Ramadhan sebagai madrasah ruhani untuk membentuk karakter pribadi mulia (Sumber: foto pribadi)Hanya karena Iman (haqul yaqin) kita semua melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Jika aqil baligh dijadikan titik nol melekatnya kewajiban puasa maka semakin menguatkan bahwa hanya dengan keyakinan yang benar kita akan sampai kepada derajat taqwa sebagai tujuan akhir dari pelaksanaan puasa. Maka akal akan diminta untuk mengkaji dan menemukan makna penting puasa. Media kajiannya berupa meneladani kisah masa lalu dari para pribadi yang telah sampai pada derajat kemuliaan taqwa. Termasuk aneka rujukan ilmiah tentang makna penting dari kegiatan berpuasa.Itulah pesan utama dari QS Al Baqarah: 183 sebagai rujukan utama pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadan. Semua bermula dari sempurnanya aqal (aqil baligh) untuk menemukan keyakinan bahwa puasa adalah kebutuhan setiap manusia. Konsekuensi dari hal tersebut bagi kita semua sebagai seorang muslim (pribadi yang berserah diri) memiliki kewajiban untuk berpuasa. Sebenarnya bukan kewajiban tetapi kebutuhan utama jiwa dan raga setiap manusia. Tiga (3) Tingkat ImanUntuk menemukan kesejatian makna puasa maka kita dituntut untuk mencapai keyakinan yang sempurna. Keyakinan adalah perjalanan transenden seorang makhluk. Keyakinan tidak bisa karena taqlid. Keyakinan murni dilahirkan oleh sebuah proses kesadaran. Seorang makhluk diberi 5 (lima) panca indra dan akal untuk bisa menemukan dan merasakan nilai keyakinan yang hakiki.Ada banyak sekali perintah di dalam Al Quran yang meminta manusia sebagai makhluk untuk menggunakan akalnya dalam menjalani proses penemuan sebuah keyakinan. Seorang muslim atas dasar kepasrahan total diminta berusaha menggunakan akal dan pikirannya untuk menemukan kebenaran hakikat. Termasuk menemukan kesejatian dan urgensinya kewajiban puasa di bulan Ramadan.Seperti informasi di dalam QS. Al Israa’ (17) ayat 36 disebutkan "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya". Dengan sangat jelas Sang Khaliq meminta kepada kita semua untuk menjadikan Ilmu sebagai panglima. Sementara piranti yang diamanatkan kepada manusia untuk didayagunakan dalam mendapatkan ilmu disebutkan dengan menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati.Bahkan di dalam QS. Yunus (10) ayat 35 Allah Berfirman: " Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?". Semakin jelas bahwa semua tindak tanduk manusia hendaknya mengedepankan ilmu. Setiap saat manusia dituntut untuk mengambil keputusan. Termasuk bagaimana kita mengambil keputusan untuk melaksanakan puasa di Bulan Ramadan. Sekali lagi apakah karena rutinitas atau karena sebuah keyakinan yang sempurna.Tingkat keyakinan yang pertama adalah hasil dari sebuah pengkajian yang menghasilkan ilmu yang disebut Ilmul yaqin. Kita mendapatkan keyakinan karena hasil bacaan (iqra) atau meneladani kisah orang-orang saleh terdahulu yang telah menjalani puasa. Kisah-kisah dan keteladan hidup dari para tokoh mulia tersebut telah memberikan inspirasi dan motivasi kepada kita semua bahwa puasa bisa menghasilkan pribadi mulia.Ilmu pengetahuan juga menyebutkan bahwa puasa dapat menyehatkan tubuh/ raga manusia. Yoshinori Ohsumi, seorang pakar biologi sel asal Jepang. Ia dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2016 atas penemuannya tentang mekanisme autofagi (proses "memakan diri sendiri" pada sel). Ohsumi membuktikan bahwa puasa bisa mengaktifkan mekanisme autofagi. Sementara outcome dari proses autofagi adalah terjadinya proses membersihkan racun, sel rusak, dan sel prakanker, yang berperan penting dalam detoksifikasi dan perbaikan sel tubuh.Karena itulah muncul keyakinan bahwa puasa ternyata memberikan dampak sangat penting bagi kesehatan. Sebuah proses keyakinan karena keilmuan yang kita dapat dari proses pencarian dan studi literatur. Dengan meneladani kisah sejarah berupa perilaku para orang mulia dan urgensi puasa bagi kesehatan tubuh diharapkan telah menumbuhkan