“You don’t have to jump the highest… just far enough to reach…”Film animasi terbaru dari Pixar, Hoppers, hadir dengan premis yang terdengar unik sekaligus menggelitik: bagaimana jika manusia bisa benar-benar menjadi hewan untuk memahami kehidupan mereka?Lewat kisah petualangan yang penuh humor, aksi, dan emosi, film ini mencoba menjawab pertanyaan besar tentang hubungan manusia dengan alam. Bukan lewat ceramah atau pesan moral yang berat, tetapi melalui sudut pandang yang nggak biasa—hidup sebagai seekor berang-berang.Disutradarai oleh Daniel Chong, kreator serial animasi populer We Bare Bears, Hoppers menjadi salah satu film original Pixar yang paling ditunggu tahun ini. Film ini diproduksi oleh Nicole Paradis Grindle dan dirilis oleh Walt Disney Pictures dengan durasi sekitar 104 menit serta rating PG.Dengan konsep cerita yang segar dan pendekatan visual khas Pixar, Hoppers mencoba mengajak penonton melihat dunia alam dari perspektif yang berbeda.Kisah Mabel Tanaka dan Teknologi “Hoppers”Cerita Hoppers berpusat pada Mabel Tanaka, seorang mahasiswi berusia 19 tahun yang sangat mencintai alam dan satwa liar. Sejak kecil, ia sering menghabiskan waktu di sebuah hutan kecil dekat rumahnya bersama sang nenek—tempat yang menjadi habitat berbagai hewan, termasuk koloni berang-berang.Namun kedamaian tempat itu terancam ketika Wali Kota Jerry Generazzo mengumumkan rencana pembangunan jalan raya yang akan menggusur kawasan tersebut. Kini berusia 19 tahun, Mabel berusaha menghentikan proyek itu lewat kampanye dan petisi, tetapi usahanya tidak banyak membuahkan hasil.Situasi berubah ketika ia mengetahui bahwa profesor biologinya di kampus, Dr. Samantha “Sam” Fairfax, sedang mengembangkan teknologi eksperimental untuk penelitian satwa liar. Teknologi ini memungkinkan kesadaran manusia “melompat” ke dalam tubuh hewan robotik sehingga peneliti dapat mengamati kehidupan satwa langsung dari dalam habitatnya.Program tersebut dikenal sebagai “Hoppers”, karena manusia dapat “hop” atau melompat ke tubuh hewan dan merasakan kehidupan mereka dari dalam.Melihat peluang untuk menyelamatkan habitat yang ia cintai, Mabel nekat menggunakan teknologi itu dan memindahkan kesadarannya ke tubuh seekor berang-berang robotik. Dari sinilah petualangannya dimulai. Ia tidak lagi hanya mengamati alam dari luar, tetapi benar-benar menjadi bagian dari ekosistem yang ingin ia selamatkan.Penasaran dengan kelanjutannya, Grameds? Kamu bisa cek trailer-nya di sini! Baca juga: Silent Truth: Rahasia yang Dikubur 23 Tahun Akhirnya BangkitDunia Hewan yang Penuh Politik dan KekacauanBegitu masuk ke dunia hewan, Mabel menemukan bahwa kehidupan satwa ternyata jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan.Ia bertemu berbagai karakter unik, termasuk King George, pemimpin komunitas berang-berang tempat ia tinggal. Bersama para hewan lain, Mabel harus menghadapi ancaman yang datang dari dunia manusia sekaligus berbagai dinamika kehidupan di dalam komunitas hewan tersebut.Film ini juga menampilkan beragam makhluk lain dengan karakter yang tidak kalah eksentrik, termasuk koloni serangga yang dipimpin oleh karakter bernama Insect Queen, serta sejumlah hewan lain yang memiliki peran penting dalam ekosistem hutan.Lewat interaksi antar karakter inilah Hoppers membangun dunia hewan yang terasa hidup, penuh humor, dan kadang juga absurd—gaya khas animasi Pixar yang memadukan petualangan, komedi, dan pesan emosional.Deretan Pengisi Suara HollywoodSalah satu kekuatan Hoppers juga terletak pada jajaran pengisi suaranya yang diisi oleh banyak aktor ternama.Film ini dipimpin oleh Piper Curda yang mengisi suara tokoh utama, Mabel Tanaka. Ia dikenal lewat berbagai proyek Disney sebelumnya dan dipercaya membawakan karakter mahasiswi pecinta alam yang menjadi pusat cerita film ini.Selain itu, film ini juga menghadirkan sejumlah aktor Hollywood lainnya, di antaranya Bobby Moynihan, Jon Hamm, Kathy Najimy, Dave Franco, dan Meryl Streep sebagai Insect Queen. Kombinasi para pengisi suara ini membantu menghadirkan dunia hewan yang terasa lebih hidup, dengan karakter-karakter yang unik dan penuh warna.Proses Pembuatan Film yang PanjangMeski terlihat ringan dan penuh humor, Hoppers