Kazakhstan: Mitra Senyap China di Jantung Asia Tengah

Wait 5 sec.

Ilustrasi minyak mentah. Foto: Artem Oleshko/ShutterstockLebih dari 45 persen uranium yang digunakan reaktor nuklir di seluruh dunia, termasuk yang menyuplai listrik ke jutaan rumah tangga di Eropa dan Asia berasal dari satu negara yaitu Kazakhstan. Dan sebagian besar tambang uranium itu kini punya nama di papan pemegang sahamnya sebagai perusahaan-perusahaan milik negara China.Ini bukan berita baru. Tapi hampir tidak ada yang membicarakannya.Kazakhstan adalah negara yang terbiasa tidak dibicarakan. Luasnya hampir empat kali Indonesia, menjadikannya negara terluas ke-9 di dunia. Di bawah tanahnya tersimpan minyak, gas alam, batu bara, uranium, dan puluhan mineral strategis. Ia berbatasan langsung dengan dua kekuatan nuklir terbesar di dunia yaitu Rusia di utara, China di timur.Namun di tengah semua itu, Kazakhstan nyaris tidak pernah masuk radar publik. Ia hadir diam-diam, seperti mitra yang duduk di sudut ruangan, tidak banyak bicara, tapi kehadirannya mengubah segalanya.Ketika China Membangun Jalan Sutra BaruUntuk memahami Kazakhstan hari ini, kita perlu mundur ke 2013. Itu tahun ketika Xi Jinping untuk pertama kalinya memperkenalkan Belt and Road Initiative (BRI) dan ia tidak melakukannya di Beijing atau Shanghai. Ia melakukannya di Astana, ibu kota Kazakhstan.Pemilihan tempat itu bukan kebetulan.Bagi China, Kazakhstan adalah pintu gerbang ke seluruh Asia Tengah, Timur Tengah, dan Eropa. Siapa yang menguasai Kazakhstan, secara ekonomi ia menguasai koridor darat terpanjang di dunia. Maka dalam satu dekade terakhir, investasi China mengalir deras di mana lebih dari 50 proyek infrastruktur senilai puluhan miliar dolar, mulai dari pelabuhan kering di Khorgos tepat di perbatasan China, jaringan kereta yang menghubungkan Asia Tengah ke laut Kaspia, hingga kilang-kilang minyak di Atyrau.Khorgos mungkin adalah simbol paling nyata dari ekspansi ini. Zona ekonomi khusus yang dibangun di tengah padang stepa itu kini menjadi titik transit barang terbesar di Asia Tengah, ratusan kontainer bergerak setiap hari, sebagian besar membawa produk manufaktur China ke Eropa dan membawa komoditas mentah Kazakhstan kembali ke timur.Polanya mencolok yaitu Kazakhstan menjual bahan mentah, China menjual produk jadi. Kazakhstan membangun utang, China membangun jalan.Minyak, Gas, dan Uranium yang Tak Banyak DibicarakanHubungan energi antara keduanya bahkan lebih dalam dari sekadar infrastruktur.Kazakhstan–China Oil Pipeline, pipa sepanjang lebih dari 2.000 kilometer yang membentang dari ladang minyak Atyrau di tepi Kaspia hingga Xinjiang di barat China, sudah beroperasi sejak 2005. Pipa ini mengalirkan jutaan ton minyak per tahun langsung ke jantung industri China, melewati Rusia sama sekali, sebuah kalkulasi geopolitik yang tidak kecil.Lalu ada gas. Jalur D dari Central Asia–China Gas Pipeline, yang melewati Kazakhstan, memperpendek jalur gas dari Turkmenistan dan Uzbekistan langsung ke pasar China. Kazakhstan bukan hanya produsen, ia juga menjadi koridor transit yang tidak bisa dilewati begitu saja.Tapi yang paling jarang dibicarakan adalah uranium.Kazakhstan adalah produsen uranium terbesar di dunia, menyumbang hampir separuh dari total produksi global. Perusahaan nasionalnya, Kazatomprom, memang masih menjadi pemain utama. Tapi di balik itu, perusahaan-perusahaan nuklir milik negara China, termasuk China General Nuclear Power Group telah mengambil posisi pemegang saham di sejumlah tambang kunci. Uranium Kazakhstan secara harfiah menjadi bahan bakar bagi ambisi energi nuklir China yang terus berkembang.Ini bukan jebakan utang. Ini sesuatu yang lebih halus yaitu ketergantungan struktural yang dibangun perlahan, tambang demi tambang, pipa demi pipa.Harga dari KeheninganTapi mungkin biaya terbesar dari kemitraan ini bukan soal ekonomi — melainkan soal suara yang tidak bisa dikeluarkan.Kazakhstan memiliki sekitar 250.000 warga etnis Kazakh yang berasal dari Xinjiang, Tiongkok. Mereka adalah bagian dari komunitas yang, sejak 2017, menjadi sasaran kampanye interniran massal yang oleh para peneliti dan pemerintah Barat disebut sebagai salah satu pelanggaran hak asasi manusia terbesar di abad ini.Beberapa dari mereka