Marx, Locke, dan Teori-Teori Dunia Tidak akan Bisa Menjelaskan Sikap Trump

Wait 5 sec.

Ilustrasi Donald Trump dengan teori-teori dunia: Sumber (Generate AI)Trump harus mengambil banyak keputusan akhir-akhir ini karena kondisi politik, ekonomi serta negara cukup merasakan kesulitan sejak ditutupnya selat hormuz. Mengapa keputusan yang diambil bisa menyebabkan ini?Pernah ga kalian berpikir tentang dunia kini yang begitu kompleks, dengan segala macam huru hara yang terjadi. Setiap peperangan yang terjadi katanya, memiliki alasan dibaliknya, namun apakah benar ada alasan dibalik itu, atau hanya sekedar sikap pemimpin yang brutal?Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memahami dan menghafal berbagai teori besar seperti realisme, liberalisme, hingga marxisme. Teori-teori ini diajarkan sebagai kerangka utama untuk membaca perilaku negara di panggung global. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah "seberapa jauh teori-teori tersebut mampu menjelaskan realitas"?Mampukah Teori HI Menjelaskan Manusia?Dalam praktiknya, teori HI sering diposisikan sebagai alat yang seolah-olah cukup untuk menjelaskan dan bahkan memprediksi perilaku negara. Negara diperlakukan sebagai aktor rasional yang bertindak berdasarkan kepentingan nasional yang terukur dan logis. Asumsi ini menjadi fondasi dari banyak analisis akademik. Namun, terdapat satu celah besar yang sering diabaikan, dimana negara tidak bertindak sendiri karena ia dijalankan oleh manusia.Berbagai teori-teori seperti John locke, Karl Marx dan banyak lagi di dalam dunia HI, seringkali dianggap teori dasar yang bisa menjelaskan sikap negara bertindak.Kenyataannya Manusia berbeda dengan asumsi dalam teori, tidak selalu rasional. Keputusan politik, termasuk dalam kebijakan luar negeri, sering kali dipengaruhi oleh emosi, persepsi pribadi, pengalaman masa lalu, bahkan kebutuhan akan pengakuan. Dalam konteks ini, teori yang terlalu menekankan rasionalitas menjadi kurang memadai.Trump dengan Gaya KepemimpinannyaIlustrasi kampanye Trump 2024 "Trump Will Fix It!": Sumber (Dokumentasi Pribadi) Kita bisa melihat bersama dalam kasus kepemimpinan Donald Trump di Amerika Serikat yang memberikan ilustrasi sangat jelas dalam menentukan kebijakan luar negerinya. Banyak kebijakan luar negeri yang diambil selama masa pemerintahannya sulit dijelaskan hanya melalui pendekatan realisme atau liberalisme. Sebaliknya, pendekatan psikologis, yang memperhatikan karakter personal, gaya komunikasi, serta respons terhadap kritik, sering kali lebih mampu menjelaskan pola keputusannya. Dalam kebijakan luar negeri tentunya tidak hanya kepribadiannya dan teori yang dipelajari yang menjadi acuan utama, tetapi ada juga faktor-faktor seperti kebutuhan akan validasi, sensitivitas terhadap citra diri, dan gaya negosiasi personal memainkan peran yang signifikan.Seperti Trump, ia adalah pribadi dengan image pembisnis, maka ini juga mempengaruhi gaya negosiasinya dalam memimpin negara, dengan apapun kebijakannya asalkan itu menguntungkan negara, dan dirinya maka itu akan menjadi hal yang diambilnya, hal ini ketika kita lihat akan sesuai dengan teori realis. Akan tetapi Trump terkadang membuat kebijakan luar negeri yang tidak masuk akal seperti Trump yang ingin menghancurkan total terhadap infrastruktur (pembangkit listrik dan jembatan). Hal ini membuat kerugian besar bagi AS, karena AS menjadi kesulitan dalam minyaknya, begitu banyak demo-demo juga bermunculan. Lalu ini juga membuat banyak negara dalam kesulitan, termasuk Indonesia.Trump mempunyai kapabilitas yang cukup baik, namun kenapa Ia mempermasalahkan dan tetap takut dengan keberadaan Iran di isu nuklir yang sejak awal tidak dipermasalahkan?. Hal ini cukup sulit untuk dijelaskan oleh teori-teori HI, tanpa kita menganalisis kepribadian, citra dan latar belakangnya.Teori HI Tetap Berperan dalam Kebijakan Luar NegeriNamun, fenomena ini tidak eksklusif pada satu pemimpin saja. Setiap pemimpin membawa dimensi psikologisnya masing-masing ke dalam proses pengambilan keputusan. Dalam banyak kasus, kebijakan luar negeri tidak semata-mata lahir dari kalkulasi strategis yang objektif, tetapi juga dari pertimbangan subjektif seperti kebanggaan nasional, ambisi legacy, atau bahkan dinamika politik domestik yang bersifat personal.Hal ini menunjukkan bahwa memahami psikologi pemimpin bukan sekadar pelengkap dalam studi HI, melainkan bagian yang esensial. Tanpa mempertimbangkan faktor ini, analisis akan selalu berisiko kehilangan dimensi penting dari realitas politik global.Meski demikian, bukan berarti teori harus ditinggalkan. Teori-teori HI akan tetap memiliki peran penting sebagai alat untuk memberikan kerangka berpikir dan orientasi analisis dalam setiap kebijakan yang diputuskan. Namun, teori seharusnya tidak diperlakukan sebagai kebenaran absolut, yang memastikan bahwa sikap pemimpin seperti Trump tidak akan diluar teori. Teori adalah alat, bukan tujuan. Dan seperti semua alat, efektivitasnya bergantung pada bagaimana dan oleh siapa alat tersebut digunakan.Manusia Lebih dari TeoriPada akhirnya, tantangan bagi studi Hubungan Internasional hari ini adalah bagaimana mengintegrasikan pendekatan struktural dengan pemahaman yang lebih dalam tentang manusia sebagai pengambil keputusan. Selama kita lebih fokus menghafal teori daripada memahami kompleksitas manusia, kita akan terus terkejut ketika realitas tidak berjalan sesuai dengan buku teks.Manusia lebih dari sebuah buku yang berisi teori-teori, dimana di kepala manusia memiliki beribu pikiran, masa lalu juga kepribadian dan emosi yang ikut serta mengontrol dirinya dalam membuat keputusannya. Begitu juga dengan pemimpin negara, mereka juga tetap manusia yang sama seperti rakyatnya, mereka hanya memiliki privilege untuk bisa memimpin suatu negara.Jadi setelah mengenali teori dan manusia mungkin, yang perlu direformasi bukanlah teorinya, melainkan cara kita menggunakannya, karena manusia akan jauh lebih kompleks dibandingkan teori di buku.