sebenarnya melalui proses pengembangan yang cukup panjang.Sutradara Daniel Chong, yang sebelumnya dikenal sebagai kreator serial animasi We Bare Bears, mulai mengembangkan konsep film ini setelah bergabung dengan Pixar untuk menggarap proyek animasi original. Ide ceritanya kemudian berkembang selama beberapa tahun sebelum akhirnya diumumkan secara resmi oleh Pixar.Untuk menghadirkan dunia hewan yang terasa meyakinkan, tim produksi juga mempelajari perilaku berang-berang serta ekosistem hutan melalui berbagai referensi ilmiah, dokumenter alam, dan studi tentang satwa liar.Secara visual, film ini juga mengambil inspirasi dari berbagai sumber, termasuk film Avatar karya James Cameron, dokumenter alam, serta estetika animasi dari Studio Ghibli. Kombinasi referensi tersebut membantu menciptakan dunia animasi yang kaya detail, di mana perspektif manusia dan hewan digambarkan dengan cara yang berbeda.Sambutan Kritikus dan Respons PenontonMenjelang penayangan resminya di bioskop, Hoppers sudah mendapatkan respons yang cukup positif dari para kritikus melalui berbagai pemutaran awal.Banyak ulasan memuji film ini karena berhasil menghadirkan cerita yang lucu, kreatif, sekaligus menyentuh. Sejumlah kritikus bahkan menyebutnya sebagai salah satu rilisan Pixar yang paling menyenangkan dalam beberapa tahun terakhir.Film ini juga memperoleh skor yang sangat tinggi di Rotten Tomatoes pada ulasan awal para kritikus. Hal tersebut menunjukkan sambutan yang hangat terhadap konsep cerita, animasi, dan karakter yang dihadirkan dalam film ini.Selain kualitas animasinya yang memukau, banyak penonton juga menyukai cara Hoppers membahas isu lingkungan tanpa terasa menggurui, sehingga pesannya tetap terasa ringan namun relevan.Cerita Lain yang Mengajak Kita Melihat Dunia dari Perspektif BerbedaFilm Hoppers menunjukkan bahwa memahami dunia dari sudut pandang lain bisa mengubah cara kita melihat banyak hal, terutama hubungan manusia dengan alam. Ketika Mabel harus hidup sebagai berang-berang, ia baru benar-benar merasakan bagaimana keputusan manusia memengaruhi ekosistem di sekitarnya.Ide tentang empati terhadap makhluk lain, tanggung jawab manusia terhadap lingkungan, dan konsekuensi dari keputusan teknologi sebenarnya juga banyak dieksplorasi dalam dunia sastra. Melalui cerita fiksi maupun nonfiksi, sejumlah buku berikut mengajak pembaca memikirkan pertanyaan yang serupa: bagaimana jika manusia terlambat menyadari dampak dari tindakannya sendiri?Kalau kamu tertarik mengeksplorasi tema seperti yang diangkat dalam Hoppers, lima buku berikut bisa menjadi bacaan yang menarik.1. The Windup Girl – Paolo BacigalupiTemukan Bukunya di Sini!Berlatar masa depan ketika perubahan iklim dan krisis energi menghancurkan tatanan dunia, novel ini mengikuti berbagai tokoh di Thailand yang berjuang bertahan di tengah kelangkaan sumber daya. Salah satunya adalah Emiko, hasil rekayasa genetika yang diciptakan untuk patuh, tapi justru mempertanyakan eksistensinya.Seperti berang-berang di Hoppers, karakter di sini hidup dalam sistem besar yang mereka tidak kendalikan. Alam rusak bukan sekadar latar, tapi penentu nasib. Buku ini memperlihatkan bagaimana manusia sering baru sadar ketika struktur yang menopang hidupnya runtuh. Cocok untuk kamu pembaca yang suka sci-fi tapi tetap realistis, tertarik isu iklim dan kapitalisme, dan yang ingin membaca cerita “bagaimana kalau kita benar-benar terlambat peduli?”2. Dunia Anna – Jostein GaarderTemukan Bukunya di Sini! Nova sayang, aku tak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini…”Bumi 2082, Nova sangat terkejut saat tiba-tiba di terminal online-nya muncul surat dari nenek buyutnya, Anna. Surat yang ditulis 70 tahun lalu, tepat tanggal 12.12.12. Tepat saat nenek buyutnya berusia 16 tahun seperti Nova saat ini.Bicara tentang empati yang datang terlambat, buku ini adalah alarmnya. Lewat cerita yang terasa personal dan sekaligus filosofis, novel ini mengajak pembaca memikirkan tanggung jawab manusia terhadap planet yang ia huni. Ini adalah soal berani berpikir sebelum generasi berikutnya harus menanggung akibat dari ketidakpedulian manusia. Cocok untuk kamu yang suka baca refleksi eksistensial, remaja hingga dewasa