benih keyakinan dalam diri setiap manusia. Embrio keyakinan akibat kesadaran akal dalam mencari hakikat dari perintah puasa.Tingkat kedua adalah Ainul Yaqin. Kesadaran akan persaksian sebuah keyakinan ketika indra penglihatan di sajikan terhadap kebenaran sebuah wujud alam materi. Dengan puasa banyak orang yang memiliki kualitas kesehatan dan kualitas pribadi yang sangat unggul. Hidup mereka sehat, produktif dan banyak memberikan manfaat bagi sesama manusia dan alam sekitar. Ibarat anak yang pernah dikisahkan bahwa di Jakarta ada Tugu Monas. Dan sekarang Sang Anak sudah berdiri di hadapan megahnya tugu monas. Maka bertambahlah derajat keyakinan bahwa memang benar monas itu ada sesuai dengan ciri-ciri yang pernah didongengkan Sang Bapak.Sampai akhirnya kita akan sampai pada puncak kesadaran keyakinan yaitu haqul yaqin. Sang anak perlahan masuk, meraba, mencium aroma dan berdiri di puncak menara monas. Kesadaran yang telah menyatu di dalam keyakinan yang sedang ia rasakan kebenarannya. Maka keyakinan akan pentingnya puasa telah kita rasakan bersama. Kita berada di bulan Ramadan dan dengan segenap kesadaran yang sempurna kita sedang merasakan manisnya setiap detik dan setiap gerak tubuh yang begitu nyaman dan ringan di Bulan Ramadan. Puncak kesadaran bahwa manusia membutuhkan ramadan. Di Bulan itu kita semua mengkalibrasi dan melatih kembali ragam kebiasaan mulia untuk membentuk pribadi mutaqqin.Kenapa Taqwa Sebagai Tujuan PuasaVisi kita semua dalam menjalankan ibadah Puasa adalah mencapai derajat taqwa. Secara bahasa taqwa terambil dari kata "waqa-yaqi-wiqayah" (وقاية) yang berarti melindungi, menjaga, atau memelihara diri agar selamat dari bahaya, terutama murka Allah SWT. Kata ini berkembang menjadi bentuk ittaqa yang berarti mencari perlindungan atau menjaga diri.Taqwa adalah kualifikasi sempurna model manusia. Para mutaqqin adalah wujud kesempurnaan manusia di hadapan penciptanya. Itulah ultimate goal penciptaan manusia. Taqwa adalah life skill manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia. Taqwa tidak dilahirkan. Taqwa dibentuk dan diterpa oleh aneka latihan dan cobaan hidup. Derajat ketaqwaan sangat dinamis. Sehingga ia perlu dilatih secara terus menerus sepanjang napas masih bisa kita hembuskan.Di antara latihan utama untuk mencapai derajat taqwa yang paripurna adalah dengan melakukan siyam. Seperti diketahui Akar kata siyam (صيام) berasal dari bahasa Arab صام – يصوم (shama – yashumu) yang memiliki arti dasar menahan diri (al-imsak), diam, tidak berbicara, atau berhenti dari aktivitas. Sehingga selama bulan ramadan kita dilatih untuk meningkatkan kemampuan menahan diri. Bahkan menahan keinginan dari yang halal. Kita dilatih untuk memiliki kemampuan manajerial personal terhadap aneka keinginan. Jangankan yang haram, yang halal dilakukan saja kita dilarang untuk melakukannya.Menjadi sangat jelas kenapa taqwa sebagai tujuan utama dari ibadah puasa. Karena taqwa akan menuntun kita semua menuju kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Melalui aktivitas hidup dalam koridor taqwa manusia akan selamat sampai tujuan. Rezeki akan melimpah dalam balutan keberkahan. Taqwa akan membawa kedamaian dalam membangun hubungan interpersonal. Taqwa akan mendorong manusia selaku aktor utama (khalifah) untuk selalu memiliki kecenderungan berperilaku baik (good habbit).Parameter Taqwa Tentunya kita harus mampu mengevaluasi dan mengenali keberhasilan dari ikhtiar ibadah puasa kita. Apakah sebulan lamanya kita menjalani ibadah puasa telah mencapai target keberhasilannya. Kita diingatkan oleh Sabda Nabi مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ yang Artinya: Barang siapa yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari no. 2014).Ada 2 (dua) kata kunci agar puasa ramadan kita diterima dan mendapat ampunan Allah SWT. Yaitu imanan dan wahtisaban sebagai prasyarat utama ibadah puasa kita agar mencapai tujuannya. Keimanan yang sempurna karena kita sudah mencapai derajat haqul