Fitch Ratings Pangkas Outlook RI Jadi Negatif, Ini Catatannya

Wait 5 sec.

Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings Foto: ReutersLembaga Pemeringkat Global, Fitch Ratings, merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating (IDR) tetap di level BBB.Dalam laporannya, Fitch menyoroti beberapa catatan. Lembaga itu memperkirakan kebijakan yang berhati-hati akan tetap dipertahankan, termasuk kepatuhan terhadap batas defisit fiskal 3 persen. Namun, Fitch menilai meningkatnya fokus pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ambisius 8 persen serta dorongan memperluas belanja sosial berpotensi menghasilkan bauran kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar, sehingga memunculkan risiko bagi stabilitas makroekonomi dan keuangan.“Peningkatan risiko ini tercermin dari masuknya revisi Undang-Undang Keuangan Negara dalam prioritas legislasi pemerintah tahun 2026. Pelonggaran signifikan terhadap kerangka fiskal yang telah lama berlaku, termasuk batas defisit 3 persen, berpotensi melemahkan kredibilitas kebijakan serta kemampuan pemerintah membiayai defisit yang lebih tinggi tanpa dukungan bank sentral,” tulis Fitch dalam laporannya, dikutip Rabu (4/3).Kemudian, Fitch juga memproyeksikan defisit fiskal Indonesia akan mencapai 2,9 persen dari PDB pada 2026, tidak berubah dari 2025 dan lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7 persen. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi pendapatan yang lebih konservatif akibat perlambatan pertumbuhan serta dampak jangka pendek yang terbatas dari upaya peningkatan kepatuhan pajak.“Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi serta meredakan ketegangan sosial pasca aksi protes tahun lalu diperkirakan akan meningkatkan belanja sosial, termasuk program makan bergizi gratis yang setara 1,3 persen dari PDB. Rencana percepatan belanja pada semester I-2026 juga dapat meningkatkan risiko pelebaran defisit,” sebut Fitch.Lebih lanjut, Fitch memproyeksikan rasio penerimaan pemerintah terhadap PDB rata-rata hanya 13,3 persen pada 2026–2027, jauh di bawah median negara berperingkat ‘BBB’ sebesar 25,5 persen. Lemahnya penerimaan dipengaruhi oleh rendahnya realisasi pajak, pembatalan kenaikan tarif PPN 1 poin persentase, serta pengalihan dividen BUMN sebesar 0,4 persen PDB ke Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.Adapun terkait Danantara, Fitch mencatat dana tersebut berencana menginvestasikan USD 26 miliar atau sekitar 1,7 persen dari PDB pada proyek hilirisasi di sektor mineral, energi, pangan, dan pertanian.“Namun, masih terdapat ketidakpastian apakah mandat dana ini akan diperluas ke depan untuk mencakup aktivitas kuasi-fiskal melalui investasi berbasis leverage guna mendukung prioritas kebijakan pemerintah, yang berpotensi mengurangi transparansi fiskal, konsistensi kebijakan, serta meningkatkan risiko kewajiban kontinjensi bagi negara,” jelas Fitch.Bursa Efek Indonesia Memerah Foto: Yasuyoshi Chiba/AFPDari sisi eksternal, Fitch memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 0,8 persen dari PDB pada 2026 akibat melemahnya ekspor bersih. Meski demikian, cadangan devisa dinilai masih memadai untuk menutup sekitar lima bulan pembayaran transaksi berjalan. “Risiko arus keluar modal dalam jumlah besar masih ada setelah volatilitas pasar domestik yang dipicu oleh kekhawatiran tata kelola pasar modal,” lanjut Fitch.Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dinilai menghadapi mandat yang semakin kompleks. BI mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75 persen sejak September 2025 dan diperkirakan akan memangkasnya menjadi 4,25 persen pada akhir 2026. Meski begitu, potensi perluasan mandat untuk mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja dinilai dapat menyulitkan BI dalam menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan sistem keuangan, terutama jika tekanan arus keluar modal meningkat.Di sisi lain, Fitch mencatat posisi utang pemerintah Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan negara setara. Rasio utang diperkirakan naik moderat menjadi 41 persen dari PDB pada 2026, di bawah median ‘BBB’ sebesar 57,3 persen.“Meski demikian, pembayaran bunga yang diperkirakan mencapai 17 persen dari total pendapatan pemerintah pada 2025 termasuk yang tertinggi dalam kategori peringkat ‘BBB’,” sebut Fitch.Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap stabil di kisaran 5 persen pada 2026–2027, dua kali lipat median negara ‘BBB’. Permintaan domestik, peningkatan belanja publik, investasi Danantara, serta pelonggaran moneter diperkirakan menopang pertumbuhan.“Namun, target pertumbuhan 8 persen pada 2029 dinilai sulit tercapai tanpa reformasi struktural yang signifikan,” ungkap Fitch.Terakhir, Fitch juga mencatat penurunan indikator tata kelola Indonesia, yang berada di persentil ke-44 berdasarkan indikator Bank Dunia, di bawah median negara ‘BBB’. Ketidakpastian kebijakan dan potensi ketegangan sosial dinilai dapat memengaruhi kekuatan institusi dan stabilitas politik ke depan.“Indonesia berada pada peringkat persentil ke-44, mencerminkan rekam jejak transisi politik yang damai, tingkat partisipasi politik yang moderat, kapasitas kelembagaan yang cukup, penegakan hukum yang telah mapan, tetapi masih diwarnai tingkat korupsi yang tinggi,” tulis Fitch.