Cerita Dokter di Bali Rawat Pasien Campak, Rata-rata Belum Disuntik Vaksin

Wait 5 sec.

Ilustrasi - Vaksin Campak. Foto: Manoej Paateel/ShutterstockKementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus campak pada tahun 2025 mencapai 63.769 kasus suspek, dengan 11.509 kasus konfirmasi laboratorium, dan 67 kematian. Tahun 2026, Januari hingga Februari, tercatat sebanyak 8.810 suspek dengan 572 kasus konfirmasi laboratorium dan 5 kematian. Ada 36 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di 24 kabupaten/kota di 11 provinsi.Kasus campak memang tengah mewabah di awal tahun ini. Masyarakat diimbau jaga pola hidup sehat dan melakukan vaksinasi untuk meminimalisir kasus.Putu Siska Suryaningsih, salah satu dokter anak di RSUD Wangaya, Kota Denpasar, Bali, bercerita pengalamannya menangangi tiga pasien anak-anak di bawah usia 10 tahun yang terkena campak pada 2025 lalu.Ketiga pasien yang terkena campak itu tercatat belum pernah menerima suntikan vaksin MR dan MMR."Rata-rata sih semua belum imunisasi," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (5/3).Berdasarkan hasil pemeriksaan, ada beberapa faktor pasien anak belum menerima vaksin MR dan MMR. Yakni, orang tua menyatakan tidak ada riwayat anak-anak dalam keluarga terkena campak walau tak menerima vaksin MR dan MMR.Keluarga tinggal sementara di suatu tempat sehingga tidak mencari informasi lokasi vaksinasi. Keluarga yang tinggal sementara tidak terdeteksi oleh petugas posyandu di tingkat banjar atau desa."Mereka enggak tahu kalau misalnya yang enggak imunisasi itu akan menyebabkan (potensi penularan penyakit campak) sakit. Jadi tingkat pendidikan sih sebenarnya penyebabnya," katanya.Dari tiga pasien yang sempat dia rawat, dua merupakan tetangga yang saling tidak kenal."Ternyata waktu itu saya dapat satu, terus besoknya ada lagi satu, ternyata rumahnya daerahnya itu deketan tapi mereka nggak tahu dia tetangga," katanya.Harap Orang Tua Melek Informasi soal Pentingnya VaksinasiDia berharap seluruh orang tua melek informasi mengenai jenis vaksinasi dasar yang harus diterima anak untuk mencegah terjangkit penyakit. Apalagi, program vaksinasi campak sudah diberikan gratis oleh pemerintah.Dalam kasus ini, anak-anak yang terkena campak berpotensi mengalami komplikasi mulai dari pneumonia, gagal jantung hingga radang otak."Kalau misalnya sampai ke otak, sampai enfalitis (radang otak) itu tingkat kesembuhannya sih lebih kecil dibandingkan cuma pneumonia," katanya.Dokter anak di RSUD Wangaya, Kota Denpasar, Bali, Putu Siska Suryaningsih saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (5/3). Foto: Denita br Matondang/kumparanPenyakit campak memiliki tingkat penularan tertinggi. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini sangat mudah menular melalui udara, seperti percikan batuk atau bersin.Campak berbahaya karena dapat memicu komplikasi serius, mulai dari gagal napas akibat radang paru-paru, kejang akibat radang otak, hingga dehidrasi berat yang berujung pada kematian.Berdasarkan data nasional yang dirilis Kemenkes, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen).Sementara pada 2026 hingga Februari tercatat 8.810 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen).Pada periode tersebut terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah akan memberikan vaksinasi campak di 100 kabupaten dan kota. Ibu-ibu diminta tidak menolak vaksinasi."Semua ibu-ibu yang punya anak di bawah 5 tahun, harus segera divaksinasi, diimunisasi campak. Kalau enggak, pasti tertular. Kalau sekali di kota sudah ada, itu pasti merambatnya cepat sekali,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2).