yakin tentang urgensi puasa bagi pemenuhan kebutuhan jiwa dan raga. Kita merasakan begitu gembira dan bahagia ketika usia memasuki bulan ramadan. Bahkan banyak kisah menyebutkan para sahabat yang sudah mempersiapkan diri jauh hari sebelum masuk bulan ramadan.Hal utama kedua untuk tercapainya tujuan utama puasa adalah ihtisaban. Kata ini memiliki akar yang sama dengan kata hisab atau perhitungan atau kalkulasi. Hendaknya setiap insan yang melakukan puasa selalu mengevaluasi setiap hari dari pelaksanaan ibadah puasa. Evaluasi adalah alat kontrol manajemen. Tujuannya untuk tidak mengulangi ketika ada kesalahan. Kemudian selalu mencari cara untuk menyempurnakan proses sehingga tujuan utama kegiatan bisa tercapai.Pelaksanaan puasa tentu ada banyak godaan dan tantangan. Melalui ihtisaban kita dituntut untuk selalu mengoreksi/hisab setiap kesalahan yang berpotensi menggugurkan pahala puasa. Hal ini sejalan dengan arti utama dari kata shaum yaitu imsak atau menahan diri. Dalam setiap koreksi yang kita lakukan kita kembali dituntut untuk meningkatkan kemampuan diri dalam mengendalikan nafsu untuk tidak berperilaku buruk. Makanya menjadi sangat ironis ketika di bulan ramadan ada orang yang kena OTT oleh lembaga anti rasuah alias KPK.Di dalam QS Ali Imran ayat 133-135 disebutkan parameter utama dari sempurnanya ibadah puasa. Sekaligus sebagai ciri utama manusia yang bertaqwa adalah "..orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya.Itulah indikator utama puasa kita diterima oleh Allah SWT. Itulah ijazah kelulusan pelatihan selama sebulan kita berpuasa. Jika perilaku baik itu yang meningkat pasca ramadan, maka kita telah lulus dari madrasah ramadan. Latihan pengendalian diri dan emosi telah membentuk karakter jiwa yang kuat. Kualitas fisik yang prima untuk menjalani 11 (sebelas) bulan berikutnya. Tetapi jika pasca ramadan perilaku kita tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut maka berarti puasa kita gagal. Kita tidak lulus dari madrasah rohani ramadan. Kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Sebulan ramadan yang penuh derita akibat ihtisaban yang gagal kita lakukan.Implikasi Diraihnya TaqwaSetiap tindakan yang kita pilih pasti akan membuahkan dampak. Hal yang sama dengan diraihnya taqwa dalam kehidupan kita. Allah SWT sudah memberikan informasi di dalam QS At talaq ayat 2-5 perihal implikasi dari diraihnya taqwa dalam kehidupan manusia. Disebutkan bahwa jika kita ajeg dalam bertaqwa maka akan diberikan jalan keluar dari setiap masalah dalam kehidupan. Kedua, akan diberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Ketiga, dimudahkan segala urusan dalam hidup. Keempat, dihapus dosa dan dilipatgandakan (quantum) pahala.Sungguh luar biasa reward dari Sang Khaliq ketika derajat mutaqqin berhasil kita raih. Tidak ada lagi kebahagiaan yang hakiki ketika semua urusan dalam hidup ini dapat diselesaikan dengan cara yang mudah, rizki yang barokah dan mendapat pengampunan karena dosa dan khilaf kita sebagai seorang makhluk. Betapa besar kasih dan sayang Allah SWT kepada kita dengan menghadirkan Puasa di Bulan Ramadan. Tanpa ramadan kita akan kesulitan dalam melakukan akselerasi perbaikan jiwa dan raga kita. Tanpa Ramadan kita akan terlalu lelah untuk menjalani kehidupan di tengah banyak masalah dalam kehidupan.Oleh karena itu mari kita semua memaksimalkan latihan di bulan ramadan ini. Ramadan adalah madrasah jiwa dan raga kita. Mari perbanyak derma agar kita terbiasa menginfakan rezeki di kala luang dan sempit. Mari berdamai dengan diri untuk banyak memaafkan dan bertaubat atas salah dan dosa. Mulailah hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang halal dan thoyib. Karena tubuh kita akan terlalu capek ketika asupan makanan junk food atau makanan yang tinggi gula dan rendah serat selalu kita konsumsi. Jadikan bulan ramadan sebagai momentum untuk perbaikan diri kita (gemba kaizen). Sehingga kita akan terlahir kembali sebagai pribadi mulia pasca puasa ramadan.