Kangen Lebaran masa kecil: Ada ketimpangan di balik nostalgia hari raya

Wait 5 sec.

Ilustrasi keluarga sedang memasak untuk menyambut Lebaran. Anom Harya/Shutterstock● Jelang Lebaran, banyak konten di media sosial yang membangkitkan ingatan indahnya Ramadan di masa kecil kita.● Nostalgia tersebut bisa menjadi mengandung ketimpangan kelas.● Konten nostalgia Ramadan sebaiknya digunakan untuk melihat kembali nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan kedekatan dengan lingkungan sosial.Memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran, banyak unggahan video singkat di media sosial yang dapat seketika membangkitkan memori masa kanak-kanak kita, terutama para generasi X dan milenial.Contohnya adalah video singkat di Instagram yang menayangkan dua perempuan sedang memasak di tungku tanah liat dengan caption “Sore terakhir di bulan Ramadan”. Video lainnya menampakkan suasana hangat keluarga yang tengah makan bersama di atas tikar sederhana dalam rumah yang dinding-dindingnya masih terbuat dari gedek.Latar suaranya seringkali adalah lantunan takbir Lebaran lengkap diiringi tabuhan bedug, atau lantunan lagu “Al-Iftiros” atau “Tombo Ati” yang dilantunkan penyanyi Opick.Dari kolom-kolom komentarnya, kita bisa menilai bagaimana konten sederhana tersebut jadi portal bagi para warganet untuk ‘meromantisasi’ masa kanak-kanak mereka ketika menyambut bulan Ramadan serta Hari Raya Idulfitri.Konten nostalgia Ramadan dan Lebaran membuat kita merasa betapa indahnya masa kecil kita. Namun, hati-hati, di balik keindahan tersebut kita tidak sadar betapa banyak ketimpangan yang terjadi, seakan perayaan momen suci ini selalu menghadirkan kebahagiaan yang sama bagi setiap umat manusia.Mediasi ingatan masa kecilSebagai akademisi bidang komunikasi yang fokus pada kajian budaya populer, media, dan memori, saya berusaha menelusuri dan menganalisis komentar warganet di unggahan-unggahan semacam itu di platform Instagram.Saya menemukan bahwa tidak ada warganet yang memaknai Ramadan atau Lebaran di masa lalu mereka sebagai pengalaman spiritual atau religius. Kedua momen justru lebih identik dengan ingatan atas rasa keterhubungan sosial antarindividu melalui tradisi. Baca juga: Mengapa banyak orang merasa harus ‘tampil sukses’ saat lebaran? Misalnya, rasa hangat ketika keluarga besar masih komplit. Kita bisa buka menutup akhir Ramadan di rumah nenek-kakek, lengkap dengan seluruh saudara, dari pakde sampai bibi, dari sepupu tertua hingga yang paling muda. Rasa keterhubungan itu juga menampak ketika muncul konten-konten yang merepresentasikan tradisi-tradisi khas di Bulan Ramadan serta Lebaran semasa kita masih kanak-kanak. Mulai dari menabuh bedug keliling desa menjelang waktu sahur, jalan-jalan sehabis subuh, berburu tanda tangan ustaz atau imam masjid untuk buku kegiatan Ramadan, sampai berburu baju baru untuk merayakan Lebaran.Nostalgia bukan sekadar kegiatan mengingat, melainkan juga kegiatan ‘membangun’ imajinasi. Mustahil kita bisa merasakan masa lalu yang ‘hidup’ tanpa mengimajinasikannya.Dalam konteks ini, konten-konten nostalgia memfasilitasi imajinasi kita tentang bulan puasa dan Lebaran melalui video dan, dengan demikian, turut memediasi ingatan kita. Kita jadi merasa senang sekaligus getir membayangkan diri kita sedang berbuka puasa dengan keluarga lengkap, kemudian merayakan Idulfitri bersama dalam suasana yang sederhana tetapi hangat, sampai kebahagiaan kolektif ala anak-anak yang