Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC. Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTOMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan pemerintah sudah mulai mengimpor minyak mentah (crude) dari Amerika Serikat (AS) secara bertahap.Bahlil menyebutkan sekitar 25 persen pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan harus melewati Selat Hormuz yang saat ini ditutup Iran. "Sekarang sudah mulai jalan. Bertahap, itu kan bertahap tidak bisa sekaligus semuanya datang, karena kita punya daya simpanan tidak cukup," ungkap Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, dikutip Kamis (4/3).Impor minyak mentah dari AS juga berkaitan dengan dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang disepakati Pemerintah Indonesia dan AS. Indonesia berkomitmen membeli minyak mentah, BBM, dan LPG senilai USD 15 miliar.Namun, di tengah melejitnya harga minyak dan gas bumi internasional karena ketegangan antara AS-Israel dan Iran yang meluas kepada negara tetangganya, Bahlil menilai kesepakatan itu tetap harus dinegosiasikan untuk mendapat harga paling ekonomis."Harga itu kan harga pasar. Sudah pasti sebelum dilakukan transaksi adalah negosiasi. Saya yakin teman-teman di Pertamina maupun di kami, di internal kami punya kemampuan lah untuk melakukan negosiasi dengan mencari harga yang lebih baik," tutur Bahlil.Seiring dengan proses importasi tersebut, kata dia, pemerintah juga akan membangun tambahan penyimpanan (storage) minyak mentah, sehingga cadangan energi nasional bisa naik dari 21-25 hari menjadi 90 hari atau 3 bulan."Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage. Makanya kami membuat sekarang storage. Kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir," tegas Bahlil.Ilustrasi minyak mentah. Foto: Anan Kaewkhammul/ShutterstockSelain minyak mentah, Indonesia juga masih mengimpor produk BBM dari Singapura. Bahlil menyebutkan, pasokan minyak mentah yang digunakan Singapura memang ada juga yang berasal dari Timur Tengah.Dia meyakini Singapura juga sudah menyiapkan strategi alternatif terhadap impor minyak mentahnya yang bisa dialihkan dari berbagai produsen lainnya. Oleh karena itu, dia optimistis keandalan pasokan BBM Indonesia tetap aman."Mereka (Singapura) pasti punya beberapa alternatif, dan itu kan domain mereka. Tapi saya punya keyakinan tidak akan jauh beda dengan Indonesia, karena sumber crude itu tidak satu-satunya dari Middle East. Afrika, Angola, Brazil, sebagian juga mereka ambil dari Malaysia. Sebagian bisa ambil dari Amerika. Dan melakukan trading seperti ini biasanya itu mencari mana yang lebih ekonomis. Dan mana lebih cepat," jelas Bahlil.Bahlil mencatat, pasokan minyak mentah global yang melewati Selat Hormuz mencapai 20,1 juta barel per hari. Sementara kebutuhan global jauh lebih besar dari itu dan masih bisa dipasok dari negara lain di luar Timur Tengah."Selat hormuz itu kan 20,1 juta barrel per day yang melewati Selat hormuz. Konsumsi global kita kan bukan 20 juta, ratusan juta barrel per day. Jadi saya pikir itu tinggal bagaimana menyelesaikannya," tutur Bahlil.