Kisah Keluarga di Jakut, Bertahan Hidup dengan Air Dicampur Bumbu Penyedap

Wait 5 sec.

Situasi kontrakan yang disewa Mardiyah (38) beserta keluarga yang berada di Gg. 23 RT 2 RW 7, Papanggo, Jakarta Utara pada Kamis (5/3). Foto: Ryan Iqbal/kumparanRumah-rumah tampak berhimpitan di Jalan Warakas I, Gang 23, RT 04 RW 07, Papanggo, Jakarta Utara. Gang sempit itu dipenuhi kontrakan kecil yang berdempetan satu sama lain.Namun, himpitan di kawasan ini bukan hanya soal tata ruang. Banyak keluarga juga berdesakan dengan kesulitan ekonomi.Salah satunya keluarga Mardiyah (38). Ia tinggal bersama suaminya, Abdul Jalil (39), dan keempat anak mereka di sebuah kontrakan sepetak dengan dapur dan kamar mandi seadanya.Dalam kondisi serba terbatas, Mardiyah kerap harus memutar cara agar keluarganya tetap bisa makan. Bahkan, ada masa ketika mereka hanya mengandalkan bumbu penyedap yang dicampur air sebagai lauk."Emang Royco cuma ditaburin aja di nasi. Kalau perlu dikasih air putih, diaduk aja. Seperti itu," ungkap Mardiyah saat ditemui kumparan pada Kamis (5/3).Kesulitan ekonomi keluarga ini mulai terasa berat sejak 2024, saat Mardiyah mengandung anak keempatnya. Saat itu, kondisi kesehatannya tengah menurun.Mardiyah (38), warga di Gg. 23 RT 2 RW 7, Papanggo, Jakarta Utara yang sempat mengonsumsi bumbu penyedap menggunakan air untuk kebutuhan pangan, Kamis (5/3). Foto: Ryan Iqbal/kumparan"Itu udah sakit-sakitan, terus ditambah saya habis lahiran juga beberapa kali bolak-balik ke rumah sakit, terus diopname, sempat koma juga. Tapi komanya enggak lama, cuma untuk pemulihan dan kesehatannya itu butuh biaya juga," tutur Mardiyah.Biaya pengobatan yang besar membuat kondisi keuangan keluarga mereka semakin terpuruk. Suaminya yang bekerja sebagai buruh harian di sebuah gudang pabrik botol terpaksa meminjam uang dari berbagai pihak."Masalah untuk pinjaman itu suami bilangnya dari perusahaan. Enggak cuma dari perusahaan aja, dari teman-temannya juga ada. Jadi utangnya itu enggak di satu tempat," kata Mardiyah.Situasi kontrakan yang disewa Mardiyah (38) beserta keluarga yang berada di Gg. 23 RT 2 RW 7, Papanggo, Jakarta Utara pada Kamis (5/3). Foto: Ryan Iqbal/kumparanAkibatnya, setiap kali menerima gaji, sebagian besar penghasilan langsung habis untuk membayar utang dan sewa kontrakan. Jika uang yang tersisa tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa kembali meminjam."Jadi setiap gajian itu kita prioritaskan buat bayar utang. Sisanya buat bayar kontrakan. Kalau misalnya enggak ada lagi, ya minjam lagi. Jadi gali lubang tutup lubang lah istilahnya," ujarnya.Untuk menambah penghasilan, Jalil juga bekerja sebagai ojek. Namun pemasukan dari pekerjaan itu tidak menentu."Kalau suami pulang ngojek malam, misalnya dapat Rp 25 ribu. Kadang Rp 17 ribu dapat, kadang enggak sama sekali. Kalau lagi enggak ada sama sekali ya sudah, sabar aja," kata Mardiyah.Tak Ada Uang Untuk Beli Susu BayiSituasi kontrakan yang disewa Mardiyah (38) beserta keluarga yang berada di Gg. 23 RT 2 RW 7, Papanggo, Jakarta Utara pada Kamis (5/3). Foto: Ryan Iqbal/kumparanDi tengah kondisi itu, Mardiyah tetap berusaha memastikan anak-anaknya tidak kelaparan. Namun keadaan sering kali memaksanya mengambil keputusan sulit.Anak keempatnya yang masih bayi terkadang hanya diberi air putih ketika tidak ada uang untuk membeli susu."Tapi kalau misalnya lagi enggak ada sama sekali, ya air putih. Paling kalau sehari enggak ada susu, dia sementara pakai air putih. Itu dari bayi," ucapnya.Meski demikian, ia tetap berusaha mencari cara agar bayinya bisa mendapatkan susu. Mardiyah bahkan menjual barang-barang yang ada di rumahnya."Nanti kita usahain. Misalnya enggak ada uang, akhirnya saya mikir apa yang harus dijual. Sampai semuanya sudah kejual, buat beli susu," tuturnya.2 Anak Putus SekolahSituasi kontrakan yang disewa Mardiyah (38) beserta keluarga yang berada di Gg. 23 RT 2 RW 7, Papanggo, Jakarta Utara pada Kamis (5/3). Foto: Ryan Iqbal/kumparanKesulitan ekonomi itu juga berdampak pada pendidikan anak-anaknya. Dua anak tertuanya kini tidak lagi bersekolah.Seharusnya, jika masih melanjutkan pendidikan, anak pertamanya kini duduk di kelas 2 SMP pada usia 14 tahun. Sementara anak keduanya seharusnya berada di kelas 4 SD pada usia 10 tahun."Enggak sekolah yang nomor pertama dan kedua," kata Mardiyah.Ia menjelaskan bahwa meski sekolah negeri tidak memungut biaya SPP, masih ada berbagai kebutuhan lain yang harus dipenuhi."Anak masuk SMP itu juga enggak ada biaya. Memang sekolahnya negeri, tapi untuk keperluan kayak tebus seragam, buku-buku. SPP memang gratis, tapi ada kegiatan di luar itu, contohnya outbound atau renang," sambungnya.Di tengah segala keterbatasan yang dihadapi, Mardiyah berusaha tetap bersyukur. Ia memandang kondisi yang dialaminya sebagai ujian hidup."Dari situ hijrah, saya enggak kerja. Pendapatan sudah enggak stabil banget istilahnya. Tapi masih cukup, enggak separah ini. Makin ke sini, ujiannya makin bertubi-tubi," ungkapnya.Meski hidup dalam kekurangan, Mardiyah menegaskan bahwa ia dan keluarganya tidak ingin menerima uang yang dianggap tidak halal."Ada pemilihan itu ya, yang dibilang serangan fajar, suap. Kami enggak mau nerima. Kami enggak mau nerima yang haram. Jadi kalau hijrah itu siap meninggalkan yang haram," kata Mardiyah."Walaupun kondisinya kesulitan, lebih baik daripada kita makan yang haram. Lebih baik kelaparan," tegasnya.