Anak-anak Suriah berdiri di atas puing roket Iran yang dilaporkan dicegat pasukan Israel di pedesaan selatan Quneitra dekat Dataran Tinggi Golan. Serangan Israel-AS ke Iran memicu balasan rudal Teheran ke negara Teluk dan Israel, Sabtu (28/2). Foto: Bakr Alkasem/AFPIndeks utama saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu waktu setempat. Kenaikan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa Iran memberi sinyal terbuka untuk berdialog, serta komitmen Presiden Donald Trump untuk menstabilkan pasar minyak. Sentimen tersebut meredakan kecemasan investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 238,14 poin atau 0,49 persen ke level 48.739,41. Sementara itu, S&P 500 menguat 52,87 poin atau 0,78 persen menjadi 6.869,50, dan Nasdaq Composite melonjak 290,79 poin atau 1,29 persen ke 22.807,48.Aksi beli kembali terlihat di saham-saham teknologi. Hal ini mendorong Nasdaq tetap berada di zona positif sejak serangan AS-Israel terhadap Iran yang memicu ketegangan kawasan. S&P 500 pun masih bergerak mendekati rekor penutupan tertinggi sepanjang masa yang tercapai pada Januari, ditopang laporan ekonomi AS yang dinilai solid.Laporan The New York Times menyebutkan agen intelijen Iran secara tidak langsung menghubungi CIA sehari setelah serangan terjadi. Namun, pejabat AS masih meragukan kesiapan kedua pihak untuk melakukan de-eskalasi dalam waktu dekat. Di sisi lain, pengumuman Trump mengenai pengawalan angkatan laut AS untuk kapal tanker minyak di Selat Hormuz serta asuransi risiko politik turut memberi kelegaan ke pasar.Direktur pelaksana senior Clearstead Advisors LLC di New York, Jim Awad, menilai langkah Gedung Putih membantu meredakan kekhawatiran gangguan besar di pasar minyak yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan inflasi. Menurut dia, kabar tersebut membuat investor kembali melirik saham teknologi yang sempat terkoreksi tajam pada Februari."Kombinasi tersebut memberikan optimisme pada pasar, yang akan diuji dalam beberapa minggu mendatang," kata Awad.“Saatnya untuk bersikap realistis dan tidak terbawa suasana, baik terlalu optimis maupun terlalu pesimis,” imbuhnya.Senada, CEO Richard Bernstein Advisors, Richard Bernstein, menyebut prospek perang yang memicu inflasi tambahan menjadi salah satu sumber volatilitas pasar ke depan."Jika orang berpikir perang akan berlangsung singkat atau 'bukan masalah' bagi perekonomian AS, maka pasar saham kemungkinan akan menguat. Sebaliknya, hal itu juga tampaknya benar. Perang yang berlangsung lama dan berdampak pada perekonomian AS bisa berarti volatilitas yang lebih besar,” ungkapnya.Indeks volatilitas CBOE atau VIX yang kerap dijuluki indikator ketakutan Wall Street turun ke sekitar 21 atau melemah sekitar 10 persen pada hari itu. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap gejolak jangka pendek yang lebih rendah meski konflik masih berlangsung.Warga menghadiri pemakaman para korban setelah serangan yang dilaporkan terjadi di sebuah sekolah di Minab, Iran, Selasa (3/3/2026). Foto: Amirhossein Khorgooei/ISNA/WANA via ReutersSejak serangan udara akhir pekan lalu, Nasdaq tercatat naik 0,61 persen dan indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 menguat 0,42 persen. Sebaliknya, S&P 500 turun 0,14 persen dan Dow Jones melemah 0,49 persen secara mingguan.Di sisi sektoral, indeks energi S&P (.SPNY) yang sebelumnya menguat akibat lonjakan harga minyak justru berbalik turun dan memimpin pelemahan. Saham Exxon Mobil ditutup melemah 1,3 persen, sementara ConocoPhillips merosot 2,42 persen.Beberapa negara Timur Tengah dilaporkan menghentikan sementara produksi minyak dan gas, sementara AS memperluas kampanyenya di Iran. Meski demikian, harga minyak pada Rabu berakhir stagnan setelah sesi perdagangan yang fluktuatif. Minyak mentah Brent ditutup di level 81,40 dolar AS per barel, stabil dibandingkan penutupan Selasa dan menjadi posisi tertinggi sejak Januari 2025.Sementara itu, laporan Federal Reserve menyebut aktivitas ekonomi AS meningkat tipis dalam beberapa pekan terakhir. Harga-harga masih naik dan tingkat ketenagakerjaan relatif stabil, dengan ekspektasi ekonomi yang tetap optimistis.