Ilustrasi simulasi perang Foto: Pathdoc/fotoliaKonflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah berubah dari pertempuran bilateral menjadi pergulatan regional yang mencakup negara-negara Timur Tengah lainnya.Meski awalnya dimulai sebagai serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran yang dipimpin AS dan Israel, aksi balasan Teheran telah melibatkan serangan rudal dan drone terhadap wilayah Arab Teluk, dengan justifikasi bahwa serangan tersebut ditargetkan pada pihak-pihak pendukung Amerika Serikat.Hal tersebut juga diperkuat dengan dukungan milisi pro-Iran, seperti Hezbollah di Lebanon. Eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik tersebut tidak lagi bersifat lokal, tetapi telah berubah menjadi peperangan multipihak dengan implikasi luas di kawasan dan global (AP News).Serangan militer AS dan Israel yang dilaporkan menyasar lebih dari 1.700 target di dalam Iran—termasuk pusat komando, fasilitas keamanan, situs rudal dan jaringan militer lainnya—telah mengakibatkan gelombang ledakan di ibu kota Teheran dan sejumlah kota besar lainnya.Dilaporkan oleh TIME, dalam lima hari konflik pertama saja, jumlah korban sipil diperkirakan telah melampaui 1.000 orang, termasuk lebih dari 160 anak sekolah akibat serangan terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran Selatan, menurut laporan lembaga HAM setempat.Balasan dari Iran dan Perluasan SeranganBalasan Iran tidak hanya ditujukan ke Israel—Teheran telah menembakkan puluhan misil balistik dan ribuan drone ke target yang mencakup wilayah negara-negara Teluk yang menjadi sekutu dekat Washington. Dalam satu pernyataan, garda revolusi Iran menyebut telah meluncurkan lebih dari 40 rudal balistik ke target pro-AS dan Israel di hari kelima konflik (The Guardian).Sejumlah warga mengevakuasi korban serangan Israel-Amerika di sebuah Sekolah di Minab, Iran pada 28 Februari 2026. Foto: Abbas Zakeri/WANA via REUTERSGulf News mencatat beberapa insiden yang mencerminkan pergeseran ini, termasuk serangan drone Iran terhadap kedutaan AS di Riyadh, Arab Saudi, dan serangan di kota pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab (UAE).Meskipun korban tewas tidak besar dalam insiden ini, serangan tersebut menunjukkan bahwa Iran berusaha memukul target simbolis dan strategis AS di luar perbatasannya sendiri sebagai bentuk tekanan dan ekspansi konflik.Alasan Iran melancarkan serangan yang melampaui sekadar balasan terhadap Israel dipengaruhi oleh beberapa faktor strategis. Pertama, Teheran tidak hanya dihadapkan dengan serangan terhadap situs militernya, tetapi juga dengan pembunuhan atas Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—sebuah simbol yang secara historis mendorong respons keras dan eskalatif.Kedua, berdasarkan laporan media, seperti The Guardian, Iran telah membangun jaringan milisi dan kekuatan proksi di Irak, Lebanon, Suriah, serta Yaman, yang kini aktif menyerang sekutu AS sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas. Hubungan kuat dengan kelompok seperti Hezbollah di Lebanon membuat pertempuran tidak lagi terbatas pada AS-Israel sebagai belligerent utama.Sebagai salah satu negara yang terdampak secara regional, Arab Saudi sejauh ini mencoba menyeimbangkan antara menjaga kestabilan internal dan tekanan regional.Ilustrasi bendera Arab Saudi. Foto: ShutterstockMeskipun serangan drone Iran mengenai fasilitas di Riyadh dan konsulat di Dubai menunjukkan bahwa wilayah Teluk bukan zona bebas konflik, negara kerajaan ini belum secara militer terlibat langsung dalam perang antara AS-Israel dan Iran, terlepas dari kewaspadaan yang meningkat untuk menyiagakan pasukan.Kementerian Pertahanan Saudi—melalui pernyataan resmi—menegaskan bahwa serangan tersebut hanya menyebabkan “kerusakan material terbatas” dan bahwa Riyadh tidak ingin terperangkap dalam perang besar yang melibatkan kekuatan utama (Gulf News).Namun, ketidaklibatan militer formal tidak berarti Arab Saudi tidak merugi. Selat