Ilustrasi Vaksin MR. Foto: Shutter StockCampak adalah penyakit menular serius yang disebabkan oleh virus. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut campak dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia (radang paru), diare berat, infeksi telinga, kerusakan otak (ensefalitis), kebutaan, hingga kematian, terutama pada anak yang tidak diimunisasi.Kunci pencegahan campak ini adalah vaksinasi atau imunisasi. Dokter yang juga praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama, MKM, menjelaskan pentingnya imunisasi campak dan rubella/ measles rubella (MR) bagi anak."Sangat penting diberikan mulai dari bayi, balita, anak SD secara lengkap sesuai tahapan anjuran. Karena untuk membooster terus antibodi mencegah infeksi virus campak atau melawan virusnya jika masuk ke tubuh dengan pasukan antibodi (benteng perlindungan baik) yang selalu tinggi dan cukup," kata Ngabila kepada kumparan, Rabu (4/3).Bagi anak yang tidak mendapat imunisasi sejak bayi, Ngabila menyarankan untuk segera melakukan imunisasi karena katanya tidak ada istilah terlambat untuk imunisasi. Berdasarkan rekomendasi WHO, katanya, penyuntikan beberapa jenis vaksin bisa dilakukan sekaligus dalam 1 waktu bahkan bisa 6 jenis sekaligus."Tidak ada kata overdosis dalam vaksin. Jadi kalau nggak yakin apa sudah vaksin tertentu atau belum anggap saja belum vaksin. Jadi bisa diberikan ulang kembali," ucapnya.Cegah Dosa JariyahNgabila menyebut vaksin itu sesuai fatwa MUI ada yang sudah halal dan ada yang mubah atau boleh. Imunisasi, katanya, adalah tugas bersama membangun kekebalan komunitas atau herd immunity untuk kebaikan bersama."Jadi kalau kita divaksin, kita melakukan amal jariyah karena tidak hanya melindungi diri kita, tapi orang di sekitar kita. Sebaliknya, orang yang tidak divaksin ini dosa jariyah, dia bisa menjadi karier atau pembawa kuman yang bisa menularkan dan membahayakan orang imun lemah di sekitarnya," kata Ngabila.dr. Ngabila Salama, MKM, dokter yang juga praktisi kesehatan masyarakat. Foto: Dok. PribadiImunisasi Hak Asasi Anak untuk SehatNgabila mengungkap, anak yang tidak divaksin merasa baik-baik saja padahal terjadi 4 kondisi yakni suatu saat anak tersebut bisa sakit cacat atau meninggal, karier menularkan penyakit untuk orang lemah sekitar, biang kerok mutasi virus dalam tubuhnya dan jadi sumber wabah. Sebaliknya anak yang sudah divaksin ada beberapa yang masih bs sakit walau tidak parah sakitnya, karena penyebab sakit juga bisa dari faktor host agent environment. Host bisa jadi gizi anak kurang atau buruk, ada komorbid genetik dan lain-lain serta lingkungan sanitasi yang buruk."Jangan ada anak tidak divaksin sejak bayi baru lahir, balita, SD. Karena vaksinasi hak asasi anak untuk sehat dan tercegah dari penyakit. Yuk amal jariyah dengan vaksinasi, karena kalau kita divaksin, tak hanya melindungi diri, tapi orang di sekitar kita," ucap Ngabila.Soal situasi jelang mudik di tengah wabah campak ini, Ngabila menyarankan selain vaksin, juga lakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)."Rajin cuci tangan dan pakai masker di kerumunan. Cuci tangan pakai air mengalir dan sabun, 6 langkah cuci tangan selama 20 detik. Sebelum makan, sesudah dari kamar mandi, sesudah aktivitas, sebelum masak, sebelum menyentuh lansia dan balita," jelasnya.4 Pasien MeninggalBerdasarkan data nasional yang dirilis Kemenkes, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen).Sementara pada tahun 2026 hingga Februari tercatat 8.810 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen).Pada periode tersebut, terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.Dalam grafik yang disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, grafik tren harian suspek campak dan campak terkonfirmasi laboratorium selama 1 Januari–28 Februari 2026 terlihat wabah memuncak di Januari 2026, dengan intensitas tinggi dan fluktuatif.Grafik tren harian suspek campak dan konfirmasi campak hingga Februari 2026. dok Kemenkes.Februari menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Meski menurun, tetap diperlukan kewaspadaan dan penguatan imunisasi untuk mencegah gelombang lanjutan.Kasus campak mencapai puncaknya pada pertengahan Januari 2026 dengan jumlah sekitar 420 kasus dalam sehari. Kasus konfirmasi lab mengikuti pola yang sama, dengan puncak sekitar 40–45 kasus per hari.Lalu memasuki awal Februari terjadi tren penurunan baik pada suspek maupun konfirmasi kasus campak. Suspek kurang dari 100 kasus per hari, bahkan turun hingga kurang dari 20 kasus di akhir bulan. Konfirmasi lab rendah, mendekati 0–5 kasus per hari.