Siti Sumiati (38), warga Kampung Cikupa, Cigombong, Bogor, penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Foto: Kemensos RIBagi sebagian keluarga prasejahtera, datangnya bulan Ramadan sering kali diiringi dengan kekhawatiran tentang kebutuhan dapur yang meningkat. Namun bagi Siti Sumiati (38), warga Kampung Cikupa, Desa Cisalada, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi penopang penting agar keluarganya dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang.Siti telah menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH sejak Mei 2018. Ia tinggal bersama suami yang bekerja sebagai buruh serabutan serta lima anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan, mulai dari bayi yang baru lahir hingga anak pertama yang kini duduk di bangku SMA.Penghasilan suaminya tidak menentu. Jika ada pekerjaan, ia biasanya bekerja sebagai buruh bangunan atau membantu pekerjaan di sawah. Dari pekerjaan itu, penghasilan yang dibawa pulang untuk keluarga berkisar Rp 80 ribu hingga Rp120 ribu per hari.Dalam kondisi tersebut, bantuan PKH menjadi salah satu pegangan keluarga, terutama ketika suami sedang tidak ada pekerjaan.“Alhamdulillah sejak dapat PKH saya terbantu sekali. Kalau suami lagi tidak ada kerjaan, bantuan itu bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anak-anak,” kata Siti.Setiap pencairan bantuan yang diterima per tiga bulan, Siti berusaha mengatur penggunaannya sehemat mungkin. Prioritas utamanya adalah kebutuhan dapur serta biaya pendidikan anak-anaknya.Ketika bantuan cair, sebagian dana biasanya digunakan untuk melunasi kebutuhan yang sempat tertunda, seperti utang bahan makanan di warung. Sisanya digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya.“Biasanya bayar utang di warung dulu, baru sisanya beli beras sama kebutuhan dapur. Jadi sangat membantu,” ujarnya.Siti Sumiati (38), warga Kampung Cikupa, Cigombong, Bogor, penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Foto: Kemensos RIMemasuki bulan Ramadan, kebutuhan keluarga biasanya meningkat. Namun bantuan PKH yang disalurkan sebelum bulan puasa membuat Siti sedikit lebih lega karena ia memiliki pegangan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga saat sahur dan berbuka.“Kalau lagi tidak ada kerjaan, bantuan itu bisa dipakai dulu buat makan sehari-hari. Jadi ada yang ditunggu untuk kebutuhan keluarga,” tutur Siti.Selain untuk kebutuhan pangan, sebagian bantuan juga digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Saat bantuan cair, Siti menyisihkan dana untuk membayar biaya sekolah anak yang kini bersekolah di SMA serta membeli perlengkapan sekolah seperti sepatu, alat tulis, dan kebutuhan belajar lainnya.Ia bahkan mengaku tanpa bantuan PKH, kemungkinan besar ia tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang SMA.“Kalau tidak ada PKH mungkin anak saya hanya sampai SMP. Tapi karena ada bantuan ini, saya usahakan mereka tetap sekolah,” katanya.Harapan terbesar Siti sederhana. Yaitu anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikan dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik di masa depan.“Pengennya anak-anak punya pekerjaan nanti. Minimal lulus sekolah bisa kerja, supaya hidupnya lebih baik,” ujarnya.Secara nasional, pemerintah terus menyalurkan bantuan PKH kepada jutaan keluarga prasejahtera. Pada pencairan PKH tahap pertama tahun 2026, bantuan telah disalurkan di 38 provinsi kepada 9.351.607 KPM dengan total nilai Rp 6.990.509.700.000, berdasarkan pembaruan data hingga termin 5 per 24 Februari 2026.Bagi Siti, bantuan tersebut bukan sekadar angka dalam program pemerintah. Bantuan itu menjadi penopang nyata yang membantu keluarganya bertahan di tengah keterbatasan.Ia pun mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan para pendamping yang selama ini membantu memastikan bantuan sampai kepada keluarga yang membutuhkan.“Saya berterima kasih kepada pemerintah, kepada bapak presiden dan juga para pendamping. Bantuan ini sangat membantu kami untuk meringankan beban keluarga,” tuturnya.Di tengah kesederhanaan hidupnya, Ramadan bagi Siti bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia menjadi momen untuk bersyukur karena di tengah keterbatasan, masih ada bantuan yang membantu keluarganya bertahan dan menjaga harapan untuk masa depan anak-anaknya.