Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparanLembaga Pemeringkat Global, Fitch Ratings, merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating (IDR) tetap di level BBB.Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, mengatakan outlook negatif adalah sinyal awal yang menunjukkan adanya risiko penurunan peringkat utang Indonesia dari level BBB menjadi BB+."Kalau tidak ada perbaikan 12-24 bulan ke depan, maka rating kita akan diturunkan dari BBB menjadi BB+. Yang artinya, ya itu sudah menjadi calon negara yang mau tidak mau nanti akan ditinggalkan," tulis Rhenald lewat Instagram resminya, dikutip Kamis (5/3).Menurutnya, jika penurunan peringkat benar-benar terjadi, RI berpotensi kehilangan status investment grade atau layak investasi. Kondisi itu biasanya membuat investor global lebih berhati-hati bahkan menarik dananya dari negara tersebut."Investor akan keluar, tapi perlahan-lahan kita akan merasakan surat utang kita itu kualitasnya akan turun. Artinya, orang yang mau beli itu akan minta yieldnya lebih besar, bunganya lebih besar dan kemudian, ya harganya akan turun," ujarnya.Rhenald menjelaskan, ketika investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk membeli surat utang negara, biaya pinjaman pemerintah juga akan meningkat. Kondisi ini berpotensi menambah beban keuangan negara dalam jangka panjang."Artinya kualitas hutang kita ini kan berbahaya. Nilai rupiah juga bisa jadi sangat tertekan, nanti bisa tembus itu 17 ribu itu. Apalagi dunianya tidak sedang baik-baik saat ini, harga minyak dari 60-an [USD] sudah jadi 80-an [USD]. Ini gimana ke depannya? Pasti harus kita pikirkan," ungkap Rhenald.Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia NoviansyahMeski demikian, Rhenald menilai pemerintah masih memiliki waktu untuk memperbaiki kondisi dalam rentang 12-24 bulan ke depan.Katanya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menjaga disiplin kebijakan fiskal dan menghindari pengeluaran yang tidak mendesak."Artinya apa? Spending-spending yang nggak perlu jangan dulu. Jangan mengambil risiko yang berlebihan," ucapnya.Pemerintah juga diminta memperketat pengelolaan anggaran negara untuk menjaga stabilitas ekonomi. Rhenald membeberkan perubahan outlook utang bukan hanya berdampak pada pasar obligasi, tetapi juga dapat memengaruhi pasar saham, nilai tukar rupiah, serta kepercayaan investor terhadap Indonesia."Ini sudah beberapa kali lembaga rating mengingatkan. Karena ini adalah outlook. Jadi peringatan ini tidak hanya kita sikapi dengan bijaksana," lanjutnya.Sebelumnya, revisi outlook Fitch Ratings mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran mengenai terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi otoritas pembuatan kebijakan.Kondisi ini dinilai melemahkan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada cadangan eksternal."Penegasan peringkat mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, pertumbuhan jangka menengah yang menguntungkan, rasio utang pemerintah/PDB yang moderat, dan cadangan eksternal yang moderat," demikian keterangan dari Fitch.Fitch menyoroti penerimaan pendapatan yang lemah, biaya pembayaran utang yang tinggi, dan fitur struktural yang tertinggal seperti indikator tata kelola dibandingkan dengan negara-negara berperingkat ‘BBB’.