Outlook Negatif dari Fitch Ratings, Ekonom Soroti Risiko Turun Rating RI

Wait 5 sec.

Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings Foto: Reinhard Krause/ReutersRevisi outlook utang Indonesia menjadi negatif oleh sejumlah lembaga pemeringkat dinilai sebagai peringatan serius bagi pemerintah. Terbaru, Fitch Ratings memangkas outlook Indonesia jadi negatif.Sejumlah ekonom menilai periode evaluasi ke depan akan menjadi fase krusial untuk menentukan apakah peringkat kredit Indonesia bisa dipertahankan di level investment grade atau justru turun satu tingkat.Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet mengatakan perubahan outlook ini seharusnya dibaca sebagai alarm kebijakan. Menurut dia, pemerintah perlu segera melakukan penyesuaian arah fiskal dan memperkuat tata kelola makroekonomi agar risiko yang disorot lembaga pemeringkat bisa dimitigasi.“Saya melihat kondisi ini sejatinya merupakan sinyal early warning yang sangat jelas bagi pemerintah untuk segera melakukan kalibrasi ulang arah kebijakan fiskal dan tata kelola makroekonomi,” kata Yusuf kepada kumparan, Rabu (4/3).Yusuf menjelaskan, secara historis lembaga pemeringkat biasanya memberikan waktu 12 hingga 24 bulan setelah outlook negatif disematkan sebelum memutuskan langkah lanjutan. Dalam rentang itu, pasar akan mencermati komitmen konsolidasi fiskal, pengendalian defisit, serta upaya memperkuat penerimaan negara.Jika perbaikan dinilai tidak cukup kuat atau tidak konsisten, risiko penurunan peringkat terbuka. Saat ini, Indonesia berada di level BBB. Apabila turun ke BBB-, posisi tersebut menjadi batas paling bawah kategori investment grade dan sangat rentan terhadap gejolak sentimen global.Ilustrasi Investasi. Foto: ShutterstockDampak yang paling cepat terasa, lanjut Yusuf, biasanya berasal dari kenaikan biaya pinjaman. Yield Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi naik karena investor meminta premi risiko lebih tinggi. Beban bunga dalam APBN pun bisa meningkat dan mempersempit ruang fiskal untuk belanja produktif.Selain itu, tekanan terhadap arus modal juga berpotensi membesar. Investor institusional global dengan mandat ketat cenderung bersikap defensif ketika suatu negara mendekati kategori non-investment grade. Capital outflow dapat memicu volatilitas di pasar keuangan dan menekan nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi melalui kenaikan biaya impor.Ekonom Celios Nailul Huda menilai akar persoalan tetap berada pada kesehatan fiskal. Defisit yang masih membengkak serta berbagai program belanja dinilai menjadi perhatian utama lembaga pemeringkat.“Sama seperti yang disampaikan oleh Moody’s beberapa waktu yang lalu, masalah utamanya adalah masalah fiskal. Defisit fiskal masih menghantui dan berbagai program disinyalir menjadi faktor penurun kesehatan fiskal,” kata Huda.Menurut Huda, dalam kondisi tekanan fiskal dan kebutuhan pembiayaan yang tinggi, pemerintah kemungkinan harus menawarkan imbal hasil lebih besar untuk menarik investor asing. Konsekuensinya, suku bunga di berbagai instrumen bisa tetap tinggi, mulai dari obligasi pemerintah hingga obligasi swasta dan deposito, yang berisiko menahan laju pertumbuhan ekonomi.Sementara itu, Kepala Divisi Riset Ekonomi PT SMF Martin D. Siyaranamual menilai kombinasi tekanan global, ketegangan geopolitik, serta isu rating membuat tantangan ekonomi kian berat.“Kumpulannya banyak sekali lah tahun ini. Ya, kondisi geopolitik internasional yang seperti ini, terus kita masih punya masalah struktural di dalam negeri, terus kemudian isu rating dari lembaga-lembaga company rating internasional juga begitu. Memang berat,” kata Martin.