Nvidia, Apple, dan Amazon Protes Kemhan AS Blokir AI Anthropic

Wait 5 sec.

CEO Anthropic, Dario Amodei. Foto: MICHAEL M. SANTIAGO/Getty Images via AFPPerseteruan antara pemerintah AS dan perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka, Anthropic, berbuntut panjang. Kini, para raksasa teknologi AS tak tinggal diam dan memilih turun gunung untuk pasang badan.Asosiasi industri teknologi besar Information Technology Industry Council (ITI), yang beranggotakan Nvidia, Amazon, Apple, hingga OpenAI, resmi mengirimkan surat protes kepada Menteri Pertahanan/Perang AS, Pete Hegseth, pada Rabu (4/3).Mereka memprotes keras keputusan Pentagon yang menjuluki Anthropic sebagai "risiko rantai pasok," label untuk entitas yang dianggap musuh AS karena berisiko disabotase pihak lawan dengan menyusup ke rantai pasok sistem militer. Menurut mereka, penetapan status tersebut justru menciptakan ketidakpastian yang bisa mengancam akses militer AS terhadap produk dan layanan teknologi terbaik.CEO ITI, Jason Oxman, menegaskan label risiko seperti itu seharusnya hanya digunakan untuk keadaan darurat yang sesungguhnya."Otoritas darurat seperti penetapan risiko rantai pasokan biasanya hanya dicadangkan untuk entitas yang telah ditetapkan sebagai musuh asing (negara lawan)," tulis Oxman. Menghapus teknologi Anthropic dari sistem pemerintah, tambahnya, akan menjadi pekerjaan yang sangat rumit dan merugikan.Ilustrasi Anthropic. Foto: Photo For Everything/ShutterstockGaris merah yang pantang dilewatiKisruh ini bermula dari perdebatan alot selama berbulan-bulan antara Anthropic dan Departemen Pertahanan AS, yang di era Presiden Donald Trump kini diubah namanya menjadi Departemen Perang.Inti masalahnya ada pada moralitas penggunaan AI. Pentagon mendesak perusahaan-perusahaan AI untuk menghapus batasan (garis merah) demi klausul "penggunaan yang sah" di medan tempur. Namun, Anthropic secara tegas menolak. Mereka melarang keras AI andalannya, Claude, digunakan untuk menggerakkan senjata otonom mematikan dan sistem pengawasan massal warga AS.Buntut dari penolakan ini, Presiden Donald Trump pekan lalu mengumumkan larangan penggunaan Anthropic di seluruh lembaga federal dengan masa transisi enam bulan. Hegseth juga memerintahkan para pemasok Pentagon untuk segera membersihkan teknologi AI Anthropic dari rantai pasok mereka.Langkah agresif pemerintah ini tak ayal membuat heboh industri. Bahkan, rival utama Anthropic, OpenAI, ikut angkat bicara membela saingannya tersebut."Garis merah kami sebenarnya sama dengan Anthropic, tidak ada pengawasan domestik dan tidak ada penggunaan AI untuk senjata otonom," ujar Connie LaRossa, pakar kebijakan keamanan nasional OpenAI. "Label risiko tersebut tidak seharusnya diterapkan pada sesama perusahaan industri AS yang memiliki alat sepenting itu."Ilustrasi Anthropic. Foto: PJ McDonnell/ShutterstockKepanikan investor dan masalah 'ego'Di balik layar, tensi tinggi menyelimuti markas Anthropic di San Francisco. Laporan menyebutkan para investor kakap, termasuk CEO Amazon Andy Jassy dan firma modal ventura Lightspeed serta Iconiq, tengah bermanuver mencari jalan tengah. Mereka bahkan mencoba melobi kenalan mereka di pemerintahan Trump untuk meredakan ketegangan.Meski secara publik mendukung Anthropic, beberapa investor diam-diam merasa frustrasi. CEO Anthropic, Dario Amodei, dinilai terlalu mengantagoniskan pejabat Pentagon ketimbang merangkul mereka."Ini adalah masalah ego dan diplomasi," ujar seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.Meski begitu, Amodei kini berada di posisi yang serba salah. Jika ia menyerah pada tuntutan pemerintah, ia berisiko kehilangan kepercayaan dari karyawan dan konsumen setianya yang selama ini mengagumi prinsip etika ketat Anthropic.Meski demikian, label "risiko rantai pasok" dari Pentagon adalah ancaman serius bagi bisnis Anthropic. Jika aturan ini diterapkan secara luas, seluruh kontraktor pemerintah harus berhenti menggunakan teknologi Anthropic di seluruh aspek bisnis mereka.Padahal, pesona Anthropic sedang berada di puncaknya. Chatbot Claude baru saja menjadi aplikasi gratis paling banyak diunduh di Apple App Store pada hari Senin lalu, menyalip ChatGPT. Proyeksi pendapatan tahunan (run rate) perusahaan pun melonjak tajam menjadi sekitar USD 19 miliar (sekitar Rp 300 triliun) dari USD 14 miliar hanya dalam beberapa minggu.Dengan 80% pendapatan Anthropic berasal dari klien korporat (B2B), pemblokiran oleh pemerintah ini dikhawatirkan akan menakut-nakuti calon pelanggan bisnis lainnya yang enggan berurusan dengan perusahaan yang sedang di-blacklist oleh pemerintahan Trump.Kini, nasib Anthropic, dan rencana mereka untuk melantai di bursa saham (IPO), sangat bergantung pada seberapa jauh para dewa teknologi seperti Apple, Amazon, dan Nvidia mampu melunakkan hati Pentagon.