Kardi atau kerap disapa Bejo, lansia penjual es cincau keliling di sekitar Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (4/3). Foto: Nauval Pratama/kumparanSaat kebanyakan lansia menghabiskan waktu bersantai bersama cucu dan anak, Kardi atau akrab disapa Bejo, memilih bertahan sebatang kara di Jakarta. Lansia ini jadi penjual cincau gerobak keliling yang harus mengais rezeki untuk melangsungkan hidupnya di usia senja.Bejo ngaku Lahir pada 1910. Ia berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah, dan memulai kariernya sebagai penjual jajanan keliling di Jakarta sejak 1965.Dengan menumpang truk dan berbekal uang hasil penjualan tiga kambing milik sang nenek, Bejo nekat merantau ke ibu kota.“Yang penting bisa bayar solar (ongkos),” kenangnya.Ditinggal Istri, Memilih Hidup Sendiri Tanpa PendampingHidup Bejo diuji, ketika ia ditinggal istrinya meninggal saat masih berusia 35 tahun. Sejak hari itu, ia memutuskan tak lagi mencari pendamping hidupDari pernikahannya, ia memiliki satu anak. Kini, ia juga memiliki tiga cucu dan seorang buyut yang tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah.Meski memiliki keluarga di kampung halaman, Bejo memilih tetap merantau dan bertahan di Jakarta seorang diri. Ia tinggal di kontrakan sederhana dan mengurus semua kebutuhannya sendiri.“Saudara banyak, tapi kita enggak mau andalin saudara,” ujarnya.Sempat Pulang Kampung, Lalu Kembali ke JakartaPada 2002, ia sempat kembali ke Wonogiri setelah rumahnya di Jakarta kebanjiran.Di kampung, ia dipercaya merawat belasan sapi selama 18 tahun. Selama itu, ia tak pernah menerima pendapatan yang tetap.Tahun 2020, ia kembali lagi ke Jakarta dan memulai dari nol. Bejo sempat berjualan cilok dan cilor. Tapi, ia akhirnya memilih berjualan cincau. Cincau Bejo sederhana. Bahan dasarnya cincau, gula cair, dan es batu yang dijual seharga Rp5.000 per gelas.Setiap hari sejak pukul 02.30 dini hari, ia sudah bangun untuk meracik cincau di kontrakannya yang berada di sekitar Permata Hijau, Jakarta Selatan.Tampak cincau yang dijual oleh Kardi atau kerap disapa Bejo, di sekitar Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (4/3). Foto: Nauval Pratama/kumparanLepas subuh, ia mendorong gerobaknya di sekitar Pasar Palmerah dan berkeliling hingga sore hari.Dalam sehari, omzetnya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung cuaca dan jumlah pembeli.Dari penghasilan tersebut, ia harus membayar kontrakan sebesar Rp300 ribu per bulan, membeli bahan baku, serta mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.Namun, menurutnya, pemasukan tak sepenuhnya berasal dari penjualan cincau.Ada kalanya pembeli memberikan uang lebih atau sekadar tambahan rezeki untuknya. Bantuan kecil itu sangat berarti baginya.“Ada saja yang ngasih lebih,” katanya.Selama berdagang keliling, Bejo mengaku merasa aman dan jarang mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Ia memilih mengalah jika menghadapi persoalan di jalan.“Daripada menang mending ngalah,” tuturnya.Meski begitu, ia merasa kurang berkenan jika sebagai pedagang keliling masih harus membayar biaya retribusi.Menurutnya, ia tidak menetap di satu lokasi karena terus berpindah mengikuti pembeli. Namun demi menghindari keributan, ia tetap membayar jika diminta.Banyak yang tidak percaya dengan usia Bejo. Sebab, jika lahir 1910 ia kini telah berusia 116 tahun. “Kalau saya bilang umur segini, orang enggak percaya,” ujarnya sambil tertawa.Meski begitu, Bejo selalu yakin ia lahir di dekade pertama abad ke-20 itu. Ia juga selalu yakin dengan langkahnya, terus berjalan berjualan cincau, hingga suatu hari ia tak mampu lagi bangkit meracik minuman itu di suatu subuh.