Sejumlah kendaraan melintas dengan latar belakang gedung yang diselimuti polusi udara di Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (26/6/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanDinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkapkan pencemaran udara, khususnya paparan partikel halus PM2,5, berisiko menurunkan usia harapan hidup masyarakat. Risiko tersebut terutama mengancam kelompok rentan seperti balita dan lansia.Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa, mengatakan dampak pencemaran udara terhadap kesehatan telah banyak dibuktikan melalui riset akademik dan temuan medis.“PM2,5 itu memang satu partikel yang di dalamnya itu banyak sekali sub-sub partikel yang sangat kecil dan itu ya beracun. Jadi dia masuk, salah satunya ya ke pernapasan ya. Terus masuk sampai ke paru-paru," jelas Fitri dalam acara Bincang Santai Polusi Udara bersama KLHK dan Clean Air Asia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/3).Fitri menyebut paparan polusi udara berkorelasi dengan meningkatnya kasus gangguan pernapasan di Jakarta.“Nah, teman-teman dari Kemenkes juga menyampaikan hal yang sama. Trennya tuh ISPA terutama usia-usia rentan. Usia rentan itu anak-anak balita, terus orang tua," ungkapnya.Fitri mengatakan, DLH DKI telah memasang Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang terintegrasi dengan aplikasi JAKI dan Udara Jakarta. Sistem tersebut dilengkapi peringatan dini ketika kadar PM2,5 melampaui ambang batas.“Itu ada semacam warning. Kalau PM2,5 nya sudah melebihi baku mutu, diharapkan masyarakat untuk melakukan a, b, c, d. Tapi jika misalnya masih aman ya dalam kondisi sehat, itu ada juga poinnya harus ngapain," tutur Fitri.Namun, ia mengakui pemahaman masyarakat terkait dampak kualitas udara terhadap kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah. Salah satunya terlihat saat DLH meminta sekolah mengurangi aktivitas luar ruang karena tingginya polusi.Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Jakarta dan JFT Pedal Ahli Madya Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara KLHK Iim Ibrahim saat acara Bincang Santai Polusi Udara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/3). Foto: Nasywa Athifah/kumparan“Ada salah satu guru ya kami sampaikan ‘Pak Bu ini loh hasil pengukuran kualitas udara di sini PM2,5-nya segini sudah melewati baku mutu. Ini ber-impact terhadap kesehatan anak-anak sekolah. Jadi aktivitas di luar gedung di luar kelas itu dikurangi.’ Oh mereka marah tidak menerima dengan baik," jelas Fitri."Kenapa PM2,5 tinggi? Karena banyak motor yang parkir di situ. Jadi pada saat dia nyalain motor, ngegas itu PM2,5 ininya tertangkap oleh stasiun kami, gitu," lanjut dia.Fitri menegaskan paparan PM2,5 tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berisiko menurunkan usia harapan hidup warga Jakarta."Yang lebih parah, ada penelitian IPB. Termasuk ya anak-anak yang kena autis itu juga akibat atau dampak dari paparan pencemaran udara," katanya.Selain kendaraan bermotor, Fitri menyebut pembakaran sampah dan aktivitas pembakaran terbuka lainnya turut memperburuk kualitas udara Jakarta."Apalagi kalau misalnya dilakukan pembakaran sampah secara tidak terkendali. Ya sanksinya itu Rp 500 ribu, cuma memang pada saat itu ada asap kita nggak tahu siapa yang bakar," tutur Fitri.“Jadi kita minta tolong teman-teman yang di kecamatan, cek dong daerah sana tuh ada bakar sampah nggak sih? Ada yang bakar ikan di warung makan, bakar sate atau siapa itu pasti pengaruh. Tapi yang fatal bakar sampah," sambung dia.DLH DKI menilai pengendalian pencemaran udara masih membutuhkan upaya berkelanjutan, terutama menjelang musim kemarau yang berpotensi meningkatkan konsentrasi polutan di udara Jakarta."Sebenarnya kan kita punya SPPU (Strategi Pengendalian Pencemaran Udara). Nah ini yang sedang dievaluasi. Jadi dari SPPU, kita split lagi, press lagi, kegiatan mana nih yang paling efektif dalam menanggulangi pencemaran udara Jakarta," jelas Fitri."Kita pernah bikin 10 langkah respons cepat penanggulangan pencemaran udara. Tapi itu belum sempat kami olah menjadi satu regulasi. Memang prediksi BMKG kan sekitar Mei itu sudah mulai masuk musim panas sampai Agustus September. Nah mungkin ini akan kita keluarkan lagi ya," tutup dia.