Keluar dari Jerat Plastik

Wait 5 sec.

Ilustrasi kantong plastik. Foto: JL T/ShutterstockRamai berita mengulas perang, selat Hormuz, gencatan senjata Iran dan AS. Lelah dan muak mendengar berita yang itu-itu saja kita akan mematikan layar televisi, menggeser layar gawai dalam pengaman kita demi mencari berita yang lebih menarik. Mungkin berita: pilih Furab atau Rabun, aksi Bieber di Coachella dan berita lain yang lebih menenangkan hati. Toh perang jauh di sana, menyeberangi berbagai benua dan lautan, melewati gunung dan lembah untuk bisa sampai ke sini, jadi apa juganya terus-terusan dibahas?Asyik menggeser layar sosial media hingga lupa waktu, tidak sadar perut keroncongan. Di masa serba digital ini semua gampang tinggal pesan dan bayar. Sejenak setelah memilih menu yang diinginkan kita akan terhenti sejenak. Penyedia jasa layanan makanan daring menambahkan Rp500,00 untuk gelas plastik jus yang kita pesan. Sedikit ragu, namun karena sudah telanjur ingin membeli biaya itu ditambahkanlah dalam keranjang belanja.Bagi kita yang sebelumnya menganggap perang tidak ada hubungannya dengan kita, coba pikir sekali lagi. Sesungguhnya perang itu masuk ke dapur kita dalam bentuk sebuah jerat kantong plastik. Lalu, bagaimana plastik bisa menggerogoti dapur kita dan menggerus perekonomian kita?Perang sering dipahami sebagai urusan senjata, wilayah, dan kekuasaan. Namun di balik dentuman artileri dan runtuhnya diplomasi, terdapat guncangan lain yang tak kalah besar: terganggunya rantai pasok global, termasuk bahan baku plastik atau bijih plastik. Kenaikan harga bijih plastik akibat perang dan Indonesia masih tergantung pada impor bijih plastik.Kita membutuhkan plastik sebagai kemasan baik itu makanan, obat, sabun, sampo bahkan pekerja bidang jasa penjual makanan memekik tertahan karena thinwall, plastik kemasan wadah makanan harganya sedang naik hingga 80%. Ketidakpastian dan peningkatan jalur distribusi menggerek harga plastik.Dampaknya menjalar hingga ke negara-negara yang secara geografis jauh dari medan perang. Industri plastik di negara berkembang yang sangat bergantung pada impor bijih plastik merasakan tekanan harga yang signifikan. Produsen kemasan, UMKM manufaktur, hingga sektor pangan dan minuman harus menghadapi biaya produksi yang melonjak, sementara daya beli masyarakat belum tentu meningkat. Penjual bergelut dengan dilema: menjual dengan harga tetap namun merugi atau menaikkan harga namun kehilangan pelanggan karena harga mahal.“Kusak” Penganti PlastikJika memutar kembali waktu ke zaman dahulu, kita bisa hidup tanpa plastik, kenapa sekarang tidak? Nenek moyang sudah menyediakan alternatif pengganti plastik, dengan daun pisang, daun jati, daun kelapa dan sejenisnya.Di pulau Kalimantan terutama Kalimantan Tengah (Kalteng) ada tanaman endemik yang bernama purun. Purun ini seringkali dijalin menjadi tas yang sering disebut “kusak”.Beberapa kusak siap pakai di toko kerajinan Kalteng (Sumber: Koleksi Pribadi)Kusak adalah tas lokal berbentuk semacam bakul yang dapat digunakan untuk berbelanja ataupun membawa perlengkapan sehari-hari. UMKM lokal Kalteng seringkali menggunakan bahan ini untuk membuat tas. Meskipun tidak sepopuler rotan, tas berbahan purun yang dianyam lebih terjangkau dan sering digunakan sebagai wadah berbelanja sejak zaman dahulu. Namun sejak adanya plastik kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan sehingga tas purun atau kusak kini kehilangan peminatnya. Padahal kondisi di mana semua harga plastik naik ada kesempatan kusak untuk kembali menjadi primadona.Contoh Kusak di salah satu toko di Kalteng (Sumber : Koleksi pribadi)Dengan sedikit polesan agar nampak modis, pelaku usaha UMKM bisa menangkap tantangan ini dan mengembalikan kejayaan kusak untuk lokal bahkan sebagai alternatif pengganti plastik yang bisa menjangkau pasar nasional. Apabila plastik terlalu jumawa untuk turun dari takhta harganya, saatnya banting setir. UMKM harus pintar menilai pasar.Peluang Usaha Ramah LingkunganMenurut data dalam riset Jambeck (2015) Indonesia merupakan penghasil sampah plastik nomor 2 terbesar di dunia. Ketergantungan manusia terhadap plastik sudah saatnya dihentikan. Selain mencemari lingkungan karena bahannya yang tidak ramah lingkungan dan hanya bisa terurai dalam ratusan tahun, banyak alternatif yang sudah disediakan oleh alam. Saatnya menggunakan wadah yang bisa didaur ulang.Dalam kondisi semacam ini seharusnya usaha bulk store dapat bertumbuh. Bulk store merupakan toko yang menjual berbagai bahan secara curah dan pembeli bisa membeli dengan membawa wadah sendiri. Hemat dan praktis. Menghilangkan rasa berdosa dalam diri karena terlalu banyak menimbun plastik tebal bekas sampo, sabun dan plastik pembungkus bahan makanan yang tidak bisa didaur ulang.Gen Z Pelopor Kampanye Ekonomi dan Gaya Hidup HijauGaya hidup hijau kini menjadi tren. Gaya hidup yang dulunya dianggap aneh dan terlalu frugal kini mengalami disrupsi. Kelahiran Gen Z pemicunya. Generasi ini dikenal merupakan generasi yang peduli terhadap lingkungan. Gen Z (lahir ±1997–2012) dikenal sebagai generasi digital, namun yang salah satu ciri kuat mereka: kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Saya pernah mengenal seorang Gen Z yang ingin selalu terlibat dalam aksi lingkungan. Bahkan mereka punya komunitas yang berlomba dalam gaya hidup cinta lingkungan. Ketika melihat upaya sia-sia yang membuang energi dalam pekerjaan, gen Z cenderung mencibir dan secara blak-blakan meminta generasi sebelumnya untuk lebih peduli pada efisiensi dan pelestarian alam.Dengan menjadikan gaya hidup hijau sebagai gaya hidup baru, Gen Z bisa menjadi generasi yang memimpin pada inovasi baru penggunaan bahan ramah lingkungan. Tren menggunakan produk berbahan alami bisa menjadi alternatif untuk bebas dari ketergantungan plastik. Apabila pelaku UMKM memanfaatkan fenomena ini, bukan saja akan berdampak pada lingkungan tetapi akan berdampak pada penghematan. Buatlah sebuah kampanye lingkungan untuk produk Anda, yakinlah Gen Z akan berbondong-bondong ikut melakukan promosi bahkan tanpa dibayar.