muda, dan yang ingin merenung tanpa merasa digurui.3. Frankenstein – Mary Shelley Temukan Bukunya di Sini!Victor Frankenstein menciptakan makhluk hidup dari eksperimen ilmiah yang ambisius.Namun ketika ciptaannya dianggap mengerikan dan ditolak, tragedi pun terjadi. Novel klasik ini bukan hanya bercerita tentang monster, tapi soal tanggung jawab pencipta terhadap dampak tindakannya. Empati yang terlambat di sini berujung bencana. Cocok untuk kamu yang suka pecinta klasik, tertarik isu etika teknologi, dan suka cerita yang ‘gelap’ tapi penuh makna.4. Mata dan Manusia Laut – Okky MadasariTemukan Bukunya di Sini!Bercerita tentang petualangan yang dilakukan oleh Matara dan ibunya ke kepulauan Sulawesi Tenggara. Di sanalah sebuah tempat yang menjadi rumah bagi para manusia laut. Di pulau itu, Matara bertemu dengan Bambulo, yang merupakan anak asli asal Suku Bajo yang sejak kecil sudah memulai hidupnya di air dan menyelam di lautan seperti seekor ikan. Novel ini mengisahkan konflik antara tradisi, alam, dan modernitas. Ceritanya ringan, magis, tapi menyimpan kritik sosial tentang eksploitasi dan kehilangan. Cocok untuk remaja hingga dewasa, pembaca yang suka fiksi dengan sentuhan magis, dan suka isu lingkungan dengan rasa Indonesia.5. Bumi Yang Tak Dapat Dihuni – David Wallace-WellsTemukan Bukunya di Sini!Parah. Lebih parah daripada yang Anda kira.Tak benar kalau dibilang perubahan iklim terjadi dengan lambat, apalagi kalau dibilang tidak terjadi. Dan jika kekhawatiran Anda mengenai perubahan iklim sebatas efeknya menaikkan permukaan laut, itu belum apa-apa, baru secuil dari segala kemungkinan musibah yang disebabkannya.Buku nonfiksi ini membahas dampak nyata perubahan iklim secara detail dan kadang mengerikan. Dari kenaikan suhu ekstrem hingga dampak sosial dan politik, buku ini adalah potret masa depan jika manusia terus menunda aksi. Cocok untuk kamu yang suka data dan fakta, siap membaca sesuatu yang berat tapi penting, dan ingin tahu konsekuensi dari empati yang selalu datang terlambat.Lebih dari Sekadar Film Tentang Hewan…Pada akhirnya, Hoppers bukan hanya film tentang berang-berang atau teknologi futuristis.Film ini berbicara tentang empati—tentang bagaimana manusia sering baru memahami sesuatu setelah benar-benar merasakan dampaknya sendiri. Dengan membuat karakter manusia hidup sebagai hewan, film ini mencoba menunjukkan bagaimana keputusan manusia dapat memengaruhi kehidupan makhluk lain di planet yang sama.Namun seperti film Pixar pada umumnya, pesan tersebut disampaikan lewat cara yang ringan, penuh humor, dan tetap menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga.Siap Melihat Dunia dari Perspektif Berang-berang?Lewat konsep cerita yang unik, dunia animasi yang penuh warna, dan karakter-karakter yang memorable, Hoppers menjadi salah satu film animasi paling menarik tahun ini.Film ini mengajak kita bertanya: bagaimana jika kita benar-benar bisa memahami kehidupan hewan?Lewat petualangan Mabel Tanaka, Hoppers menunjukkan bahwa melihat dunia dari sudut pandang lain bisa mengubah cara kita memandang alam. Dan mungkin, dari sanalah empati mulai tumbuh, sebagai langkah kecil untuk menjaga dunia yang kita tinggali bersama.Hoppers tidak menyuruh kita pindah ke hutan atau hidup dari ranting. Film ini hanya menggeser sudut pandang—mengingatkan bahwa menjadi manusia tidak selalu berarti menjadi tokoh utama. Kadang cukup menjadi bagian dari ekosistem yang sadar bahwa keberlangsungan bersama lebih penting daripada sekadar spotlight pribadi.Dan kalau tadi kita sepakat bahwa kita tidak perlu menunggu sampai sesuatu retak dulu baru peduli, mungkin prinsip yang sama juga berlaku untuk hal-hal lain. Termasuk soal membaca dan memperluas cara pandang.Karena itu, ini saat yang tepat untuk menambah bacaan baru.Gramedia sedang mengadakan Promo 3.3 dengan diskon hingga 50% untuk berbagai produk terbitan Gramedia. Promo ini berlangsung mulai 3 Maret hingga 9 Maret 2026.Kalau berang-berang bisa sigap menyelamatkan bendungan, kamu juga bisa sigap menyelamatkan wishlist. Klik, checkout, dan amankan bacaanmu sekarang sebelum tanggalnya ikut jadi “Delicate”.Yuk, hop sekarang sebelum diskonnya lompat duluan! 🦫📚🛒Temukan Promonya di Sini!