jendela sambil menatap nanar ke jalanan depan rumahnya. Seketika beliau memanggil nama ketika menyadari kedatangan saya, tidak pernah sekalipun beliau lupa nama saya.Suasana rumahnya sangat sepi karena beliau hanya tinggal bersama salah seorang anaknya. Saban hari, beliau hanya menikmati suara erangan kapal yang akan bersandar di dermaga atau akan berangkat. Cukup jelas karena rumahnya hanya sepersekian menit, ditempuh dengan jalan kaki dari pelabuhan.Saya selalu menerka apa yang beliau pikirkan ketika sedang merenung di kursinya sambil memandang jalanan, tapi tidak pernah menanyakan secara langsung karena saya tidak mau merusak proses refleksinya terhadap hidup yang sedang dijalani. Mungkin saja beliau menyadari bahwa seluruh manusia yang seumuran dengannya sudah berpulang, bahkan adik-adiknya yang berjumlah lebih sepuluh hanya tersisa dua saja, termasuk ibu saya. Chairil Anwar pernah menulis, "Aku ingin hidup seribu tahun lagi," tapi saya kira itu metafora saja ketika saya menyadari bahwa orang-orang yang sudah mencapai umur 100 tahun mengalami gejolak psikologis yang tak bisa dibayangkan oleh manusia yang masih muda dan bergairah.Mungkin saja, ini hanya tebakan saya, bahwa jika mereka yang sudah mencapai usia 100 tahun, diberi pilihan apakah masih tetap ingin hidup seratus tahun lagi atau mati, mungkin mereka akan memilih yang kedua.Betapa mengerikannya hidup dalam kebosanan ketika semua kesenangan sudah berlalu, sahabat sudah pergi, dan semua hal yang menjadi gairah hidup tidak ada lagi. Tidak ada lagi target-target yang harus diusahakan dalam hidup.Manusia memang aneh. Mereka dengan segala macam berusaha untuk tetap sehat agar berumur panjang, tetapi mereka juga menyadari bahwa titik akhirnya hanyalah kebosanan.Ilustrasi bosan. Foto: ShutterstockBosan tidak hanya diidap oleh orang sakit atau orang miskin, tetapi seluruh manusia mengidap penyakit kebosanan. Ada yang bosan menganggur, ada yang bosan bekerja, ada yang bosan populer, (mungkin) ada yang bosan menjadi orang kaya, bahkan ada yang bosan hidup sehingga memilih mengakhiri hidupnya. Begitulah hidup: penuh dengan kebosanan.Biasanya, kita akan merasakan kebosanan ketika tidak ada hal yang menggairahkan atau kita melakukan hal yang repetitif. Maka pada saat itu, akan muncul kebosanan eksistensial.Terdapat sebuah kisah tentang Sisyphus, mitologi Yunani yang diceritakan Albert Camus di bukunya "The Myth of Sisyphus." Makhluk yang dihukum sepanjang hanyatnya mendorong batu ke puncak bukit, lalu sadar bahwa ketika akan sampai di puncak, batu kembali jatuh dan dia harus melakukan hal yang sama terus menerus.Alih-alih mengutuk rutinitas membosankan yang dia harus jalankan selama hidupnya, Sisyphus memilih untuk menikmati rutinitasnya dan bergembira pada setiap fase hidupnya.Ilustrasi berangkat kerja. Foto: ShutterstockKita adalah Sisyphus yang hidup di era modern dalam format yang sedikit dimodifikasi. Berangkat ke kantor setiap pagi, pulang menjelang malam, lalu di weekend menghabiskan liburan, bersenang-senang bersama sahabat, meskipun kita sadar bahwa nantinya harus kembali ke rutinitas di senin pagi. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya kita akan bosan.Apalah saya yang harus melewati rutinitas yang repetitif. Senin pagi berangkat ke Bandung, Jum'at sore balik lagi ke Lenteng Agung. Menghabiskan akhir pekan di rumah dengan menonton film, baca novel, dan sesekali keluar merayakan minggu sore bersama teman lama. Setelah itu, pada hari senin, saya kembali lagi ke rutinitas yang sama. Begitu seterusnya.Namun tidak seperti Sisyphus yang menikmati hari-harinya dalam kebosanan. Kita, dan mungkin saya, bahkan tidak pernah melewatkan hari dengan mengumpat di jalanan, di kantor, bahkan di tempat umum. Entah terucap langsung atau hanya tertahan di dada: tentang rekan yang tidak sepemikiran, tentang banyak hal yang tidak sejalan dengan mimpi-mimpi yang kita susun—sementara kita sadar bahwa tidak semua hal harus sejalan dengan apa yang diinginkan.Kita adalah Sisyphus yang gagal merayakan kebosanan dengan kegembiraan. Kita memilih berisik di kehidupan yang hanya menunggu garis finish, mengamplifikasi drama kehidupan yang seharusnya hal-hal sederhana, bahkan mengedepankan ego yang pada akhirnya akan membunuh kemanusiaan kita perlahan.Ilustrasi masyarakat. Foto: Dmitry Nikolaev/ShutterstockSatu hal yang harus disadari: bahwa untuk membangun citra seperti yang kita inginkan, kita harus mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu, sementara musuh terbesar manusia untuk menemukan dirinya adalah ego yang terlalu besar.Saya juga sering kali bosan. Namun setiap kali perasaan itu muncul, saya akan mengulang-ulang kalimat demi kalimatnya Albert Camus tentang bagaimana menikmati hidup yang penuh dengan kebosanan, atau pada beberapa kali, saya berdiam diri dalam kamar sepanjang hari—itupun saat weekend ketika sedang berada di Bandung.Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa kebosanan adalah bentuk eksistensi kita sebagai manusia—bahwa ketika kita bosan, berarti kita masih hidup. Setiap manusia memiliki caranya masing-masing untuk merayakan kebosanan hidup: ada yang menghabiskan malam di tempat hiburan, ada yang khusyuk di tempat-tempat ibadah, ada yang menikmati hari bersama keluarga, dan segala jenis aktivitas penawar kebosanan.Pada akhirnya, kita harus menikmati kebosanan demi kebosanan agar kita tetap hidup. Tidak perlu terlalu keras terhadap diri yang sering kali mengalami kegagalan. Karena pada akhirnya, kita semua akan menuju satu titik akhir yang sama.Begitulah pikiran saya melayang ke mana-mana di jum'at malam ketika mata tak jua diserang kantuk menjelang awal Mei.