memperoleh baju baru. Baca juga: Mengapa kita mudah saling memaafkan saat Idul Fitri, tapi amat sulit di luar Lebaran? Membentuk cara kita merasakan duniaPengalaman emosional yang dihasilkan melalui konten-konten tersebut, secara reflektif, bahkan mampu membentuk cara kita merasakan dunia hari ini.Ketika masih menjadi anak-anak, cara kita merasakan dunia belum diinterupsi oleh jarak refleksi, beban tanggung jawab, atau kesadaran diri yang rumit. Baca juga: Jangan tanya kapan menikah dan punya anak–hindari pertanyaan tak berempati saat kumpul keluarga Sementara hari ini, banyak dari kita yang merasa tak terhubung dengan dunia sekitar, teralienasi karena waktu dan mental tersita oleh tuntutan kerja. Kita pun bisa jadi merasa kekurangan dukungan sosial sebagai manusia dewasa modern, dengan relasi antarsesama yang kerap kali hanya bersandar pada peran dan fungsi di masyarakat.Refleksi ketimpanganNostalgia juga bisa menjadi refleksi yang kompleks, karena bisa jadi mengandung ketimpangan kelas.Konten di Instagram memoles momen berburu baju Lebaran sebagai sebuah kebahagiaan kolektif yang penuh warna. Padahal, tradisi tersebut sejak dulu senantiasa menunjukkan ketimpangan: tidak semua orang mampu membeli baju baru.Bahkan, di antara yang mampu, banyak yang hanya sanggup memperoleh baju dari lapak pasar malam—pilihan yang lebih terjangkau bagi mereka yang harus menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan ekonomi.Begitu pula dengan kehangatan yang sering kita romantisasikan. Tidak semua orang punya keluarga yang utuh. Tidak semua mampu mudik atau merayakan Ramadan sampai Lebaran dengan cara yang dianggap “layak”, seolah-olah Lebaran di masa kecil selalu setara dan meriah bagi semua orang.Padahal, akses terhadap kebahagiaan Ramadan atau Idulfitri memang tidak pernah sepenuhnya merata. Algoritma media sosial seakan membuat kita berefleksi sebaliknya, bahwa momen Ramadan di usia kita saat ini tidak seindah di masa kecil. Jujur saja, masa yang kita rindukan itu mungkin tidak lebih ideal daripada hari ini.Refleksi progresifMeskipun kerap menjebak individu untuk meromantisasi masa lalu, nostalgia sebenarnya juga bisa menjadi tenaga untuk membangun masa depan. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan nostalgia sebagai refleksi progresif. Dalam konteks ini, teoretikus budaya asal Rusia-Amerika Svetlana Boym, mengajak kita untuk berpikir off-modernism: menolak narasi kemajuan lurus ala modernitas, lalu menoleh pada sisi-sisi sejarah personal yang terlupakan serta pada pengalaman yang tersisih.Dalam banyak konten nostalgia Ramadan atau Lebaran, yang ditampilkan biasanya hanya kenangan yang manis sebagai bagian dari suasana perayaan, bukan sisi spiritualnya. Padahal, ingatan tersebut juga sering menghilangkan berbagai kesulitan yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang.Karena itu, konten nostalgia Ramadan sebaiknya tidak hanya dinikmati sebagai kenangan indah, melainkan untuk merefleksikan masa lalu dan melihat kembali nilai-nilai yang dulu kita rasakan—seperti kebersamaan, solidaritas, dan kedekatan dengan lingkungan sosial.Nilai-nilai itu mungkin lahir di masa kecil, tetapi tetap bisa kita hidupkan kembali secara kreatif dalam kehidupan kita hari ini, meskipun kondisi masyarakat sudah banyak berubah. Baca juga: Korban bencana Sumatra menyambut Lebaran dengan cemas: Imbas pemulihan belum efektif Khumaid Akhyat Sulkhan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.