Anak Kos dan Hustle Culture: Produktif atau Terpaksa Bertahan?

Wait 5 sec.

Kamar berantakan. (Foto: Karl Solano/Pexels)Di media sosial, kehidupan anak kos sering terlihat estetik: bangun pagi, olahraga, lalu produktif seharian. Namun, bagi sebagian besar anak perantauan, realitanya jauh dari gambaran tersebut. Produktivitas justru kerap berubah menjadi beban mental baru di tengah kamar sempit ukuran 3x3 meter. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar ingin menjadi produktif, atau kita hanya sedang terperangkap dalam romantisasi hustle culture yang melelahkan?Kamar Kos yang Menjelma Menjadi Penjara ProduktivitasBanyak tips produktivitas menyarankan untuk memisahkan ruang kerja dan ruang tidur. Namun, bagaimana jika kamar kos hanya cukup untuk satu kasur dan satu lemari? Di sinilah terlihat bias kelas dalam saran-saran produktivitas yang beredar di internet. Kita dipaksa tetap fokus di ruang yang seharusnya menjadi tempat istirahat satu-satunya. Masalahnya bukan semata pada niat, melainkan pada lingkungan yang memang tidak dirancang untuk mendukung kesehatan mental penghuninya.No Viral, No Justice, No Rest?Ada tekanan sosial yang halus tetapi kuat: anak kos harus selalu “menghasilkan sesuatu”. Saat memilih diam atau beristirahat di akhir pekan, rasa bersalah justru muncul. Di sisi lain, sistem pendidikan dan dunia kerja menuntut produktivitas tanpa henti, sementara biaya hidup di tanah rantau semakin mencekik. Dalam kondisi ini, anak kos seolah dipaksa menjadi “mesin” demi bertahan hidup (survive), bukan lagi untuk berkembang. Produktivitas bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan yang kerap mengabaikan kondisi mental individu.Mengembalikan Hak untuk “Tidak Melakukan Apa-Apa”Menjadi produktif memang penting, tetapi kesadaran akan batas diri jauh lebih krusial. Kita perlu berhenti merasa bersalah saat memilih untuk tidak melakukan apa-apa, terutama di waktu istirahat. Produktivitas yang dipaksakan hanya akan berujung pada burnout. Sudah saatnya kehidupan kos tidak lagi dilihat sebagai arena perlombaan, melainkan sebagai ruang untuk bertumbuh—termasuk belajar mengenal diri tanpa tekanan standar orang lain.