Gus Yahya: Kita Tak Punya Pilihan Selain Berjuang Sekuat Tenaga Supaya Damai

Wait 5 sec.

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya di Istana Negara Jakarta, Senin (1/9/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparanKetua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyoroti eskalasi konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.Ia menegaskan satu-satunya jalan yang harus ditempuh saat ini adalah menghentikan perang dan mendorong perdamaian."Kita ndak punya pilihan selain berjuang sekuat tenaga supaya damai, berhenti perang, berhenti, berhenti, berhenti perang, berhenti, damai sekarang. Tidak ada alternatif lain," kata Gus Yahya di sela buka puasa bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (5/3)."Karena kalau ndak begitu tidak ada yang selamat. Tidak ada yang selamat. Kita harus berhenti, kekerasan ini harus kita hentikan segera dengan cara apa pun yang mungkin," tambah dia.Gus Yahya juga menyinggung posisi Indonesia dalam forum BoP di tengah meningkatnya eskalasi konflik global. Menurutnya, apa pun instrumen yang dimiliki harus dimanfaatkan untuk mendorong perdamaian.Ia menilai forum internasional yang sudah ada tidak seharusnya ditinggalkan begitu saja, melainkan digunakan semaksimal mungkin untuk tujuan menciptakan perdamaian."Ya kita cari caranya memanfaatkan BoP untuk upaya perdamaian itu gitu. Apa pun yang sudah ada di tangan ini mari kita gunakan. Kalau kita butuh menggali lubang ndak ada skop, punyanya sendok, kita gali pakai sendok gitu. Kira-kira gitulah," tutur dia. "Jangan ada yang walaupun kelihatannya lemah lalu sesuatu yang sebetulnya bisa digunakan kita buang, ndak begitu caranya. Kita gunakan apa pun karena kepentingan untuk perdamaian itu absolut. Ya," ucapnya.Maksimalkan PBB dan OKIKetua MUI Cholil Nafis saat menghadiri Wisuda Akbar Standardisasi Dai MUI di Jakarta, Sabtu (30/11/2024). Foto: Dok. IstimewaSementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menilai bahwa posisi Indonesia dalam BoP perlu ditinjau ulang apabila forum tersebut dinilai tidak efektif dalam mendorong perdamaian.Ia menyampaikan Indonesia sebaiknya mengambil langkah yang lebih tegas apabila keikutsertaan dalam forum tersebut tidak memberikan dampak nyata terhadap upaya penyelesaian konflik."Saya kira soal BoP juga sama, kita minta ini tidak efektif ya keluar saja. Kemudian bagaimana bisa berperan Indonesia itu untuk masing-masing menghargai terhadap kedaulatannya masing-masing. Jangan sampai perang ini berdampak pada rakyat sipil. Kemudian kita berharap juga ini bisa menciptakan perdamaian dengan memaksimalkan peran PBB dan OKI karena semua akan rugi kalau ini perang terus berlangsung," tutur dia.Cholil juga menanggapi pertanyaan mengenai sikap sejumlah negara Islam seperti Arab Saudi dan Qatar yang tetap berada dalam forum BoP. Menurutnya, setiap negara memiliki pertimbangan masing-masing dalam menentukan posisi diplomatiknya.Namun yang paling penting saat ini, kata dia, adalah bagaimana menghentikan konflik yang berpotensi terus meluas."Ya kalau mereka kan urusan mereka di BoP yang kita pikirkan sekarang bagaimana bisa menghentikan perang karena mungkin Iran enggak mau berhenti sebelum membalas. Sementara Amerika dan juga Israel juga akan melakukan perlawanan, bagaimana bisa berperan aktif, ya bebas aktif Indonesia bisa mendorong perlawanan, memaksimalkan peran PBB, memaksimalkan peran OKI," tandas dia.