Ustadz Zahir Yahya: Perlawanan Warisan Terbesar Imam Ali Khamenei

Wait 5 sec.

Majelis berlangsung khidmat. Pada pembukaaan ceramah, Ustadz Zahir  mengutip ayat Al-Qur’an tentang keteguhan orang beriman dalam menepati janji kepada Allah.“Di antara orang-orang mukmin terdapat orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan ada pula yang menunggu. Mereka tidak mengubah janji sedikit pun.” (QS Al-Ahzab: 23).Menurut beliau, sebagian kaum Muslim di berbagai wilayah dunia, terutama di Republik Islam Iran, sedang merasakan duka mendalam atas syahidnya Imam Ali Khamenei. Kepergian tokoh tersebut dipandang sebagai kehilangan besar bagi umat Islam.“Kaum mu’minin di berbagai tempat merasakan kesedihan. Sosok besar telah pergi. Ini kehilangan yang sangat besar bagi umat Islam, khususnya bagi rakyat Iran,” ujar Ustadz Zahir.Beliau juga menyampaikan belasungkawa kepada para ulama, para mujahidin, serta berbagai elemen yang berada dalam barisan perjuangan melawan penindasan.“Kita menyampaikan ta’ziah kepada Sahib al-‘Asr wa al-Zaman, kepada para ulama, para mujahidin, serta kepada seluruh Poros Perlawanan atas kehilangan besar ini,” kata beliau.Meski duka terasa mendalam, Ustadz Zahir Yahya mengingatkan umat beriman agar tetap menerima ketentuan Allah dengan keteguhan iman. Musibah, menurut beliau, tidak menggoyahkan keyakinan seorang mukmin terhadap keputusan Ilahi.“Seorang mukmin tetap berserah diri kepada Allah. Musibah sebesar apa pun tidak menggoyahkan keyakinan kepada keputusan Rabb al-‘Alamin,” ujar beliau.Dalam tradisi Islam, lanjutnya, seorang mukmin diajarkan tetap memuji Allah dalam setiap keadaan.“Ungkapan Allahumma lakal hamd, Alhamdulillahi ‘ala kulli hal, serta Alhamdu lillahi ‘ala ma hakam mencerminkan kepasrahan seorang hamba kepada keputusan Allah,” tuturnya.Warisan PerlawananDalam ceramah tersebut, Ustadz Zahir Yahya menyinggung perjalanan panjang Imam Ali Khamenei yang mengabdikan lebih dari delapan dekade hidupnya untuk memperjuangkan agama serta menjaga Revolusi Islam Iran.Menurut beliau, wafatnya Imam Ali Khamenei tidak menutup perjalanan perjuangan yang telah dirintis selama puluhan tahun.“Kepergian beliau bukan akhir perjalanan. Peristiwa ini justru membuka babak baru dalam perjuangan yang harus dilanjutkan,” ujar Ustadz Zahir.Beliau menilai pelajaran paling mendasar dari Imam Ali Khamenei berkaitan dengan sikap perlawanan terhadap penindasan, dominasi, dan hegemoni kekuatan besar terhadap bangsa-bangsa lain.“Pelajaran utama dari Imam Ali Khamenei adalah perlawanan terhadap kezaliman, terhadap penindasan, serta terhadap hegemoni kekuatan yang menindas,” kata beliau.Selama lebih dari enam dekade kehidupan publiknya, Imam Ali Khamenei menanamkan kesadaran mengenai pentingnya budaya perlawanan bagi masyarakat yang ingin mempertahankan kedaulatan.Bagi Ustadz Zahir, perlawanan merupakan unsur penting dalam menjaga kemerdekaan dan kehormatan suatu bangsa.“Perlawanan menjadi kunci bagi kemerdekaan, kedaulatan, dan kehormatan setiap bangsa,” ujar beliau.Beliau juga menyinggung perjalanan politik Imam Ali Khamenei yang pernah menjabat Presiden Iran selama delapan tahun sebelum memimpin Republik Islam Iran sebagai Pemimpin Tertinggi selama lebih dari tiga dekade.Dalam masa tersebut, menurutnya, Imam Ali Khamenei memainkan peran penting dalam menguatkan berbagai gerakan perlawanan di kawasan.“Jika hari ini muncul berbagai gerakan perlawanan di sejumlah negara, fenomena itu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini dan kemudian dilanjutkan Imam Ali Khamenei,” ujar beliau.Perlawanan sebagai FitrahUstadz Zahir lebih lanjut menegaskan konsep perlawanan tidak semata berkaitan dengan dinamika politik. Dalam pandangan beliau, konsep tersebut juga berkaitan dengan fitrah manusia.Setiap manusia memiliki naluri mempertahankan diri dari ancaman. Dorongan tersebut merupakan bagian dari sifat dasar yang diletakkan Allah pada setiap makhluk.“Perlawanan merupakan bagian dari fitrah manusia. Setiap manusia memiliki dorongan untuk melindungi dirinya dari bahaya,” ujar beliau.Beliau mencontohkan fenomena tersebut melalui berbagai makhluk hidup di alam. Banyak hewan memiliki sarana alami untuk mempertahankan diri dari ancaman. Sebagian memiliki kuku dan cakar, sebagian memiliki tanduk, serta berbagai kemampuan lain untuk melindungi diri.Fenomena tersebut menunjukkan setiap makhluk diciptakan dengan kemampuan mempertahankan diri dari bahaya.Dalam ajaran Islam, konsep keteguhan menghadapi ancaman juga ditegaskan melalui sejumlah istilah dalam Al-Qur’an.Istilah seperti kesabaran (sabr), keteguhan (tsabat), serta perjuangan (jihad) menggambarkan sikap mempertahankan nilai dan keyakinan di tengah tekanan.“Kesabaran dalam Al-Qur’an bukan sekadar menahan diri. Kesabaran merupakan keteguhan mempertahankan nilai dan keyakinan ketika menghadapi kesulitan,” kata Ustadz Zahir Yahya.Beliau juga menyinggung perintah Al-Qur’an agar umat mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi ancaman. Persiapan tersebut tidak terbatas pada aspek militer. Kekuatan juga mencakup bidang ekonomi, budaya, spiritual, serta berbagai kemampuan sosial masyarakat._“Persiapan kekuatan dilakukan untuk melindungi diri dari agresi, bukan untuk menyerang pihak lain,” ujarnya.Melanjutkan Jalan PerjuanganPada bagian penutup ceramah, Ustadz Zahir mengajak umat Islam menjadikan wafatnya Imam Ali Khamenei sebagai momentum refleksi sekaligus panggilan untuk melanjutkan perjuangan.Menurutnya, kepergian tokoh tersebut meninggalkan kesedihan mendalam bagi banyak pihak. “Berat bagi kita menghadapi hari ketika kita mengirimkan Al-Fatihah untuk beliau,” lanjutnya.Namun menurut beliau, umat tidak boleh berhenti pada kesedihan. Generasi saat ini memikul tanggung jawab untuk menjaga jalan perjuangan yang telah dirintis.“Kini kitalah yang ditinggalkan. Saatnya menunjukkan kemampuan menjalankan amanah dan melanjutkan jalan perjuangan,” kata beliau.Ustadz Zahir menegaskan jalan yang telah dibuka tidak boleh berhenti. “Panji yang telah dikibarkan tidak boleh jatuh. Nilai perjuangan harus tetap dijaga dan diteruskan,” ujar beliau.Menurut beliau, umat Islam di berbagai wilayah dunia bersama rakyat Iran memikul tanggung jawab menjaga semangat perjuangan tersebut.Rujukan: Ahlulbait Indonesia