Warga bersepeda di tengah kabut asap, di Singapura. Foto: AFP/ROSLAN RAHMANWarga Singapura berpotensi menghadapi kenaikan tarif listrik jika penghentian operasional fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) raksasa milik Qatar di Ras Laffan berlangsung lama. Lebih dari 90 persen listrik Singapura berasal dari gas dengan sekitar separuh pasokan LNG tahun lalu berasal dari Qatar. Menurut data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg, sekitar setengah dari pembelian LNG Singapura berasal dari Qatar sepanjang 2025.“Situasi di Timur Tengah kemungkinan akan meningkatkan harga energi global dan menyebabkan kenaikan harga listrik domestik,” kata Energy Market Authority (EMA) Singapura dikutip dari Bloomberg, Kamis (5/3). Analis Rystad Energy, Lu Ming Pang, mengatakan Singapura biasanya menerima dua hingga tiga kargo LNG per bulan dari negara Timur Tengah itu, dengan sebagian besar impor tercakup dalam kontrak jangka panjang. Namun, jika pengiriman tersebut tidak dapat dipenuhi, Singapura harus beralih ke pasar spot untuk memenuhi kebutuhannya.Fasilitas produksi gas alam cair (LNG) QatarEnergy, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Kota Industri Ras Laffan, Qatar, 2 Maret 2026. Foto: REUTERS/StringerHarga LNG spot di Asia sendiri telah melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan pekan lalu, mencapai level tertinggi sejak 2023. Lonjakan ini terjadi setelah Qatar menghentikan operasional fasilitas Ras Laffan, yang menyumbang sekitar seperlima pasokan LNG global, setelah menjadi sasaran serangan drone. Peristiwa tersebut membuat Singapura harus bersaing dengan pembeli lain di Asia maupun Eropa untuk mendapatkan pasokan gas yang terbatas, di tengah lonjakan harga di kedua kawasan tersebut.Operator jaringan listrik milik negara, SP Group, menyesuaikan tarif listrik setiap kuartal untuk mencerminkan perubahan biaya bahan bakar impor. Pada kuartal kedua 2022, perusahaan itu sempat menaikkan tarif listrik sebesar 10 persen setelah invasi Rusia ke Ukraina mengganggu pasokan gas global.EMA menyatakan konsumen listrik saat ini relatif terlindungi dari volatilitas harga jangka pendek, karena sebagian besar membeli listrik melalui kontrak harga tetap dari perusahaan ritel atau melalui tarif yang diatur oleh pemerintah dan SP Group.Perahu-perahu di Selat Hormuz di Selat Hormuz di tengah konflik AS-Israel dengan Iran seperti terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3/2026). Foto: Amr Alfiky/REUTERSSejak 2021, otoritas tersebut juga telah meluncurkan sejumlah langkah untuk meredam volatilitas harga dan memastikan keamanan pasokan listrik. Upaya itu mencakup pembangunan fasilitas LNG cadangan yang dapat digunakan jika pasokan terganggu, serta kewajiban bagi perusahaan utilitas untuk menjaga stok bahan bakar yang memadai.Sebagian besar LNG Qatar memang dikirim ke pembeli di Asia. Penutupan fasilitas tersebut kini memicu perburuan sumber pasokan alternatif di kawasan. Taiwan dan Korea Selatan mulai mencari pemasok lain, sementara importir gas di India telah memangkas pasokan untuk pelanggan industri.Meski demikian, volume impor LNG Singapura relatif kecil sehingga negara itu dinilai lebih mudah mendapatkan pasokan pengganti dibandingkan beberapa negara lain.“Namun kemungkinan besar dengan harga spot yang lebih tinggi mengingat lonjakan harga saat ini. Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin banyak kargo yang dibutuhkan untuk menggantikan volume LNG Qatar yang tertunda untuk pengiriman pada bulan-bulan mendatang," kata Pang.