Hormuz—rute perdagangan minyak global yang krusial—menjadi bergejolak karena gangguan militer.Meski hal tersebut dapat membuat harga minyak mentah melonjak tajam—seiring meningkatnya risiko pasokan dan menguntungkan negara Petro Dollar seperti Arab Saudi—hal ini tidak membawa keuntungan apa pun jika distribusi komoditas minyak masih terhambat karena alasan keamanan di rute pelayaran yang bersinggungan langsung dengan wilayah Iran.Selain itu, pasar energi global telah mengalami peningkatan harga yang signifikan saat konflik berlangsung, mengancam pemulihan ekonomi global yang masih rapuh. Hal ini menunjukkan bahwa Arab Saudi dan juga negara-negara Teluk lain (terpaksa) harus memperkuat pertahanan militer dan mempercepat kerja sama keamanan dengan sekutu AS serta negara-negara Teluk lainnya.Dimensi Regional, Global dan Milisi ProksiIlustrasi AS-Israel vs Iran Foto: Dok. ChatGPTPerluasan konflik ini juga ditandai dengan peningkatan aktivitas milisi yang didukung Iran. Kelompok bersenjata di Irak, Suriah, dan Lebanon telah melakukan serangan terhadap pasukan koalisi dan sekutu AS, merentang medan perang di luar batas wilayah Iran sendiri.Misalnya, seperti rilis dari Al Jazeera, serangan terhadap pos militer dan fasilitas komando milisi di Irak Barat menjadi bukti bahwa jaringan proksi ini berperan sebagai lengan strategis Teheran untuk memperluas tekanan terhadap AS dan sekutu di Timur Tengah.Eskalasi ini telah memicu respons militer dari Israel di wilayah Lebanon, terutama menargetkan basis Hezbollah, di mana serangan lebih lanjut dapat memicu perang darat di perbatasan utara Israel—suatu kemungkinan yang bisa memperluas konflik ke dimensi yang lebih besar lagi.Di tengah ketegangan, negara lain seperti Tiongkok terus menonjolkan peran diplomatiknya. Beijing telah menghindari dukungan militer langsung kepada salah satu pihak, tetapi secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan dan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.Pernyataan resmi Tiongkok menyoroti kekhawatiran tentang implikasi konflik terhadap stabilitas ekonomi global—terutama hubungan dagang dan energi dengan negara-negara Teluk. Tiongkok tetap menjadi pelanggan besar minyak Arab Saudi dan Iran, sehingga konflik berkepanjangan akan langsung memengaruhi pasokan dan harga energi yang memengaruhi perekonomian dunia.Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato pada KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) 2025 di Pusat Konvensi dan Pameran Meijiang di Tianjin, China, Senin (1/9/2025). Foto: Suo Takekuma/Pool via REUTERSAnalisis pengamat mengatakan Beijing mungkin terdorong untuk menjadi “penengah netral” jika situasi memungkinkan, meskipun perannya belum diuji dalam konflik sebesar ini sebelumnya.Implikasi dan Proyeksi Konflik: Berapa Lama dan Seberapa Luas?Para analis memperkirakan konflik ini masih akan berlangsung dalam jangka menengah, dengan ancaman pelebaran ke wilayah lain jika mediasi tidak berhasil cepat. Pemerintah AS telah menyatakan operasi militer ini mungkin akan berlangsung beberapa minggu atau bahkan lebih lama, tergantung respons Iran dan kondisi di medan tempur.Beberapa komandan militer juga mengakui bahwa kemampuan Iran untuk melakukan serangan balasan “sedang menurun” karena target-target strategisnya terus digempur oleh serangan udara terkoordinasi AS dan Israel (Al Jazeera).Selain itu, gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz dan dampaknya terhadap harga minyak menambah dimensi ekonomi yang tak terpisahkan dari konflik ini. Hal ini juga menggarisbawahi bahwa perang bukan hanya masalah militer, melainkan juga menyentuh kesejahteraan global.Keterlibatan negara-negara besar di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi dan peran potensial pemain global seperti Tiongkok dalam diplomasi menandai fase baru dalam pergeseran geopolitik internasional—di mana konflik-konflik regional dapat dengan cepat menjadi tantangan global yang lebih luas.