pulang ke Kazakhstan. Beberapa membawa kesaksian. Seorang perempuan bernama Sayragul Sauytbay bahkan sempat diadili di pengadilan Kazakhstan setelah menyeberang secara ilegal dan dalam persidangan terbuka itu, untuk pertama kalinya dunia mendengar kesaksian langsung dari seseorang yang pernah bekerja di dalam kamp-kamp tersebut.Namun pemerintah Kazakhstan tidak pernah secara resmi mengkritik Beijing.Tidak ada pernyataan kecaman. Tidak ada dukungan terhadap resolusi PBB. Tidak ada tekanan diplomatik yang terdengar di ruang publik. Yang ada hanya "quiet diplomacy" istilah halus untuk keheningan yang dibeli dengan kontrak investasi dan pipa minyak.Ini bukan karena Kazakhstan tidak tahu. Ini karena Kazakhstan tahu persis berapa harganya jika berbicara.Bermain di Antara RaksasaTapi Kazakhstan bukan sekadar korban yang pasrah.Sejak merdeka dari Uni Soviet pada 1991, Kazakhstan menjalankan apa yang para diplomat menyebutnya sebagai multi-vector foreign policy yaitu strategi menyeimbangkan Rusia, China, Barat, dan siapa pun yang bisa memberi keuntungan, secara bersamaan. Di bawah Nursultan Nazarbayev yang berkuasa selama hampir tiga dekade, strategi ini bahkan menghasilkan prestasi tersendiri yaitu Kazakhstan berhasil menormalisasi hubungan dengan semua kekuatan besar tanpa pernah sepenuhnya berada di satu kubu.Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 mengubah kalkulasi itu secara dramatis.Ketika Moskow meminta dukungan, Astana menolak sebuah langkah yang tidak kecil untuk negara yang masih punya ratusan ribu warga etnis Rusia dan masih bergantung pada infrastruktur warisan Soviet. Kazakhstan bahkan dengan terang-terangan mengatakan akan menghormati sanksi Barat terhadap Rusia. Ini bukan keberanian ideologis, ini adalah kalkulasi pragmatis dari negara yang menyadari bahwa terlalu dekat dengan Moskow akan menutup pintu ke Eropa dan Amerika.Tapi di saat bersamaan, pintu ke Beijing justru semakin terbuka.China melihat peluang yaitu Kazakhstan yang ingin melepaskan ketergantungan dari Rusia membutuhkan jalur perdagangan alternatif, investasi baru, dan mitra yang tidak banyak bertanya soal urusan dalam negeri. Beijing siap mengisi semua kebutuhan itu — dengan harga yang tidak selalu tertulis di kontrak.Cermin yang Tidak NyamanBagi Indonesia, cerita Kazakhstan terasa jauh. Stepa Asia Tengah, perbatasan dengan China, dinamika pasca-Soviet semua itu tampak seperti dunia lain.Tapi polanya terasa familiar.BRI juga masuk Indonesia. Kereta Cepat Jakarta–Bandung dibangun oleh konsorsium yang dipimpin perusahaan China, dengan skema pendanaan yang sempat menjadi perdebatan panjang soal siapa yang menanggung risiko. Investasi China di sektor nikel — komoditas strategis Indonesia untuk transisi energi global terus mengalir dalam skala yang membuat beberapa ekonom mulai mengangkat alis. Pola ekspor bahan mentah, impor produk jadi, dan ketergantungan pada teknologi serta tenaga ahli China mulai terlihat di sejumlah sektor.Bukan berarti semua itu salah. Investasi dibutuhkan. Infrastruktur perlu dibangun. Tidak ada negara berkembang yang bisa menolak modal hanya karena datangnya dari China.Tapi Kazakhstan mengajarkan satu hal yang perlu diingat yaitu ketergantungan ekonomi yang cukup dalam, pada akhirnya, bisa mengikis kemampuan sebuah negara untuk bersuara, bahkan soal hal-hal yang menyentuh nilai kemanusiaan paling dasar sekalipun.Senyap, Bukan SetaraKazakhstan hari ini bukan negara yang lemah. Ia memiliki cadangan energi yang membuat banyak negara iri, diplomasi yang cukup cerdas untuk bertahan di antara tiga kekuatan besar, dan generasi muda yang semakin vokal mempertanyakan ke mana arah negara mereka.Tapi "mitra senyap" bukan gelar yang diraih dengan bangga. Itu adalah hasil dari kalkulasi panjang di mana suara ditukar dengan stabilitas, dan kritik ditukar dengan kontrak.Yang membuat Kazakhstan menarik bukan kisah tentang negara yang kalah, melainkan tentang negara yang terus berusaha menang sambil berpura-pura tidak memainkan permainan apa pun.Apakah strategi itu akan bertahan, atau justru menjerat lebih dalam, adalah pertanyaan yang jawabannya belum selesai ditulis dan mungkin, jawaban itulah yang perlu kita perhatikan sebelum kita sampai di titik yang sama.